Masih dalam lamunan yang terdalam, Ara kembali membuka tabir lelaki tampan yang telah membidik panah asmara di dalam hatinya.
Hari yang cerah ini, enggan untuk gadis cantik itu melangkah ke tempat dirinya biasa menjual bunga-bunga di pasar.
Masih terkesima dengan apa yang telah dilihatnya tadi malam, gadis cantik yang memiliki bulu mata lentik, dengan paras wajah yang mirip boneka cantik. Dirinya sibuk memikirkan tentang perasaannya kepada pemuda tampan yang ternyata seorang Pangeran Naga Langit.
Duduk di kursi kayu yang menghadap kebun bunga yang dibuatnya, Ara mencoba untuk menggerakkan kaki dan keluar dari lamunan cinta.
Diambilnya peralatan berkebun serta pupuk untuk memperindah bunga-bunga yang akan dijualnya, disirami penuh dengan kasih sayang, seolah olah bunga yang berwarna warni itu paham akan tugas mereka supaya tumbuh dengan indah.
Kupu-kupu cantik pun mendekati Ara, sedang bernyanyi kecil di kebun bunga.
Dari kejauhan Pangeran Naga memandangi gadis cantik itu, sedari tadi dirinya telah berada dibawah pohon yang tidak begitu jauh dari rumah Ara.
"Akhirnya aku telah menemukanmu wahai pujaan hatiku..." Bisiknya dalam hati, dengan mata yang terlihat mengeluarkan api asmara kepada gadis yang sedang di amatinya.
Laksana bulan yang merindu secerca cahayanya yang telah lama tak tampak, namun sang bulan menunjukkan purnamanya agar terlihat sinar yang selama ini enggan tuk keluar.
Pangeran tampan itu pun, kini telah menemukan belahan hatinya yang telah lama bersembunyi, dibalik misteri cinta yang telah lama tersimpan di lubuk hatinya yang paling dasar, sehingga selama ini tak ditemui jejaknya.
Tetapi masih ada pertanyaan yang membenam dalam otaknya,
"Mengapa bola kristalku bisa berada di dalam tubuhnya... dan kini bersarang di dalam jantung Ara...?" Bisiknya dalam pantauan mata menatap gadis cantik itu.
Masih ada satu misteri lagi yang belum terpecahkan oleh Pangeran.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang...? Apabila bola kristal itu kuambil, pastinya aku harus kembali ke tempat asalku..."
"Namun, jika tak jua kuambil... Aku akan membatu di alam dunia ini..." bagaikan memakan buah simalakama, kembali fikirannya mencari jawaban dari sebuah teka teki ini.
Pangeran Naga Langit, mencoba mencari cara agar dirinya bisa mengambil bola kristal kepunyaannya di tubuh Ara, namun dirinya masih diberi izin oleh Raja Langit untuk menetap di alam dunia bersama gadis yang dicintainya.
Pangeran Naga langit pun menghampiri Ara yang sedang asik menyirami bunga-bunga indah itu, karena sayang jika hari dilewati tanpa bertemu dengan sang pujaan hati.
"Selamat pagi nona Ara, bagaimana kabarmu hari ini...?"
Gadis itu terkejut karena tiba-tiba mendengar suara lelaki yang baru saja masuk ke dalam benaknya, dan selalu menghantui dimana pun dirinya berada.
"Tuan Won, hmmm... maksudku Pangeran Naga Langit..." Dengan kepala yang menunduk memberikan rasa hormat, dirinya membalas sapaan pemuda itu.
"Jangan sungkan seperti itu nona Ara, panggil saja namaku..." Ujar Pangeran tampan itu, sembari memegang bahu Ara.
Gadis cantik itu pun tersipu malu, dirinya tertunduk malu sambil memegang bunga berwarna merah, yang menyerupai pipinya yang sedang merona.
Dirinya pun bertanya kepada pemuda tampan itu,
"Tuan Won... Setiap hari kau selalu menemuiku, apakah memang dirimu diutus oleh para Dewa untuk selalu menjagaku...?" Ujar Ara, memberikan pertanyaan yang membuat Pangeran Naga bingung untuk menjawabnya.
Pemuda tampan itu pun sempat tak berkata dalam beberapa saat, sambil memegang dagunya yang licin, dirinya bingung harus memberikan jawaban apa kepada gadis yang berada di depan matanya.
"Ya,, aku diutus untuk menjagamu..." Jawabnya tanpa berfikir panjang.
Ara pun tersenyum indah, seindah taman bunga buatan gadis cantik itu.
Pangeran Naga Langit membelai lembut rambutnya yang panjang, didekati tubuh gadis itu, seakan ingin membawanya terbang dan tinggal bersamanya di khayangan.
"Nona Ara..." Tangan lembut Pangeran membelai halus pipi gadis cantik itu, dan memegang dagu lancipnya.
Dikecupnya bibir mungil Ara, gadis cantik itu pun terlihat pasrah atas apa yang akan dilakukan oleh Pangeran tampan yang selalu meracuninya dengan buaian asmara.
Tubuh mungil Ara, di dekap erat oleh sang Pangeran. Tanpa pemberontakan gadis itu pun mendekap tubuh kekar pemuda itu.
Dihiasi mentari yang berwarna keemasan, dan embun pagi sejuk bagaikan berada di alam surga, kedua sejoli itu memadu kasih di taman bunga yang dihiasi bunga-bunga cantik, serta kupu-kupu berwarna warni.
Layaknya kisah cinta dua alam yang berbeda, mereka memadu kasih tanpa mengindahkan perbedaan yang jauh diantara mereka.
Seketika itu salah satu pasukan Langit turun ke bumi dan menghampiri Pangeran Naga..
"Maaf kan kami Pangeran..." Pasukan langit mengejutkan mereka berdua yang sedang asik b******u mesra.
Dilepasnya ciuman hangat itu oleh Pangeran.
"Ada apa gerangan kau datang kemari...?!" Ujar sang Pangeran dengan nada terheran.
"Maaf, Pangeran... Raja Langit mengutus saya untuk memberitahukan kepada Pangeran, agar segera menemukan bola kristal milik paduka Pangeran... Karena beberapa hari lagi di khayangan akan mengadakan acara penobatan Pangeran menjadi Dewa utama dari para Naga di khayangan...jika Pangeran tidak menghadiri dan tidak menemukan bola kristal itu, penobatan itu akan gagal... Dan harus menunggu seratus tahun lagi..." Pasukan langit pun memberitahukan titah dari Raja Langit kepada Pangeran Naga.
"Baik, terimakasih atas pemberitahuan yang telah kau sampaikan... Sekarang segeralah kembali ke khayangan, dan beritahu Raja Langit, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukannya..." Ujar Pemuda tampan itu, menunduk memberikan hormat atas titah Raja Langit, yang telah disampaikan oleh pasukan Langit.
Ara terkejut mendengar ucapan pasukan langit tersebut.
Setelah pasukan langit meninggalkan mereka berdua, gadis cantik itu berujar kepada Pangeran.
"Maksudnya apa Tuan Won...? Apa yang telah kau sembunyikan dariku...?" Tanya Ara dengan sorot matanya yang menunjukkan keingintahuan yang mendalam, apa sebenarnya yang
terjadi.
Pangeran tampan itu hanya terdiam mematung, entah apa yang harus diucapkan oleh nya. Apakah harus mengatakan yang sebenarnya terjadi, ataukah tetap menutupi kebenaran.
"Maaf, Tuan Won... Apa yang sebenarnya terjadi...?" Tanya Ara kembali, sambil menarik kedua tangan Pangeran.
Tanpa menghiraukan ucapan Ara, Pangeran Naga Langit memegang wajah gadis cantik itu, dan kembali mengecup bibirnya yang merona.
"Tuan Won, cukup... Ceritakan kepadaku...apa yang sudah kau sembunyikan dariku..." Ara menghentikan kecupan Pangeran dan menjauhi tubuhnya dari pemuda itu.
"Baiklah nona Ara, aku akan menceritakan semuanya... Alasan apa aku berada di alam dunia ini, dan bertemu denganmu..." Ujar Pangeran Naga, kemudian membelakangi Ara, sambil menyilangkan kedua tangannya kebelakang.
"Aku kemari sebenarnya mencari bola kristalku yang telah hilang dari tempat tinggalku di khayangan...beberapa bulan yang lalu pasukan langit telah turun ke alam dunia dan mencarinya..." Pangeran Naga mengawali cerita sebenarnya yang terjadi.
"Tetapi mereka tak berhasil, karena bertemu dengan mu... Mereka bercerita kalau kau bisa melihat mereka..." Ucapan Pangeran, mengingatkan Ara pada saat dirinya mendatangi pasukan Langit waktu itu.
"Aku pun penasaran denganmu,, dan akhirnya menemukan dirimu sedang berjualan bunga di pasar... Yang paling membuatku terkejut, ternyata bola kristalku berada di dalam tubuhmu..." Pangeran Naga memutar balik tubuhnya, dan mendekati Ara, serta menyentuh d**a gadis cantik itu.
Ara sangat tak habis fikir atas ucapan yang sudah dilontarkan Pangeran Naga.
"Jadi... Bola kristal itu berada di dalam tubuhku...? Lalu bagaimana aku bisa mengeluarkannnya...? Coba beritahu aku...?" Ucap Ara, yang tak ingin pemuda yang dicintainya itu kehilangan kesempatan menjadi seorang Dewa...