BAYANGAN CINTA

1076 Kata
Gemericik air yang menari nari di sungai, membuat hati Pangeran Naga Langit bersenandung cinta. Duduk terdiam mengamati alam yang terlukis indah, bentangan embun pagi mengiringi nyanyian burung kecil sembari menari nari di batang pohon kenari. Dahaga yang telah lama dirasakan, perlahan terbasuhkan semenjak pertemuannya dengan Ara. Entah itu takdir yang menyatukan mereka, ataukah Raja Langit sengaja menghilangkan bola kristal dari tempatnya dan dimasukan kedalam jiwa Ara. Hal aneh lainnya pemuda itu merasakan sesuatu yang telah terkubur lama dalam kuburan di jantung hati. Ilustrasi asmara yang terlintas seakan pernah ada, kini menjadi teka teki bagi dirinya, yang akan terpecahkan jika waktu berkata. Gadis berparas cantik itu terlihat akan melintasi pinggiran sungai dipagi hari ini. Dengan langkahnya yang gemulai perlahan menghampiri pemuda tampan yang telah mengisi relung hatinya. "Selamat pagi Tuan..." Ujar Ara, menyapa pemuda yang sedang duduk di bebatuan. "Selamat pagi nona Ara..." Balas Pangeran, menatap penuh pesona. "Apakah Tuan tinggal dekat sini...? Pagi sekali sudah berada di tepi sungai, sedangkan jarak sungai hingga ke tengah kota cukup jauh..." Ujar Ara, dengan lembut. Pangeran Naga tak begitu memperhatikan ucapan gadis cantik di depannya. Dirinya hanya melihat gerakkan bibir Ara yang tipis dan merona. Ara melambaikan tangannya, menyadarkan pemuda tampan itu yang sedang mengamati bibirnya. "Eh.. hmmm... Maaf ... Tadi berbicara apa nona ?..." Ara tersenyum, "Apakah Tuan tinggal dekat sini ?..." "Oh .. iya..iya... Saya tinggal di ujung jalan sana ..." Sambil menunjukkan posisi rumah, Pangeran gugup karena masih juga tertegun menatap wajah Ara. Padahal sudah sering kali dirinya memperhatikan gadis cantik itu dari kejauhan. Pohon-pohon yang rindang, serta hiasan bunga lily putih dipinggir sungai, menambah suasana romantis bagi mereka berdua. Matahari pagi sangat cerah, serta udara pagi hari yang sejuk. Melambatkan langkah kaki mereka berdua menuju tengah kota. "Tuan, boleh saya bertanya siapa nama Tuan?..." Ara mengutarakan pertanyaan yang sudah lama hendak diucapkan. "Won ... panggil saja saya Won.." jawab Pangeran, menunjukkan air muka yang bingung harus memakai nama siapa. "Baiklah, sekarang saya akan memanggilmu, Tuan Won ..." Gadis cantik itu kembali tersenyum manis. Membuat jantung Pangeran menari nari mengikuti detakannya, tak kuasa menahan rasa, pemuda tampan itu memberhentikan langkah kakinya dan mendekati tubuh gadis cantik dihadapannya. Ara pun terdiam mematung,, Dipegang lembut dagu lancip Ara, perlahan mengecup lembut bibir tipis gadis itu. Serasa menyalakan ribuan kembang api di malam hari menyambut perayaan tahun baru, meledak namun indah dipandang. Kedua sejoli itu b******u mesra ditemani nyanyian burung yang sedang berkicau, kupu-kupu yang berwarna warni turut bersorak melihat kemesraan mereka berdua. Rambut indah Ara, menutupi sebagian wajahnya, pemuda tampan itu pun membelai lembut rambut yang mengalingi indahnya karya Maha Agung yang terlukis di wajah gadis itu. Bagaikan meminum secawan anggur merah, Pangeran Naga telah mabuk dibuat keelokkan paras cantik Ara. "Hari ini engkau ingin berjualan bunga lagi...?" Tanya Pangeran Naga lembut. "Iya, saya harus berjualan bunga-bunga ini Tuan..." Sembari memegang bibir kecilnya, Ara perlahan mundur dari tubuh pemuda tampan itu. "Boleh kutemani...?" Tanya Pangeran, yang tak ingin gadis cantik di depannya mengalami kesulitan seorang diri. "Apakah tidak merepotkan Tuan..?" Kembali Ara bertanya. "Kebetulan hari ini aku memiliki waktu luang untuk menemanimu..." Senyuman Pangeran yang sempurna, membuat iri para pemuda manapun jika melihat pahatan indah sebuah karya Maha Agung, telah dia berikan kepada gadis cantik itu. Ara tertunduk malu dan kembali memberikan senyuman terindah yang dimilikinya. Hanya gerakan kepala yang memberikan isyarat setuju, mereka berdua pun menelusuri jalan setapak menuju tengah kota. Setibanya di pasar tempat biasa Ara berjualan bunga, para pembeli banyak mengunjungi bunga dagangannya. Selain membeli bunga, para pembeli yang umumnya wanita, tak luput memandangi ketampanan wajah sang Pangeran. Ara hanya tersenyum sendiri, hari ini berkat bantuan pemuda tampan itu, dia tak susah payah lagi memasarkan bunganya agar para pembeli tertarik kepada bunga yang dijualnya. "Terimakasih Tuan, Hari ini sudah membantuku berjualan..." "Aku tidak bisa membalasnya dengan apapun... Bagaimana kalau mampir ke rumahku, akan kuhidangkan kue beras buatanku..." Pinta Ara, ingin membalas kebaikan pemuda yang dikenalnya, karena berkat dirinya lah semua bunga daganganya habis laku terjual. Dengan sorot mata yang menunjukkan kebahagiaan, sang Pangeran pun langsung menerima tawaran Ara. "Boleh ... Boleh ... Dengan senang hati Ara..." Kembali menelusuri jalan setapak menuju tempat tinggal Ara, sorotan cahaya matahari senja begitu indah membelai wajah gadis jelita itu. Pangeran Naga berjalan beriringan dengan Ara, namun dirinya mempersilahkan cahaya matahari menyinari tubuh gadis yang berada disampingnya. Seketika itu terbesit, bayangan dejavu kembali menyerang benak sang Pangeran. Disaat matanya tertutup, terlihatlah bayangan dan suara tawa wanita kembali mengisi otaknya. Dia pun perlahan membuka mata, dan melihat sosok Ara yang sudah berjalan di depan. Gadis cantik itu menoleh kebelakang, karena menyadari pemuda yang tadi disampingnya telah menghentikan langkah kaki. Angin semilir menerpa rambut panjangnya yang kecoklatan, terlihat senyuman yang mengembang di wajah gadis cantik itu. "Apa yang salah di dalam fikiranku... Siapa wanita yang di dalam otakku, dan siapa sebenarnya gadis cantik yang berada di depanku...?" Bisik Pangeran di dalam hati. "Tuan, loh kok berhenti..." Sembari mengulurkan tangannya, gadis itu mengajaknya kembali melanjutkan perjalanan. "Hayo, nanti matahari terlanjur terbenam..." Digenggamnya tangan pemuda tampan itu, dan mempercepat langkah kaki mereka. "Ibu...ayah...Ara pulaang..." salam Ara kepada kedua orang tuanya. "Silahkan duduk Tuan, maaf rumahku kecil dan berantakan..." Ujar Ara memperlihatkan isi tempat tinggalnya. Selang beberapa menit gadis itu membawakan segelas teh panas dan kue beras buatannya. "Silahkan dinikmati Tuan, kue itu buatanku sendiri..." Ara berdiri disamping pemuda itu, sembari memberikan teh dan kue buatannya, dan kembali memberikan senyuman yang menggetarkan jantung Pangeran. Pemuda itu pun menikmati hidangan yang telah disiapkan Ara, sembari menatap dalam kedua mata gadis yang berdiri disampingnya. "Hmmm enak sekali... Pintar kamu membuat kue beras ini..." Puji pemuda itu. Pemuda tampan itu pun berdiri mendekati Ara yang masih terdiam disampingnya. Gejolak yang dinamakan cinta oleh para pujangga-pujangga cinta telah memabukkan isi kepala Pangeran Naga. Dielusnya pipi Ara yang halus sehalus sutra, dengan warna yang mulai berubah memerah menutupi kulitnya yang putih seputih salju. Membuat debaran jantung Pangeran makin bergemuruh. Perlahan langkah kaki mereka berdua menyudut ke pinggir tembok yang terbuat dari kayu mahoni. "Ara, siapa kamu sebenarnya...?" Bisik pemuda tampan di kuping gadis cantik itu, jantungnya yang kian berirama cepat membuat Pangeran ingin mencumbui tubuh Ara yang wangi. Bibir mereka pun beradu, tanpa kata. Gadis itu merasakan sesuatu hal yang aneh, lalu menghentikan ciuman hangat mereka. "Maaf Tuan, apakah kita sebelumnya pernah bertemu...?" Ujar Ara, sebab tiba-tiba terlintas pula sosok bayangan pemuda di dalam benaknya. Pemuda itu berlari mengejarnya, dan bercanda dengan riang, mendekap dan menggendongnya. Seakan alam semesta menikmati kemesraan yang terjadi. "Bertemu..? Kapan...?" Pangeran Naga Langit mengerutkan dahinya,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN