Langit terus saja menjatuhkan hujannya dengan sangat deras. Sesekali petir ikut menampakkan diri. Membuat banyak orang yang ada di bawahnya takut untuk pergi keluar rumah.
Rasha memandang tetesan air itu dengan gundah. Matanya tak berkedip seolah sedang kesal pada hujan. Ia merasa terpenjara di tempatnya melamun. Terkurung tanpa tahu kapan bisa keluar.
Hujan menahan dirinya sore ini untuk kembali ke kota. Rasha tak bisa pergi ke mana-mana. Keluarga calon mertuanya menghalangi kepulangannya hari ini. Itu artinya janjinya pada Ratu tidak bisa ditunaikan.
"Hujan, kamu mau sampai kapan turun terus?" batin Rasha. Ia masih terpaut di tepi jendela.
Keysha datang dengan senyum jahil ala Jerry yang menjadi tikus di film animasi terkenal tahun 90-an. Ia berdiri tepat di samping Rasha. Dengan meletakkan kedua tangannya yang dilipat di depan
dirinya. Ia seakan ingin mengecoh sang calon suami.
"Galau ya, nggak bisa ketemu kekasih," sindir Keysha sambil ikut memandang hujan dari balik jendela kaca.
Rasha melirik sekilas. Ia membuang nafas pendek dengan kasar. Kemudian kembali menatap pemandangan hujan yang memang sangat mengganggu waktu sorenya.
"Aku nggak galau, cuma kasihan aja sama cewekku. Emang kamu, yang nggak pernah diperhatikan sama cowok. Nggak tahu gimana rasanya kan. Kalau kita kehilangan kesempatan waktu untuk bertemu," ucap Rasha dengan santai.
"Maksud kamu apa?" Keysha menatap tajam. "Emang kamu kira, aku cewek yang kesepian. Aku nggak butuh lagi, perhatian dari cowok manapun."
"Masak sih. Kayaknya aku nggak yakin!"
Sekilas Rasha mengingat sosok teman pria dari gadis di sampingnya. Tadi siang, jika diperhatikan lebih teliti, Keysha seperti menaruh harapan. Namun, hubungan seperti tak berjalan sesuai keinginan.
"Aku tahu, kamu pasti suka cowok yang tadi siang jalan bareng sama kamu. Iyakan? Iyalah. Aku bisa lihat kok." Rasha seperti memutar balikkan fakta. Ia sedikit tersenyum kecil menambah kesan dirinya akan menang dalam perbincangan ini.
Keysha menggigit bibir bawahnya menahan kesal. Baru bertemu tadi tapi, Rasha bisa menilai begitu berani tentang hubungannya dengan Rio. "Jangan sok tahu."
"Aku emang tahu lagi," sambung Rasha penuh percaya diri. "Sekarang coba turunkan kedua tangan kamu!" Rasha memberi perintah aneh. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan di balik telapak tangan yang sedang dilipat di depan d**a Keysha.
"Kenapa aku harus menurunkan tanganku?" Keysha berusaha menghindar. Ia pun mengambil langkah untuk mundur menjauh dari jangkauan Rasha.
Dengan cepat Rasha mencegahnya. Ia kemudian menarik salah satu tangan Keysha dan berhasil. Terlihat saat salah satu tangannya terlepas dari posisinya tadi sedang membawa ponsel yang seperti sengaja disembunyikan.
"Hey, ponselku mau kamu apakan?" tanya Keysha yang tak bisa mempertahankan ponsel di genggaman tangannya. Rasha telah mengambilnya dengan paksa.
Rasha segera melihat status ponsel tersebut. Ternyata tampilannya sedang merekam. Itu artinya memang benar dugaannya tadi. Keysha seperti akan memancingnya agar mau bercerita tentang kekasihnya di kota. Namun misi Keysha itu gagal begitu saja.
"Kembalikan ponselku!" pinta Keysha sambil menatap tak suka pada pria di hadapannya.
Rasha tersenyum sinis. Ia tahu jika gadis di hadapannya ini selalu memiliki tujuan tersembunyi. Beruntung dirinya bisa menyadari itu lebih dulu. Ia kemudian memutar kakinya melangkah duduk di salah satu ujung sofa ruang tamu.
Digunakan ponsel milik Keysha untuk mengecek. Mungkin saja gadis itu menyimpan hal yang tidak seharusnya.
"Rasha, kamu lancang sekali." Keysha kembali berusaha merebut. Namun tangan panjang Rasha tidak bisa dijangkau dengan mudah.
Rasha yang kesal langsung menyembunyikan di belakang punggungnya.
"Hey, jangan ditaruh sana. Kalau rusak bagaimana?" tanya Keysha sambil berusaha menarik lengan Rasha agar mau berdiri.
"Kamu jangan pegang-pegang. Kalau Ayah sama Ibu lihat, bisa dikira kamu genit sama aku."
"Peduli amat. Lagian hapeku kamu duduki. Kalau sampe retak gimana. Jangan harap aku bakalan minta kamu buat belikan. Ogah aku pakai duit situ." Keysha masih berusaha menggeser tempat duduk Rasha.
Rasha berhasil digeser oleh Keysha. Akan tetapi, ponselnya masih belum terlihat. Tiba-tiba muncul Bu Linda dari balik tirai yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang tamu.
"Key, kamu lagi ngapain?" teriak Bu Linda yang terkejut melihat Keysha menarik baju Rasha. "Ya ampun, kamu itu anak cewek jaga sikap. Kalian belum resmi tahu. Kalau kayak gini lebih baik acara lamarannya segera dipercepat saja."
Bu Linda tanpa mau mendengarkan penjelasan Keysha hanya melihat sekilas kemudian segera berlalu masuk ke dalam rumah lagi. Menyisakan kebekuan yang terjadi pada diri Keysha.
"Lihat, gara-gara kamu ibu jadi mikir yang aneh-aneh kan? Sekarang mana hapeku!" pinta Keysha yang habis kesabaran.
Rasha mengambilnya di balik punggung. Meraihnya dan diberikan pada Keysha. Sayangnya, tiba-tiba ia berubah pikiran. Ditarik lagi tangannya yang membawa ponsel. Kembali ditahan agar tak diambil Keysha.
"Hey, orang waras. Mau kamu apa sih sebenarnya?" tanya Keysha.
"Aku nggak mau apa-apa. Aku cuma pengen kita terima saja perjodohan ini. Nggak ada ruginya juga," ungkap Rasha.
"Apa! Nggak ada ruginya. Kalau aku sampe hamil. Terus aku harus kuliah dengan perut buncit gara-gara benih kamu. Gimana?"
Rasha seketika berubah raut wajahnya. Ia seperti menahan tawa yang seperti akan meledak. "Aku nggak mungkin buat kamu hamil. Lihat kamu juga nggak akan nafsu. Bodi datar kayak meja setrika. Belum lagi wajah pas-pasan. Kayak gitu aja sombong," oceh Rasha seenaknya sendiri.
Keysha merasa emosinya sudah berada di tingkat paling tinggi. Kesal dengan ucapan Rasha yang terdengar seperti lelucon. Ia pun menendang salah satu kaki Rasha yang begitu panjang. Tinggi pria itu memang sempurna. Sudah seperti model catwalk yang sering dilihat Keysha di majalah. Sayangnya, gadis itu tak berminat sama sekali.
"Aduh Keysha. Udah nggak sehat ini cewek." Kembali Rasha mengumpat sambil meraba bagian kakinya yang ditendang oleh calon tunangannya tersebut.
Keysha puas melihat pria di hadapannya meringis kesakitan. Bersamaan dengan itu, petir menyambar dengan begitu keras. Hingga membuat Keysha terkejut.
"Ahhhh," teriak Keysha sambil melompat ke arah pangkuan Rasha. Ia segera menyembunyikan wajahnya di d**a pria kekar itu. Ia menutup kedua matanya rapat-rapat. Sedikit bergetar tangannya dan Rasha menyadari hal itu.
"Key, kamu nggak papa?" bisik Rasha tepat di telinga Keysha yang sangat amat dekat posisinya.
"Aku," ucap Keysha tertahan. Ia sadar saat kedua matanya terbuka. Ternyata dirinya sudah berada di tempat yang salah. Segera ditarik tubuhnya dari sana.
Rasha membuang mukanya. Ia menyembunyikan senyuman yang merasa tak percaya jika Keysha bisa melakukan hal rayuan seperti tadi. "Dasar, pada intinya semua cewek sama saja," batin Rasha.
"Aku mau masuk kamar aja. Males banget lihat kamu terus-terusan. Lebih baik tidur pas hujan lebat gini," ungkap Keysha. Ia melupakan begitu saja urusan ponsel yang sejak tadi diperjuangkan.