SENANDUNG CINTA

1083 Kata
Gelapnya langit dan pekikan lolongan anjing malam, menemani Pangeran terjaga. Nyanyian binatang malam terdengar merdu di kupingnya, pemuda tampan itu merebahkan tubuh kekarnya dipembaringan yang dialaskan kain sutra yang lembut. Tak terasa sudah berbulan bulan dirinya telah meninggalkan tempat dimana dia berasal, masih mengikuti senandung misteri cinta yang telah lama terkubur, yang kini terdengar alunannya kembali. "Aku harus segera mengetahui apa yang sudah terlupakan..."gumamnya, sembari melipatkan tangan kanannya menjadi bantalan kepala. Di tempat lain, Ara pun tak jua memejamkan mata indahnya, masih terbayang sosok lelaki yang masuk tanpa memberi salam di dalam benak. "Siapakah lelaki itu...? Mengapa tiba-tiba hadir di dalam ingatanku...?" Bisiknya dalam hati, sambil menatap indahnya bintang yang bertaburan menerangi langit malam. Kemudian Ara mencoba menutup mata dan mengingat, bayangan apa yang sudah melintasi fikirannya disaat dia menciptakan suasana yang bergejolak dengan pemuda tampan itu kemarin malam. Bagaikan cahaya kunang-kunang sedang bermain di taman bunga, tak dapat dia memaksakan ingatannya, agar terlihat jelas paras wajah lelaki yang berhasil masuk dalam benak, yang terlihat hanya cahaya indah membayang sosok lelaki. Kumpulan tumpukan kertas yang sudah usang, dibukanya kembali. Mungkin ditiap lembarannya, dia akan menemukan jawaban itu. "Apakah aku pernah mengenali pemuda itu...apakah ada yang sudah aku lupakan...?"Bisiknya dalam hati. Pangeran Naga Langit, terbang melesat bagaikan kilatan petir menuju dunia khayangan yang indah, dirinya hendak meminta persetujuan kepada Raja Langit, jikalau akan menetap di alam dunia untuk beberapa waktu. Dengan duduk bersimpuh pemuda tampan itu mendatangi si Empunya kekuasaan langit dan bumi, lalu berkata, "Wahai Paduka Raja, saya Pangeran Naga Langit meminta ijin agar diperbolehkan tinggal menetap di alam dunia... Dikarenakan saya sedang mencari bola kristal milik hamba yang telah hilang..." Raja Langit pun mengijinkan permohonan pemuda itu. "Silahkan wahai Pangeran Naga, namun dalam batas waktu satu tahunnya alam dunia kau tidak kembali ke khayangan... Dirimu akan membatu disana, jika tanpa bola kristal di tanganmu..."ujar Raja Langit mengejutkan Pangeran. Tersontak kepalanya menengadah ke arah Raja Langit, dan berkata, "Baik Paduka Raja, saya akan mengingat ucapan Paduka..." Pemuda itu mengatupkan kedua tangannya dan menunduk pergi. Disaat kembalinya ke alam dunia, tak lupa dia menyempatkan diri untuk melihat gadis cantik yang sudah berhasil menanamkan benih cinta di kebun hatinya. Terlihat Ara yang masih menjalani rutinitas kesehariannya, di pasar yang penuh lalu lalang manusia berlomba menawarkan barang dagangannya kepada calon pembeli. Pangeran Naga Langit pun berdecak kagum melihat kegigihan gadis cantik itu, kesopanan yang dimilikinya, senyuman ramah menghiasi wajahnya, dan jiwa yang selalu mempesona, membuat hati Pangeran luluh lantah. "Apakah aku harus mengambil bola kristal yang berada di dalam tubuhnya...?" Pemuda tampan itu masih terus bergumul dengan fikirannya yang gundah, bagaikan suratan takdir yang menyedihkan, jika mencintai gadis cantik itu hanya untuk sesaat. "Aku tidak bisa terus menahan cinta ini, sebelum memastikan siapa sebenarnya Ara, apakah ada sangkut pautnya dengan ingatan yang melintasi benakku ?..." Gumam pemuda tampan itu, bersembunyi dibalik bangunan-bangunan berlapiskan kayu. Disaat Ara hendak kembali pulang, karena matahari sudah tergelincir dan kembali ke dalam peraduan, Pangeran pun mengikuti langkah kaki gadis cantik itu dengan berjalan perlahan, namun dengan jiwa peka nya Ara, menyadari bahwa dirinya ada yang mengikuti dari belakang. "Siapa disitu...?" Ujar Ara memberhentikan langkahnya, tanpa menoleh kebelakang. Pangeran Naga pun menghentikan langkah kaki, dan berkata,, "Maafkan saya nona, bukan bermaksud mengikutimu...tapi saya takut jika nona bertemu dengan orang jahat dijalan..." Alasan yang membuat Ara tertawa lepas, karena firasatnya berkata, itu hanyalah karangan belaka. "Hahahaaa, Tuan... Mengapa harus diam-diam begitu mengikutiku...?" Ujar Ara sembari tertawa. Disaat gadis cantik yang berdiri di depannya tertawa geli, Pangeran Naga tertegun, mata tajam nya membulat. "Suara tawa itu...?!" Bisiknya pelan. "Nona Ara...kamuu..." Ujarnya mendekati gadis jelita itu. Layaknya seorang bayi yang mendengar suara sang ibu, Pangeran pun langsung mengenali tawa itu. "Nona Araaa..." kembali Pangeran memanggil namanya, karena mengenali suara tawa yang dikeluarkan oleh gadis cantik di depannya. " He...he...he...Ya Tuan Won..." masih merasakan lucu atas ucapan pemuda itu, Ara menjawab. Pangeran Naga Langit dengan cepat memeluk tubuh Ara dengan erat, kerinduan yang muncul dari dalam kebun cinta yang sudah lama tak bersemi, kini keluar dan menunjukkan wujudnya. Gadis cantik itu tak mengerti, apa yang sedang terjadi kepada pemuda tampan yang selalu menjadi hantu dibenaknya. Tangan halusnya pun memeluk lembut tubuh yang hangat penuh dengan api cinta yang membara. "Tuan, ada apa...? Aku baik-baik saja..." Alis Ara mengerut, melihat sikap pemuda itu terheran. "Aku merindukanmu..." Belum juga Pangeran melepaskan dekapannya. Ara membelai kepala pemuda itu, jantungnya berdegup kencang, seperti bertemu dengan belahan jiwa yang sudah ribuan tahun lama tak bertemu. Pangeran Naga kembali membasahi bibir gadis jelita yang berada dalam pelukannya. Ciuman hangat yang menggetarkan sukma, membuat bola kristal Pangeran Naga bergerak ke jantung Ara dan bersemayam di dalam nya. Obor cinta yang menyala, menghangatkan tubuh dua b***k cinta yang menggebu. Ara meneruskan permainan yang membara, sehingga taman cintanya bersemi menghadirkan warna pelangi yang indah. Bercahayakan bulan dan bintang gemintang di langit hitam, kedua insan melepaskan bara api cinta sehingga menambahkan hiasan malam. Pangeran Naga Langit tidak memberitahukan apa yang dia rasakan kepada Ara, tetapi suara tawa itu sangat tidak asing di kupingnya. Suara tawa itu jawaban dari senandung misteri cinta yang dia cari, dengan penuh keyakinan bahwa Ara adalah wanita yang selama ini telah membuat kebisingan di benaknya. "Ara, mau kah kau mampir ke rumahku ?...ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu..." Pinta Pangeran tampan itu. Ara dengan wajah yang dipenuhi rasa cinta menganggukkan kepalanya. "Woaahhh... Rumahmu bagus sekaliii Tuan Won..." Terkagum kagum Ara melihat isi tempat tinggal pemuda itu. Kedua bola matanya berlari lari mengelilingi apa yang ada di tiap sudut rumah. Dilihatnya banyak pedang dan lukisan naga menghiasi tiap sudut rumah itu. "Tuan Won, suka dengan naga..?... Woaahh bagus sekali lukisan ini, seperti nyata..." Ara terkesima dengan lukisan-lukisan bergambarkan naga. "Sedari kecil, aku menyukai lukisan naga... Tapi tidak pernah melihat yang sebagus ini..." "Jika aku bercerita mengenai naga kepada kedua orang tuaku, mereka hanya menertawakanku... Tapi aku yakin naga itu ada, walaupun aku belum pernah melihatnya..." Ujar Ara dengan raut wajah senang, karena telah mengetahui bahwa pemuda yang dia cintai pun memiliki kegemaran yang sama dengannya. "Nona Ara, lihat aku...perhatikan baik-baik..." Pemuda tampan dihadapannya, perlahan berubah menjadi sosok tampan yang mengenakan jubah Pangeran Naga. Dengan perisai berlambangkan naga di d**a, dan mahkota yang indah, baju yang terbuat dari sutra berwarna keemasan, tubuh kekar itu terlihat sangat gagah. Ara terpukau melihat perubahan pemuda tampan itu di depan matanya, tak menyangka bahwa pemuda tampan yang selalu bersamanya adalah seorang Pangeran. Pangeran tampan itu mendekati tubuh Ara yang masih terpukau. "Nona Ara, aku adalah Pangeran Naga Langit..." Ujarnya memperkenalkan siapa sebenarnya pemuda yang selama ini terus mengikutinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN