Sebuah Petaka

1153 Kata

Setelah dua jam, akhirnya api bisa dipadamkan. "Ayah, maaf sudah menganggu waktu istirahat ayah," sesal Xue Mingyan dengan raut wajah sedihnya. "Tidak apa-apa, karena Pavilliunmu sudah terbakar, sekarang tinggalah di Pavilliun Teratai Indah peninggalan ibumu." Selir Niang terkejut mendengarnya. Dari dulu sampai sekarang Perdana Mentri tidak pernah sekalipun berniat untuk memberikan Pavilliun itu padanya. Tetapi mengapa sekarang dengan mudahnya Pavilliun itu diberikan pada Xue Mingyan? "Tu-tuan apa tuan yakin memberikan Pavilliun itu padanya?" tanya Selir Niang. "Uhuk, benar apa yang uhuk dikatakan Selir Niang ayah. Aku ... uhuk uhuk uhuk ..." ucapan Xue Mingyan terhenti karena batuknya. 'Sial, aku terlalu bersemangat sampai sampai aku tersedak oleh air liurku sendiri,' keluh Xue Ming

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN