Rio tengah bersantai dengan pak Rahman. Usai sarapan pagi tadi. Ia mencoba menjelaskan keinginan Keysha agar tidak menikah dulu. Akan tetapi, rencana itu gagal. Pak Rahman tetap bersih keras akan menikahkan Keysha dengan Rasha.
Dengan sangat terpaksa, Rio mengatakan kegagalan dirinya. Ia tak bisa membuat pak Rahman berubah pikiran.
“Jadi, aku emang harus menikah sama pria itu. Rasha Hermawan Prayoga. Apa aku bisa bahagia,” ucap Keysha. Ia merasa hidupnya sudah berakhir. Akan sulit meraih apa yang diinginkan setelah ada ikatan pernikahan.
“Aku yakin, dia yang terbaik Key. Coba dulu meyakinkan hatimu!” Rio mencoba menguatkan Keysha. Diusap perlahan pundak Keysha yang terlihat begitu lelah.
‘Gampang banget kamu bilang seperti itu Rio. Kamu nggak tahu, kalau aku pengennya menikah sama kamu. Aku udah jatuh cinta sejak lama sama kamu,’ batin Keysha menolak.
**
Rasanya sudah seperti tidak ada rasa bahagia. Bayangan akan pernikahan membuat Keysha tak bisa lupa.
“Aku nggak percaya sampai detik ini. Seorang Rasha Hermawan Prayoga akan jadi suamiku,” ucap Keysha saat sudah berada di dalam kamarnya.
Sambil menatap bayangannya di cermin. Keysha menyisir rambutnya yang panjang. Terlihat lurus sekali, jatuh terurai tampak hitam gelap. Indah sekali mahkota yang dimiliki Keysha.
“Pada akhirnya, masa depanku ditentukan oleh Ayah. Apa yang terjadi setelah ini adalah bukan hal yang aku mau. Tapi, mana bisa aku menolak. Mungkin seperti ini rasanya hidup yang tidak ada pilihan,” pikir Keysha sekali lagi.
Ia mencoba melepas lelahnya. Bukan lelah yang menyiksa fisik. Akan tetapi, lebih ke jiwanya yang terguncang karena keputusan sepihak yang sama sekali tidak menguntungkan.
“Mikir apa aku. Pernikahan itu menguntungkan sebenarnya untukku. Bukankah dengan menikah sama Rasha aku jadi bisa kuliah di kota. Kuliah jurusan yang aku inginkan. Itu kan cita-citaku. Jika memang nantinya tidak ada cinta. Aku bisa mengajukan perceraian setelah kelulusan. Boleh juga,” pikir Keysha sekali lagi.
Ia kemudian berusaha terpejam. Menutup mata agar bisa melupakan masalah yang akan dihadapinya besok. Baginya semua seperti hal yang menyebalkan.
Sekejap, Keysha mengingat saat indah bersama Rio. Ingin rasanya mengulang waktu tersebut. Tertawa lepas bersama di bawah hujan, hanya akan menjadi sebuah kenangan. Tawa yang sering keluar dari bibir Rio, senyumannya akan tersimpan dalam hati Keysha.
Bagi gadis itu, tak ada permohonan yang paling indah. Selain memohon agar bisa bersama dengan Rio, suatu saat nanti.
**
Hari terasa berjalan begitu cepat. Pagi ini, bisa dipastikan, keluarga Rasha akan datang ke rumah Pak Rahman. Tak lain hal itu terjadi karena mereka akan melakukan acara lamaran.
“Yang bener aja. Kenapa aku harus pakai semua ini?” batin Keysha menatap dirinya di cermin yang berpenampilan tak biasa.
Gadis itu merasa dirinya sudah seperti pengantin kecil. Dengan kebaya berwarna merah marun. Ditambah riasan tipis, atau lebih tepatnya berlebihan yang kemudian dihapus oleh Keysha dengan sangat memaksa hingga warnanya menjadi pudar.
“Aku nggak suka lipstik menor,” gumam Keysha. Dilap sekali lagi, polesan lipstik yang baru ditambahkan oleh penata rias yang dipesan khusus untuk mendandaninya.
Gadis itu, masih memperhatikan diri di depan cermin. Bayangannya tampak seperti ibu-ibu arisan mingguan. Bedak tebal dan alis selebar daun pisang. Bulu mata yang dipasang melengkung tajam ke bawah. Terasa amat sangat mengganjal, mengganggu dan berat.
“Kenapa harus ada bulu mata palsu. Jangan-jangan untuk selanjutnya akan ada muka palsu, suami palsu, istri palsu. Ihhh, kenapa aku jadi ngelantur kemana-mana. Ahhhh, bisa gila aku. Ayo, hapus semua make up ini dari wajahku.”
Cukup keras, Keysha menggosok wajahnya dengan pembersih rias. Ia bahkan sampai kehabisan kapas kosmetik milik ibunya.
“Ahhh, aku beneran stresssss,” teriak Keysha.
Tanpa sadar, ada sebuah kaki sedang melangkah masuk ke dalam kamarnya yang pintunya tidak tertutup rapat. Berjalan tanpa suara. Sehingga membuat Keysha terkejut saat si pemilik langkah itu berdiri dan mulai berbicara tepat di belakangnya.
“Baru juga lamaran. Tapi, kamu kayaknya kelihatan stres banget. Tenang aja, setelah kita menikah. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, dan biarkan aku juga mendapatkan apa yang aku inginkan.”
“Kenapa kamu bisa masuk?” tanya Keysha. Ia kemudian memperhatikan penampilan formal seorang Rasha. Menakjubkan dan penuh kharisma. Keysha merasa dirinya seperti bertemu idola para kaum hawa. Buru-buru dialihkan pandangan matanya agar tidak terkontaminasi pesona Rasha terlalu lama.
Rasha menunjukkan pintunya yang tidak tertutup. “Kamu bisa lihatkan, pintunya nggak terkunci.”
“Tapi, kamu nggak berhak seenaknya sendiri masuk ke kamar orang,” ucap Keysha tanpa mau memandangnya.
Rasha semakin mendekat. Dilihat wajah Keysha yang menurutnya tak enak dipandang. Akan sangat memalukan jika pihak keluarganya melihat calon tunangannya itu hanya berpenampilan sederhana di acara sepenting ini.
“Kok kayak ada bekas make up yang dihapus,” ucap Rasha sambil terus memperhatikan wajah Keysha.
Ia kemudian menarik dagu Keysha. Namun Keysha segera menangkisnya dengan tangan.
“Mau apa kamu?” tanya Keysha.
“Cuma mau lihat wajah kamu yang menyeramkan itu. Memastikan emang ini Keysha apa bukan.”
Keysha mendekatkan wajahnya secara langsung. Hanya menyisakan jarak beberapa centi saja dari wajah Rasha. Sontak Rasha agak terkejut dengan reaksi seperti itu.
“Jangan dekat-dekat, wajah kamu beneran menyeramkan,” ungkap Rasha yang sedikit melotot dibarengi dengan tubuhnya yang bergerak mundur.
“Hihihihihi,” ucap Keysha meniru suara hantu yang kebanyakan muncul.
“Apaan sih, udah gila ya. Benerin dulu itu wajah!” pinta Rasha yang merasa seram. Ia sebenarnya takut sekali dengan segala hal yang berbau mistis seperti tadi.
“Nggak mau. Biarin aja, biar kamu sekalian nggak mau tunangan sama aku. Dengan begitu pernikahan kita bisa batal,” ucap Keysha dengan penuh kekesalan. Ia berpikir seandainya ada cara untuk lepas dari ikatan yang tidak diinginkan ini. Pasti akan Keysha lakukan.
“Ini bocah, susah amat sih ngaturnya,” batin Rasha. “Enak aja, dia mau bikin acara lamaran ini ga
Melihat Rasha yang diam selama beberapa detik. Membuat Keysha ingin pergi ke kamar mandi. Ia melangkah menuju pintu kamar. Akan tetapi, tangan Rasha mencegahnya.
“Tunggu, kamu mau kemana?” tanya Rasha.
“Kamar mandi. Mau cuci muka.”
“Jadi, kamu mau lamaran ini gagal. Apa kamu nggak memikirkan perasaan kedua orang tua kita. Khususnya orang tua kamu. Kalau pihak yang membuat ulah adalah kamu. Nantinya, pasti Pak Rahman dan Bu Linda yang juga akan menanggung malu,” ucap Rasha menjelaskan.
Langkah kaki Keysha terhenti. Ia kemudian menatap Rasha yang masih berdiri di tempatnya. “Sebenarnya kamu mau apa sih? Hah!” Keysha mendelikkan matanya. Menatap penuh amarah pada sosok yang ia anggap pengacau hidupnya itu.
Rasha berjalan mendekat. “Aku cuma mau memastikan acara lamaran ini berjalan lancar.”
“Lalu membiarkan pernikahan ini terjadi?”
Rasha tersenyum kecil. Ia menggerakkan tangannya untuk merangkul pundak Keysha dari belakang.
“Jangan pegang-pegang. Aku nggak suka,” ucap Keysha sambil mencegah tangan Rasha mendarat di bahunya.
“Bagaimanapun, acara pernikahan kita harus tetap berjalan. Bukannya kita punya tujuan masing-masing dalam pernikahan ini.”
Mendengar itu, Keysha berusaha menarik napas dalam, sangat dalam dan keras. Hingga membuat Rasha bisa mendengarnya.
“Jadi, kamu punya rencana apa?” tanya Keysha.
“Gadis pintar. Dia bisa menebak jalan pikirku langsung,” batin Rasha.
“Hey, jangan diam!” pinta Keysha cepat di depan wajah Rasha.
“Biarkan kedua orang tuamu senang, juga Papaku. Biarkan mereka bertiga berpikir kita anak yang baik. Jujur saja, aku juga tidak mau menikahimu.”
“Apa! Aku juga nggak mau kok menikah sama kamu.” Keysha spontan melotot ke arah Rasha. Ia juga berusaha menunjukkan ketidaksukaannya.
“Kalau gitu. Kita akan berpura-pura menikah saja. Sampai batas waktu yang ditentukan. Sekarang perbaiki make up mu. Kamu nggak mungkin membiarkan tamu melihat wajah seram itu. Pucat kayak hantu.”
“Nggak usah mengejek, bisa kan?”
“Kayaknya nggak bisa.”
“Ih ngeselin. Biar aku panggil tukang riasnya.” Keysha keluar kamar. Ia berusaha memanggil wanita yang meriasnya tadi. Namun, di luar perkiraan. Wanita yang dicari sedang tidak ada. Sepertinya karena menganggap tugasnya sudah selesai. Ia pun pergi keluar sebentar.
“Mana lagi, penata riasnya. Aku harus cepat balik ke kamar kasih tahu Rasha.”
Keysha berjalan cepat menuju kamarnya. Beberapa tamu dari kerabat Keluarga Keysha sudah banyak yang datang. “Sial, kenapa Ayah mengundang orang sebanyak ini,” batin Keysha merasa kacau.
Gadis itu akhirnya segera ke kamar dan berharap Rasha masih berada di sana.
“Lho kenapa sendiri?” tanya Rasha melihat Keysha.
“Rasha, aku nggak ketemu sama penata riasku tadi. Terus gimana, make up ku udah terlanjur aku hapus,” terang Keysha.
Tiba-tiba seorang wanita yang usianya tak jauh dari Rasha muncul masuk ke dalam kamar. Betapa terkejut wanita tersebut melihat wajah Keysha yang riasannya sudah berubah.
“Lho Key, kenapa sama wajah kamu?”
“Maaf, make up nya aku hapus. Tolong dibenarkan lagi Mbak.
“Nggak bisa Key, kamu pikir pasang make up itu nggak butuh perjuangan. Lagian kenapa kamu hapus?”
“Soalnya,” jawab Keysha agak ragu.