Suasana di istana khayangan saat itu sedang dalam kekacauan, bola kristal Pangeran Naga Langit hilang dan terlempar ke alam dunia.
"Para prajurit, saya utuskan kalian mencari bola kristal milik saya ... !!"
Titah sang Pangeran kepada para prajurit Langit.
Jika bola itu sampai jatuh ke tangan para siluman yang tidak bermoral, dunia akan hancur dibuatnya.
Petir menyambar, serta gemuruh menggelegarkan seisi alam dunia. Prajurit langit pun turun ke bumi untuk mencari bola kristal kepunyaan Pangeran.
Angin kencang menerjang disetiap batang pepohonan, disebuah desa bawah kaki gunung yang letaknya di negri antah berantah.
Dimana masyarakat disana gemar bercocok tanam, dan menanam padi untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka.
Awan hitam yang menggelayuti awan di siang hari, telah menghentikan kegiatan para penduduk desa. Banyak yang kecewa dan sedih atas perubahan langit secara tiba-tiba.
Entah siapa yang sudah mencuri bola kristal Pangeran Naga Langit, sehingga terlempar ke alam dunia.
Secara kasat mata, para prajurit yang diutus ke bumi tak dapat terlihat oleh penduduk desa.
Namun, hanya satu orang yang dapat melihat para prajurit tersebut sedang sibuk mencari bola kristal.
Seorang gadis berparas cantik, yang memiliki tubuh elok, dan mata yang indah, dia sedang mengamati kegiatan mereka.
Gadis itu bernama Ara,,
Keseharian Ara, sebagai gadis penjual kembang di tengah desa. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya di pinggir desa, dimana ayah seorang petani, dan ibunya seorang ibu rumah tangga yang mengurus hewan ternak di peternakan milik mereka.
Ada beberapa domba yang dipelihara, demi menambahkan biaya kebutuhan hidup, sedangkan Ara gemar menanam kembang di kebun buatannya sendiri, sehingga dapat dijual di pasar.
Ara memiliki kelebihan dapat melihat makhluk tak kasat mata, sampai wujud seorang dewa.
Dalam pencarian bola kristal ditengah desa yang diguyuri hujan, Ara mendatangi salah satu prajurit langit, dan berbicara kepadanya,
"Apa yang kalian cari ke bumi ...??" "Sehingga kami tidak bisa berjualan karena hujan turun dengan lebat ..."
Prajurit tersebut terkejut, karena wujudnya mampu diliat oleh gadis itu. Mereka kocar kacir langsung pergi ke khayangan, dan segera melapor kepada Pangeran, bahwa ada manusia yang mampu melihat mereka.
"Pangeran Langit ... maaf kami tidak menemukan bola kristalnya, namun kami kembali ke istana, dikarenakan ada seorang gadis bumi yang mampu melihat kami ... Sehingga untuk saat ini kami tidak bisa meneruskan pencarian ..." Prajurit itu melaporkan hasil pencarian mereka.
Bak patung dipahat dengan sempurna, wajah Pangeran termenung dan penasaran dengan gadis yang diceritakan oleh prajuritnya.
Tanpa basa basi dia pun turun ke bumi, menemui sang gadis yang dimaksud.
Dibawah gerimis yang membasahi tanah bumi, Pangeran melihat gadis cantik yang sedang berjualan kembang di pasar tengah desa.
"Pasti itu, gadis yang dibicarakan para prajurit langit ..." Bisiknya dalam hati.
Namun aneh, disaat memperhatikan gadis itu, ternyata bola kristal yang dia cari berada pada tubuhnya.
Cahaya terang yang terpancarkan dari bola kristal, terlihat jelas. Bola itu berada di dalam tubuh Ara.
"Bagaimana bisa bola kristal tersebut berada di dalam tubuh gadis itu...?" Gumam pangeran.
Ketika hendak mengambilnya dari tubuh Ara, Pangeran melihat sosok makhluk lain yang sedang mengamati bola kristal yang berada di dalam tubuh Ara.
Ketika makhluk itu ingin menculik tubuh elok si gadis jelita, Pangeran dengan sigap menghancurkan tubuh siluman tersebut, sebelum menyentuh tubuh gadis yang menyimpan bola kristal miliknya.
Wajah polos dan cantik, dengan untaian rambut yang dikepang dua. Pangeran terpesona melihat paras gadis yang sedang diawasinya.
"Siapa gerangan gadis itu, mengapa bola kristal milikku ada di tubuhnya ...?"
Pangeran memandangi Ara, penuh rasa heran.
Senja tiba, namun Pangeran tak jua beranjak mengawasi gadis cantik itu, ingin dia mengambil bola kristal dalam tubuhnya, namun hati enggan untuk menggerakan kaki. Walaupun diawal rencana dia hendak mengambil bola kristal di tubuh gadis itu, tetapi ada rasa yang tak biasa sedang membisiki kuping.
Pangeran pun merubah wujudnya menjadi sosok saudagar kaya yang hendak membeli bunga yang dijual oleh Ara.
Pangeran pun mendekati Ara, terlihat gadis cantik itu sedang sibuk merapihkan barang dagangannya, hendak bergegas kembali pulang ke rumah.
"Maaf, nona ... Bisa saya membeli bunga yang kau jual ?..."
"Silahkan Tuan, pilih mana yang kau sukai ... " Ujar Ara lembut nan ramah, dia pun tersenyum, senyuman indah dari bibirnya yang merona membuat detak jantung Pangeran bergetar.
"Saya ingin membeli semua bunga ini ... Ucap Pangeran, menatap Ara tak berkedip.
"Hah... Semuaa ...?!"
"Baik.. baik ... Tuan ..."
Betapa senang hati gadis jelita itu, dengan semangat dia merapihkan bunga-bunga yang hendak dibeli oleh pemuda kaya di depannya.
Dengan gaya Pangeran seperti itu, Ara tak sedikit pun curiga bahwa pemuda itu adalah Pangeran Naga.
"Maaf Tuan ... bunga yang begitu banyak ini, hendak memakai apa Tuan membawanya ?..." Ujar Ara.
"Kalau boleh, saya antarkan bunga ini ke rumah Tuan mengenakan gerobak yang saya bawa ..." Gadis cantik itu menawarkan diri.
"Tidak perlu ... Nanti ada yang akan mengambilnya ... Tinggalkan saja disini ..." Ujar Pangeran tampan itu.
"Hari sudah menjelang malam ... Dimana rumahmu ...?"
"Mari saya temani pulang, bahaya jika seorang gadis sendirian berjalan di kegelapan malam ..." ujar Pangeran hendak mengantar Ara pulang dengan selamat.
"Maaf Tuan, bukannya saya menolak ... Tapi saya sungkan, karena tak pantas orang miskin seperti saya, berjalan dengan Tuan... " Sembari menunduk, Ara menolak dengan lembut ajakan Pangeran Naga.
"Jangan khawatir nona, sebab akhir-akhir ini banyak orang jahat yang sedang berkeliaran di malam hari ..." Pangeran memberikan alasan lagi,agar Ara mau menerima ajakannya.
Karena dilihatnya matahari sudah mulai terbenam, Ara menerima tawaran pemuda tampan yang sudah membeli semua bunga dagangannya.
Sepanjang jalan Ara hanya terdiam, menunduk ke tanah. Pangeran pun bertanya,
"Siapa namamu nona ...?"
"Saya ... Saya Ara ..."
Ujar gadis itu gugup.
"Boleh saya memanggilmu nona Ara ...?"
Tanya Pangeran.
"Silahkan Tuan ..." Jawab Ara yang masih tertunduk sungkan.
Dingin malam menyerang tiap persendian Ara, gadis cantik itu lemas... Karena badannya yang letih, seharian menunggu hujan tak kunjung reda, sedangkan bunga yang dijual tak kunjung jua ada yang membelinya.
Pemuda kaya yang sedang menemaninya pulang, bagaikan malaikat bagi Ara di hari ini.
Tubuh lemasnya terjatuh di atas rerumputan yang basah, belum kering selepas hujan mengguyuri bumi.
Pangeran naga dengan cepat menggapai tubuh molek gadis cantik yang mengenakan baju merah muda, dan rambut yang tergerai setengah, dan setengahnya lagi di kepang diatas, menambahkan pesona wajah cantiknya.