bc

Cinta Yang Bersemi Kembali

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
age gap
brave
mafia
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
city
office/work place
rebirth/reborn
like
intro-logo
Uraian

"Kadang mimpi yang indah bisa terhenti begitu saja, tapi tak pernah duga pertemuan tak sengaja bisa jadi awal dari sesuatu yang tak terduga... 😊✨ #BayangBayangCinta #HadiahYangTakTerduga"

chap-preview
Pratinjau gratis
Hadiah yang Tak Terduga
Suara riuh penggemar bergema di telinga Daffi. Cahaya sorot panggung menerpa wajahnya saat tangannya menggenggam mikrofon dengan erat, menyanyikan bait terakhir dari lagu hits mereka. Barisan pemain musik di sebelahnya masih memukul irama dengan penuh semangat, sementara ribuan tangan bergoyang mengikuti irama di bawah panggung. "Tuhan, ini rasanya luar biasa!" bisik Daffi dalam hati, tepat saat dia akan mengangkat tangan untuk memberikan sapuan akhir yang penuh semangat. Namun, tak terduga, kakinya terpeleset di bagian tepi panggung. Badannya terpental ke depan dan— "Bruk!" Daffi terbangun dengan napas tersengal-sengal. Keringat menetes di dahinya saat matanya perlahan menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang menyelinap melalui celah tirai kamar. Ternyata semuanya hanya mimpi. Matanya melirik ke arah jam dinding yang terpasang di seberang ranjang. Jarum jam menunjukkan pukul 05.57 pagi. "Wah, hampir jam enam!" ucapnya pelan sambil segera beranjak dari ranjang. Tubuhnya masih terasa sedikit goyah akibat kejadian dalam mimpi tadi. Tanpa berlama-lama, Daffi bergegas keluar kamar menuju kamar adiknya, Satria. Dia ingat betul bahwa hari ini adalah hari penting—adiknya harus pergi sekolah lebih awal karena ada kegiatan ekstrakurikuler pagi hari. Ketika membuka pintu kamar Satria, Daffi melihat sang adik masih terlentang di ranjang dengan wajah rileks, bahkan masih menyandarkan kepalanya pada bantal. "Sat! Bangun cepat! Kalau terlambat kamu akan ketinggalan sekolah!" seru Daffi sambil mendekatkan diri ke ranjang. Namun, Satria hanya mengerutkan kening dan sedikit membuka mata. Dengan nada santai ia menjawab, "Kak, kamu kagok ya? Hari ini kan hari Sabtu. Libur sekolah lho." Daffi terkejut mendengarnya. Ia mengerutkan dahi, mencoba mengingat kalender yang ada di dinding ruang tamu. Tapi pikirannya yang masih bingung akibat mimpi tadi membuatnya mudah terpengaruh. Tanpa berpikir panjang lagi, ia mengangguk dan berkata, "Oh ya juga ya... Maaf ya Kak gangguin tidurmu." Dengan hati yang lega karena mengira tidak ada yang terlambat, Daffi pun keluar dari kamar adiknya, tak menyadari bahwa dirinya telah tertipu. ...Dengan hati yang lega karena mengira tidak ada yang terlambat, Daffi pun keluar dari kamar adiknya, tak menyadari bahwa dirinya telah tertipu. Baru beberapa langkah masuk ke ruang tamu, tantenya yang lagi memasak di dapur mengeluarkan kepalanya dan berkata, "Daffi, sudah bangunkan Satria belum? Dia harus cepat bersiap kalau tidak akan terlambat ke sekolah!" Daffi menoleh ke arah tante dengan wajah bingung. "Tante kenapa membangunkan Satria kembali? Bukankah ini hari Sabtu dan hari Sabtu adalah hari libur sekolahnya Satria ya, tante?" tanyanya dengan suara polos. Saat itu paman yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar pertanyaannya dan langsung menjawab, "Eh Daffi, dengar ya! Hari Sabtu apaan? Ini hari Selasa dong! Dari mana kamu dapat informasi itu? Cepat sana bangunkan adikmu, lalu sarapan. Kau juga kan hari ini kerja bukan?" Daffi merasa wajahnya menjadi panas karena tersadar telah dibohongi oleh Satria. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan bergegas kembali ke kamar adiknya. Namun ketika membuka pintu, Daffi melihat Satria sudah berdiri dengan seragam sekolah yang rapi. Ternyata sang adik telah mendengar percakapan tante dan paman dari dalam kamar. Sebelum Daffi sempat mengeluarkan kata-kata marah, Satria segera mengangkat kedua tangan dengan plastik kantong isi makanan kecil di tangannya. "Maaf Kak... Aku hanya ingin istirahat sebentar aja. Ini makanan kesukaan Kak lho, aku beliin dari warung depan kemarin dan simpen buat hari ini," ujar Satria dengan wajah minta maaf. Daffi yang awalnya marah langsung mencair melihat wajah kesalihan adiknya. Ia menghela napas dan mengangguk, "Baiklah, tapi jangan lakukan lagi ya! Sekarang cepat kita pergi, sudah jam enam tepat!" Keduanya segera keluar rumah dan menaiki sepeda ontel tua yang merupakan peninggalan ayah mereka. Sepeda itu sedikit berisik tapi tetap kuat, menjadi teman setia mereka dalam setiap perjalanan. Tiba di persimpangan lampu lalu lintas, mereka berhenti saat lampu menunjukkan warna merah. Saat itu, sebuah mobil mewah berhenti di sebelahnya. Daffi melihat seorang wanita cantik di dalam mobil yang sedang memperbaiki riasan wajahnya dengan cermin kecil. Satria yang melihat dari belakang segera mengoceh, "Kak, lihat dong mbaknya dandannya kayak menor banget! Bolehkah aku bilang biar dihapus aja?" Tanpa menunggu izin, Satria langsung menyapa wanita itu, "Mbak, makannya dandannya dihapus aja dong, lebih cantik kalau alami!" Wanita itu sedikit terkejut lalu menoleh dengan wajah angkuh, kemudian hanya menghela napas dan menghadapkan wajahnya kembali ke depan. Tak lama kemudian lampu berubah menjadi hijau, keduanya melaju dengan sepedanya sementara wanita itu juga mengemudikan mobilnya. Wanita itu mengarah ke arah kampus, sementara Daffi mengantar Satria terlebih dahulu ke sekolah. Setelah itu, ia akan melanjutkan perjalanan ke sebuah showroom kendaraan tempat ia bekerja sebagai petugas pelayanan pelanggan. ...Setelah itu, ia akan melanjutkan perjalanan ke sebuah showroom kendaraan tempat ia bekerja sebagai petugas pelayanan pelanggan. Waktu terus bergulir dan sudah menunjukkan pukul delapan malam. Daffi mulai membersihkan meja kerjanya dan menyusun dokumen-dokumen penting, siap untuk pulang ke rumah. Namun, tepat sebelum ia mengambil jasnya, bosnya Pak Malik mendekat dengan wajah yang sedikit serius. "Daffi, maaf ya baru bilang sekarang. Besok ada tugas khusus untukmu. Kamu harus mengantarkan mobil baru yang jadi hadiah untuk keponakanku. Alamatnya aku akan kirim ke hp-mu nanti," ujar Pak Malik sambil memberikan kunci mobil beserta berkas-berkas penting. Daffi langsung mengangguk dengan sopan, "Tidak apa-apa Pak, saya siap menjalankannya." Keesokan harinya, setelah melakukan persiapan menyeluruh, Daffi mengemudikan mobil baru tersebut menuju alamat yang diberikan. Setelah beberapa saat berkendara, ia tiba di sebuah rumah besar dengan taman yang rapi. Ketika hendak menekan bel pintu, ternyata pintu sudah terbuka dan suara seorang pria terdengar dari dalam, "Apakah kamu dari showroom Pak Malik? Silakan masuk saja!" Pria itu adalah Mr. Arjun—kakak ipar Pak Malik yang memesan mobil sebagai hadiah. Daffi mengikuti Mr. Arjun ke dalam rumah dan menyampaikan semua berkas serta kunci mobil. Baru beberapa saat kemudian, seorang wanita datang dari arah kamar atas. Daffi terkejut karena mengenal wajahnya—ia adalah wanita yang berpapasan dengannya dan Satria di jalan kemarin. Wanita itu juga tampak sedikit terkejut melihatnya. "Sayang, datang sini!" panggil Mr. Arjun pada wanita itu. "Ini Titah, putriku yang hari ini ulang tahun ke dua puluh," ujarnya sambil memperkenalkannya pada Daffi. Mr. Arjun kemudian berdiri dan menghadap putrinya dengan senyum hangat. "Bagaimana sayang, apakah kau menyukai hadiah yang ayah berikan untukmu?" tanyanya dari ruang tengah yang luas. Titah mengangkat wajahnya dengan senyum ceria yang membuat wajahnya tampak lebih cantik ketimbang kemarin. Ia mengangguk dengan penuh rasa syukur, "Aku sangat menyukainya Pa! Ini adalah hadiah terbaik yang pernah aku dapatkan di hari ulang tahunku!" Saat itu, pandangan Daffi dan Titah saling bertemu. Keduanya hanya bisa mengangguk sebentar sebelum Titah berjalan ke arah mobil baru yang akan menjadi miliknya. ...Saat itu, pandangan Daffi dan Titah saling bertemu. Keduanya hanya bisa mengangguk sebentar sebelum Titah berjalan ke arah mobil baru yang akan menjadi miliknya. Setelah cukup lama memandangi mobilnya, Titah kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Daffi. Matanya tertuju pada wajah tampan pria muda di depannya sambil dengan lembut mengulurkan tangan. Daffi segera memberikan kunci mobil beserta buku panduan pengguna pada Titah. Saat tangan mereka hampir bersentuhan, Titah tiba-tiba tersipu malu dan menunduk. Hatinya berdebar kencang karena selama ini ia mengira bahwa Daffi adalah hadiah ulang tahun yang diberikan ayahnya, bukan mobil yang berada di depan rumahnya. "Aku... aku kira kamu adalah hadiahnya, Maaf ya..." ujar Titah dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar. Daffi sedikit terkejut mendengarnya, namun segera memberikan senyum ramah. "Tidak apa-apa Nona Titah. Semoga mobil ini benar-benar membantu aktivitas Anda," jawabnya dengan sopan. Setelah kesalahpahaman itu teratasi, Daffi segera mengucapkan selamat tinggal dan bergegas pulang. Namun tak diketahui oleh mereka berdua, Mr. Arjun telah memperhatikan seluruh interaksi antara putrinya dengan Daffi dari balik pintu ruang tamu. Wajahnya tampak murung dan penuh kekhawatiran setelah melihat ekspresi malu dan senyum Titah saat berbicara dengan pegawai showroom tersebut. Tanpa berlama-lama, Mr. Arjun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Pak Malik. Setelah sambungan terhubung, ia langsung menyampaikan permintaannya dengan nada tegas, "Malik, tolong segera memecat pegawai muda yang mengantar mobil tadi—yang bernama Daffi. Aku tidak ingin putriku dekat dengan orang yang tidak sesuai dengan kedudukan kita!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook