PANAH ASMARA

1049 Kata
Dalam gendongan Pangeran Naga, Ara merasa hangat, tak hentinya mata sang Pangeran menatap wajah Ara, yang terkulai lemas tak bertenaga. Tiap sudut wajahnya begitu cantik, jantung Pangeran pun berdebar kencang. Entah apa yang terjadi pada dirinya, sehingga terpanah memandangi wajah elok gadis itu. Setibanya di depan pintu rumah Ara, sang Pangeran belum juga menurunkan gadis itu dari gendongannya. Ara pun tersadar, matanya terhenti sesaat menatap wajah Pangeran Naga. Kedua mata saling beradu pandang, laksana panah cupid sedang menusuk tiap relung hati dua sejoli. Debaran jantung Ara pun terdengar jelas dikuping Pangeran Naga, dia pun merasakan hal yang sama. "Apakah ini yang dinamakan cinta...?" Bisik Pangeran Naga di dalam hati. Tanpa sadar, bibir mereka saling bertemu. Kecupan indah di malam yang dingin, menghangatkan suasana berdua. Ara pun seperti terhipnotis dengan suasana, bola kristal yang berada di dalam tubuhnya, semakin terang bersinar. Pangeran Naga pun menghentikan ciuman hangat itu, diperhatikannya cahaya bola kristal miliknya. "Jika, aku ambil ...?" "Jangan, biarkan itu tetap berada dalam tubuhnya ... Aku ingin selalu bertemu ..." Kembali Pangeran Naga berkata dalam hati. "Tuan, maaf kan... Sa...saya sudah lancang..." Ara memegang bibirnya dan turun dari gendongan pemuda tampan yang baru dia temui. "Tidak mengapa nona..." Senyuman indah dari Pangeran terlihat damai dimata Ara. "Sekarang, masuklah ke dalam rumah, istirahatlah ..." Ujar Pangeran sambil mendekap dengan hangat tubuh Ara yang dingin. Di dalam kamar, Ara terbayang-bayang wajah tampan pemuda yang telah membeli semua bunga yang dijualnya, kemudian menemaninya pulang. Mata tajamnya yang terlihat jantan, hidung mancung, kulit putih seputih salju. Wajah yang tak akan bisa dia lupakan, bayangan itu akan selalu menemani tiap tidur malamnya. Langit malam yang cerah, dengan suasana dingin selepas hujan, membuat Ara tidak jua memejamkan mata. Gadis cantik itu tersipu sipu sendiri, karena mengingat ciuman indah, yang kali pertama dirasakan olehnya. Dipandanginya kerlip bintang yang bertebaran di atas langit, membuat suasana hati Ara mabuk kepayang oleh panah cinta yang tepat menusuk jantungnya. Sedangkan Pangeran Naga Langit di dalam peraduannya, tidak lagi mengingat bola kristal yang dia cari, namun selalu terbayang wajah gadis cantik yang barusan digendongnya. "Wajah itu..." Seperti dejavu, Pangeran merasakan pernah melihat wajah cantik Ara. Tapi entah dimana, perasaan yang melanda hatinya pun seperti sesuatu yang pernah dia rasakan sebelumnya. "Aku harus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi..." "Mengapa diri ini seperti mengenali gadis itu..?" Ujar Pangeran Naga, sembari duduk termenung diatas ranjangnya. Masih dalam keingintahuan yang mendalam, Pangeran pergi mendatangi Dewa penjaga buku perjalanan masa lalu makhluk yang ada di bumi, maupun di khayangan. "Maaf Dewa, apa boleh daku bertanya...?" Ujarnya. "Ada apakah gerangan, kau bertandang ke tempatku ...?" Ujar Dewa penjaga buku masa lalu. "Aku ingin bertanya, apa yang terjadi pada masa laluku, apakah aku pernah bersama seseorang kekasih, ataukah aku pernah menikah dengan seseorang ?..." Tanya Pangeran Naga kepada Dewa penjaga buku masa lalu. "Maaf, Pangeran... Saya tidak bisa membukanya, karena ini adalah sebuah rahasia Langit, yang tak boleh diketahui oleh siapapun ..." Ucap Dewa penjaga buku masa lalu, sembari mengatupkan kedua tangannya kepada Sang Pangeran. Karena mendengar penjelasan yang membuatnya semakin penasaran, akhirnya Pangeran Naga turun ke bumi, dan mencari kebenaran yang pernah terjadi antara dirinya dan gadis yang sekarang berada di dalam hatinya. Kini Pangeran Naga Langit, tinggal di bumi, dibuatnya tempat tinggal yang nyaman, dekat dengan tempat tinggal Ara, agar dia selalu dapat bertemu dengan gadis itu, dan mencari jawaban atas pertanyaan yang menggelayut di dalam benaknya. Setiap saat, Pangeran memperhatikan tiap gerak-gerik yang dilakukan oleh Ara. Bagaikan mata elang yang sedang menunggu mangsa, mengamati dari kejauhan siapa sebenarnya gadis cantik yang bernama Ara. Pagi hari sebelum matahari terbit, gadis itu sudah sibuk memetik berbagai macam jenis bunga di kebun miliknya, yang akan dijualnya di pasar, kemudian sang ayah bersiap pergi ke sawah, untuk menyemai padi dan menggarap sawah yang sudah menguning. Sedangkan ibunya rutin memberikan makanan hewan ternak mereka, sebelum sang pejantan berkokok menyambut matahari pagi. Keluarga Ara adalah keluarga kecil yang memiliki semangat tinggi dan saling mencintai. Gadis itu anak tunggal yang giat bekerja dan senang membantu kedua orang tuanya. Hingga suatu ketika, disaat laki-laki tampan itu memperhatikan Ara, tiba-tiba ada sesuatu ingatan yang membayang dibenak Pangeran. Suara tawa wanita yang khas, seperti berbisik lembut di kupingnya. Terbayang seseorang wanita cantik, dengan rambut kecoklatan terurai panjang, mengenakan baju berbahan sutra nan halus dan putih, sedang berlari larian mengejar kupu-kupu yang berwarna warni, dan bercanda riang gembira dengannya. Ingatan yang timbul seketika membuat kepala Pangeran Naga terasa begitu sakit, seperti tertusuk duri tajam, "Apa yang barusan yang aku rasakan...?" Bisiknya, penuh dengan rasa kebingungan dan penasaran. Mungkin ada kejadian masa lalu yang sudah tertutup oleh waktu ataukah sudah ada yang sengaja mengambil ingatannya, apa mungkin kenangan itu adalah sebuah kesakitan dan tak layak untuk diingat kembali, ataukah sebuah kenangan indah namun ada seseorang sengaja untuk menyudahi keindahan yang sudah dia lalui. "Apakah wanita yang kulihat itu adalah gadis itu...?" Dengan keras Pangeran Naga mencoba untuk mengingat masa lalunya. Disaat Ara selesai berjualan di pasar, pemuda tampan itu mendekatinya. "Selamat sore nona Ara..." Sapanya dengan lembut, dia mengikuti dari belakang. Langkah kaki Ara pun terhenti, dan membalikkan badan, betapa senangnya hati Ara yang akhirnya bertemu kembali dengan pemuda yang sudah memperkenalkan dirinya dengan cinta, dan kelembutan ciuman pertama yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Selama ini dia buta akan cinta, karena sejak kecil selalu menyibukkan diri membantu kedua orang tuanya mencari uang, agar dapat membiayai kehidupan yang harus terus berjalan ini. "Tuan..." Dengan mata yang menunjukkan rasa bahagia seperti kerlip bintang yang menghiasi malam yang cerah, gadis cantik yang berwajah mungil itu tersenyum menyapa pemuda tampan yang sedang menghampirinya. Dengan kekuatan yang dimiliki oleh Ara, dia telah merasakan pemuda yang dihadapannya bukanlah orang asing yang baru pertama kali dia temui. Ada sesuatu rasa yang tak biasa pun muncul semenjak pertama kali dia menatap dalam mata Pangeran Naga. Pemuda tampan itu, belum memperkenalkan diri siapa dan darimana asalnya, namun Ara tak juga menanyakannya. Karena dia yakin, pemuda itu adalah laki-laki yang baik. Panah asmara cupid, tak henti-hentinya menusuk jantung dua insan yang saling menyatukan pandangan dibawah bulan purnama. Layaknya sepasang kekasih yang sudah lama terpisahkan oleh takdir, dan dijauhkan oleh kenyataan, kemudian dipertemukan lagi oleh waktu. Benih yang sudah lama tertanam dan tak kunjung jua bersemi di dalam kebun cinta yang berada di dalam hati mereka, kini sedang menunjukkan kepala tunas yang akan tumbuh menjadi bunga cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN