Malam ini menjadi malam yang panjang bagi Keysha. Ia rasanya tak bisa tidur. Memejamkan mata saja terasa sulit dilakukan.
Setiap kali matanya tertutup selalu ada bayangan Rasha muncul. Pria itu seakan datang mengganggu dan membuat kacau hari Keysha. Tersenyum dan merayu kedua orang tuanya. Mencari muka dengan caranya. Menyingkirkan dirinya dari perhatian keluarga. Belum lagi, cara menyebalkan lainnya yang mungkin bisa terjadi setelah ini.
"Ahhhhh, aku nggak bisa tidur!" ucap Keysha sambil bangun dari tempat tidurnya. Menatap tiap sisi kamar yang selalu sama. "Aku mau keluar aja deh. Siapa tahu angin malam bikin aku ngantuk!" pikir Keysha lalu berjalan keluar kamarnya.
Ia bergerak ke dapur mengambil segelas air minum dan bermaksud membawanya ke teras depan rumah. Di sana ada bangku yang selalu ia gunakan duduk sambil memandang halaman rumah dan bunga-bunga yang menghiasi taman kecil milik ibunya.
Pintu ruang tamu terlihat sudah terbuka. Sepoi-sepoi angin malam yang dingin mengundang Keysha melangkahkan kakinya agar segera keluar rumah.
"Kok pintu rumah terbuka sih," batin Keysha sambil memperhatikan sekeliling. Tak jauh dari tempatnya berdiri ada seseorang yang sedang sibuk menggunakan ponselnya.
"Aku bakalan balik besok sore Sayang. Iya, nanti aku ajak belanja. Aku cuma mau jadi anak yang berbakti pada orang tua. Udah itu aja kok. Kalau masalah perasaan. Seluruh bagian hati aku juga buat kamu," ucap seseorang yang saat ini dengan terpaksa dikenal Keysha. Ia sedang berbicara melalui sambungan telepon dengan seseorang yang bisa dibilang adalah kekasihnya.
Keysha yang mendengar gombalan tak bermutu yang seketika ingin merontokkan telinganya, hanya bisa tersenyum kecut menahan kesal. Dari awal pria bernama Rasha itu memang hanya bermain-main. Tapi sayang, ia bermain dengan orang yang salah. Seorang Keysha Tiara Putri tak bisa dengan mudah dibohongi. Apalagi dengan p****************g mata keranjang sekelas Rasha.
"Jangan mengatasnamakan orang tua. Kalau nantinya kamu cuma mau menyakiti perasaan keluargaku," ucap Keysha sambil memergoki Rasha sedang bertelpon.
"Kamu, kamu nggak tidur?" Rasha terkejut. Buru-buru dimasukkan gawainya ke saku celana pendek berwarna navy yang sedang digunakan.
"Kenapa! Kaget ya. Untung aku dari awal udah mikir kamu bukan pria baik."
"Aku pria baik kok. Buktinya kedua orang tua kamu seneng punya calon mantu kayak aku," sahut Rasha sedikit menantang.
"Itu karena orang tuaku nggak tahu yang sebenarnya."
"Emang yang sebenarnya kayak apa?" Rasha berusaha menyudutkan Keysha. Ia ingin tahu seberapa jauh Keysha mendengar pembicaraannya di telpon tadi. Bersama Ratu, kekasih Rasha saat ini.
Melihat wajah Rasha yang semakin menyebalkan, membuat Keysha spontan menyiramkan air minum yang ia bawa tadi ke arah Rasha.
"Hahhhhh, apa-apaan kamu."
"Kayaknya itu tadi udah cukup menjelaskan semuanya, dan asal kamu tahu. Aku bakalan bikin kamu nggak betah tinggal di sini. Apalagi sampai jadi suamiku. No!!!!!!!" ucap Keysha dan langsung diikuti gerakan kaki berputar agar bisa kembali masuk ke dalam rumah dengan cepat.
Tapi siapa sangka, gara-gara air yang ditumpahkan ke wajah Rasha tadi justru menyisakan lantai yang basah. Keysha terpeleset. Hampir saja ia terjatuh, namun Rasha berhasil menangkapnya.
Mereka berdua saling beradu pandang. Mata dengan mata saling melihat satu sama lain.
"Kamu, berani banget pegang-pegang," oceh Keysha dibarengi tubuhnya yang ditarik dari tangan Rasha. Ia berusaha berdiri normal seperti sedia kala.
"Siapa juga yang mau pegang-pegang situ. Makanya lain kali, hati-hati. Dasar, udah bikin wajahku basah. Nggak terima kasih."
"Ngapain terima kasih, aku juga nggak minta tolong!" Keysha semakin ngotot.
"Terserah." Rasha masuk ke dalam rumah lebih dulu. Meninggalkan Keysha terpaku dengan bayangan dirinya yang menyebalkan.
"Ergggg, pingin tak bikin perkedel aja itu orang."
**
Ayam berkokok dengan sangat lantang. Membangunkan seorang Linda yang harus segera melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Menyiapkan makanan hingga membangunkan Keysha yang masih tertidur.
"Key!!!!! bangun Keysha. Ini udah hampir jam tujuh lho. Undangan ke sekolah bukannya jam delapan ya. Kamu nggak siap-siap?" teriak Linda dari balik pintu sambil mengetuk dengan keras.
"Hoaaaaa, aku masih ngantuk Bu," gumam Keysha sendiri di atas tempat tidur.
Lindapun membuka pintunya. Masuk dan melihat anak gadisnya masih di bawah selimut yang memang terlihat sangat nyaman.
"Keysha Putriiiiiiiii, gimana bisa kamu molor di hari kamu mau wisuda. Ayo cepetan bangun. Rasha aja udah bangun dari tadi. Malah dia sempat lari pagi di sekitar sini," ucap Linda sambil menarik selimut yang menutupi tubuh putrinya.
"Ibuuuuu, dingin Bu. Semalam emang Key nggak bisa tidur. Jadi, sekarang masih ngantuk," bela Keysha sambil berusaha menarik lagi selimutnya.
"Bangun. Cepet mandi. Ibu nggak akan bangunin kamu lagi kalau sampai ketiduran."
Linda pun beranjak dari kamar Keysha. Keysha akhirnya berusaha menyadarkan diri agar bisa membuka matanya.
Keysha mengacak rambutnya. "Ahhh, aku masih ngantuk. Ini semua gara-gara Rasha yang bikin aku nggak bisa tidur semalam. Dasar cowok sok."
**
Mobil yang akan dikendarai keluarga Rahman telah siap. Mobil milik Rasha berwarna silver dengan logo di bagian depan yang tidak pasaran. Memberi kebanggaan sendiri untuk Rahman bisa mengendarainya. Apalagi si pemilik adalah calon menantu sendiri.
"Bu, mana Keysha?" tanya Rahman yang sudah siap sejak tadi.
"Biar aku panggil."
"Biar Rasha aja Bu yang manggil," pinta Rasha sambil tersenyum.
"Iya Nak, silahkan!" ucap Linda dengan senang.
Rasha tersenyum mendengar jawaban dari Linda. Ia melangkah masuk menuju kamar milik Keysha.
Pintu kamar dibuka begitu saja. Tanpa mengetuk dan permisi. Keysha terperanjat, matanya melotot tak percaya dengan pemandangan di depannya.
"Rasha Hermawan Prayoga. Pendidikan tinggi, tapi kenapa nggak punya sopan. Bisa nggak, sebelum masuk ketuk pintu dulu," teriak Keysha yang diiringi emosi meledak-ledak.
Rasha berjalan mendekat, tersenyum tipis melihat apa yang sedang dilakukan Keysha di kamar. "Kamu udah hapal namaku dengan baik. Anak pintar. Ayo cepat berangkat. Semuanya udah nunggu di depan."
"Iyaya."
"Apa ini semua? Kamu nggak bisa pake make up ya. Pantesan wajah pasaran banget." Sambil melihat kosmetik bertebaran di samping Keysha.
"Apa kamu bilang. Hey, aku emang nggak pernah pake make up. Ngapain pake make up buat bikin topeng warna warni. Toh, cantik alami itu lebih penting. Lagian aku cuma coba ngilangin kantung mata yang muncul gara-gara semalam nggak bisa tidur."
Rasha menatap kantung mata yang dimaksud dengan sangat dekat. Sampai-sampai tubuhnya dibungkukkan memperpendek jarak dengan Keysha yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
"Iya, ini ada mata panda. Kok bisa. Emang kenapa semalam nggak bisa tidur. Jangan-jangan mikirin aku ya?"
"Ya enggaklah," sahut Keysha sambil memalingkan wajahnya dari jangkauan pandangan Rasha.
"Sini coba lihat." Rasha menarik dagu Keysha. Ia lalu memolesnya dengan concealar di bagian bawah mata. Lalu menambahinya dengan bedak tabur. "Coba lihat, masih keliatan nggak mata pandanya?"
Keysha melihatnya di cermin. Garis hitam yang muncul tadi sekarang sedikit pudar. "Kok bisa sih."
"Bisa lah ditutupi sama make up. Emang kamu dari tadi ngapain?"
"Aku nggak tahu mau pakai yang mana? Ini semua make up punya Ibuku. Makasih ya!" ucap Keysha sambil mencubit pipi Rasha gemas. Lalu pergi begitu saja.
Rasha masih terpaku. Ia merasa ada yang lain saat dirinya harus menatap Keysha lebih dekat seperti tadi.
"Kenapa aku jadi gini. Hah, lupakan!" pikir Rasha lalu segera mengikuti langkah Keysha.