Pesona Keysha

1149 Kata
Rasha yang sadar, jika wanita tersebut adalah penata rias Keysha. Ia langsung berjalan mendekat. “Maaf Mbak, saya yang menyuruhnya. Make upnya tadi sebenarnya sudah bagus sekali. Cuma karena saya suka yang sederhana dan lebih simple. Saya suruh Key untuk menghapus sedikit warnanya. Nggak tahunya malah kebablasan. Malah ilang semua. Jadi, tolong Mbak perbaiki lagi riasannya. Nanti biar saya tambah cuannya,” jelas Rasha dengan senyum yang pura-pura merasa bersalah. Wanita yang diajak bicara Rasha itu tersenyum sangat manis. Selain ia senang mendengar kata uang, Ia juga sedikit terkesima dengan cara Rasha berbicara dan bersikap. “Maksud kamu cuan itu yang kayak gini?” tanya wanita tadi sambil menggerakkan dua jarinya seperti sedang menghitung uang. Rasha mengangguk. “Oke, bisa diatur,” balasnya sambil menyentuh wajah Keysha untuk melihatnya sekali lagi. “Tapi jangan terlalu tebal ya. Saya kurang suka,” tambah Rasha. “Oke, siap. Tapi yang banyak ya cuannya.” “Iya. Kalau gitu saya tunggu di luar.” Rasha berjalan keluar kamar. Ia berharap acaranya berjalan lancar. Seandainya tadi ia tidak berpikir untuk melihat kondisi Keysha. Maka bisa dipastikan, acara pertunangannya akan gagal. Ingin sekali rasanya bisa melepas ikatan dasi yang entah mengapa rasanya sangat begitu menjerat lehernya. “Beban yang berat,” batin Rasha. Ia kemudian berjalan menghampiri para tamu dari keluarga calon mertuanya. Mencoba berbaur dengan mereka layaknya akan menjadi keluarga yang sesungguhnya. Dalam sekejap, Rasha berhasil mencuri perhatian seluruh tamu undangan. Tak disangka calon tunangan Keysha itu begitu mengagumkan di mata mereka. Pak Rahman yang menyadari akan hal tersebut semakin bangga. Ia merasa pilihannya tidak salah. Rasha tampak seperti bintang yang bersinar terang. “Tapi, mana Keysha. Kenapa dari tadi belum keluar kamar,” pikir Pak Rahman. Di dalam kamarnya, Keysha dengan pasrah membiarkan wajahnya kembali dirias. Baluran bedak yang aromanya begitu harum terhirup dalam napasnya. Kelopak matanya disapu dengan warna khas bunga sakura. Tidak terlalu tebal seperti tadi. Hanya beberapa sapuan saja, sudah ada warna yang indah di sana. “Wahhh, calon suami kamu ngerti banget ya Key. Ternyata jauh lebih cantik yang ini. Dia bahkan rela keluarin duit lagi biar make up kamu cocok. Dan hasilnya emang cocok bangetttt,” gurau perias wajah Keysha. Wanita tersebut kemudian memoles lagi bibir Keysha. Diambilkan warna nude pink yang sepertinya akan semakin menambah kecantikan Keysha. “Udah belum, aku capek nih. Dari tadi disuruh diam kayak patung,” gerutu Keysha yang sudah tak bisa lagi diam. “Bentar, dikit lagi, sabar dong!” ucapnya sambil merapikan sedikit warna bibir Keysha. Perias wajah itu tersenyum takjub. “Kamu ternyata cantik banget Key!” ucapnya. “Masak?” tanya Keysha tak percaya. Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya. Berjalan perlahan sambil merapikan bagian atas kebayanya. Ditatap bayangan wajahnya di cermin. Mata Keysha berkedip cepat. Ia merasa melihat sosok yang bukan dirinya. Rasanya ada bagian hatinya yang tidak yakin. Bukan tidak yakin lagi. Tapi, sangat tidak percaya. “Kenapa aku bisa secantik ini,” batin Keysha. “Key, kayaknya kamu harus cepat keluar. Harusnya acara sudah dimulai." Perias itu menyentuh pundaknya dan membuyarkan lamunan Keysha. ** Sementara itu, di ruang tamu para undangan sudah menunggu. Pak Rahman akhirnya menyuruh Rasha untuk memanggil Keysha yang masih berada di dalam kamar. Rasha dengan senyum manisnya menuruti perintah sang calon ayah mertua. Berjalan dengan tenang sambil berteriak dalam hati. “Itu cewek ngapain aja sih. Lama banget. Bukannya pengen segera cepat selesai. Malah kelamaan di kamar. Pingin tak hihhh aja itu anak.” Tanpa mengetuk, Rasha langsung masuk ke kamar. Ia mendapati Keysha sedang bercermin menatap bayangannya. Mematung diam tanpa melakukan apapun. “Sumpah ngeselin banget. Ngapain diam aja di depan kaca. Sabarrrrr Rasha. Sabarrr!” batin Rasha saat itu juga. “Iya kan! Calon tunangan kamu sampai harus datang lagi. Dia pasti udah nggak sabar." Perias itu kembali berucap sambil melepas tangan dari bahu Keysha. Keysha membalikkan tubuhnya. Melihat Rasha yang datang tanpa suara. “Ngapain sih ke sini?” Kedua mata Rasha rasanya ingin melompat keluar. Tak yakin dengan apa yang dilihat. Matanya menyipit meneliti. Ia seperti melihat peri cantik. Namun, segera ditepis pikiran itu. “Kita udah ditungguin tamu undangan,” ucap Rasha. “Ohhh.” Dengan entengnya Keysha menjawab ucapan Rasha dan berjalan akan keluar kamar. “Heyyyy, Key, kamu harusnya jalan bareng sama Rasha. Jangan main nyelonong aja!” ucap sang perias lagi. Mendengar itu, Keysha mengepalkan tangan, menahan emosi. Dipalingkan wajah Keysha. Tersenyum kecut pada perias yang menurutnya begitu usil. “Gitu ya. Jadi, aku harus jalan bareng sama dia. Okey, bener juga!” sahut Keysha pura-pura paham. “Kalau Rio sih, oke aja jalan barengan. Tapi, inikan Rasha. Rasha Hermawan Prayoga. Cowok nggak tahu untung sama nggak tahu diri. Ih, nggak mau banget aku jalan bareng sama dia," batin Keysha sambil menarik lengan Rasha dengan kasar dan tampak terpaksa. "Hey, pelan-pelan. Kamu pikir tanganku tiang listrik, narik lengan orang keras banget." "Biarin! Peduli amat!" sahut Keysha kesal. Ia melotot menunjukkan matanya yang membuat sempurna. "Dasar bocah!" batin Rasha. ** Tinggal selangkah lagi, Keysha akan sampai di ruang tamu rumahnya. Tiba-tiba saja, perasannya menjadi tidak karuan. Ia tak tahu siapa saja yang hadir dalam acara pertunangan ini. Namun, hiruk pikuk terdengar begitu ramai seolah di ruang tamu itu dipenuhi banyak manusia. "Kenapa rame banget. Apa orang sekampung datang ke sini semua," gumam Keysha. Rasha sedikit memperhatikan gadis tersebut. "Ruang tamu rumah kamu sempit. Jadi, nggak mungkin orang sekampung bisa datang ke sini." "Ngomong sama kamu nggak pernah menyenangkan ya." "Sama!" Tiba-tiba tangan Rasha bergerak merapikan tangan Keysha yang bergelayut di lengannya. "Yang ikhlas kalau pegang lengan orang. Jangan lupa senyum!" pinta Rasha. Ia bahkan tak peduli raut wajah Keysha yang semakin kesal. "Iya, bawel!" Kedua orang tua Keysha menyadari kehadiran putrinya. Pak Rahman sontak menoleh dan menyambut kedatangan calon pasangan baru itu. "Ini dia Keysha Putri, anak saya!" ucap Pak Rahman mengenalkan putrinya kepada pihak keluarga Rasha. "Hah, me … mereka semua siapa?" Keysha tertegun sesaat. Ia begitu terkejut melihat beberapa orang asing yang ada di hadapannya saat ini. Penampilan mereka tak seperti orang yang biasa ditemui Keysha. Kilauan perhiasan yang membuat mata menyipit otomatis saat melihat. Belum lagi busana formal yang bagi Keysha sangat tak nyaman digunakan. Namun, hal itu tampaknya tidak berlaku untuk orang-orang yang hadir di acara pertunangan ini. "Ya ampun, ini bukan acara tunangan. Tapi, kayak pagelaran penghargaan nominasi award." Keysha terdiam beberapa detik. Diperhatikan sekeliling, tidak banyak tamu undangan. Hanya keluarga inti kedua orangtuanya. Juga tamu high class dari keluarga Rasha. "Belum juga pasang cincin. Kamu udah keliatan tegang banget." Sebuah suara muncul tiba-tiba terdengar di telinga Keysha. Keysha menoleh, terlihat Rasha sedang berdiri tepat di sebelahnya. "Aku nggak tegang. Cuma kepikiran!" "Kepikiran cincinnya nggak muat di jari kamu yang kayaknya makin gendut." "Apaan sih. Ngomong yang bener!" "Udah bener kok." Bersamaan dengan itu, seorang wanita yang usianya hampir sama dengan Bu Linda datang menghampiri Rasha. Ia segera melempar senyum manis, membuat Rasha tertarik untuk mendekat dan memulai obrolan. Sementara itu, Keysha hanya melihat tanpa peduli. Ia tak akan melarang pria tersebut untuk berbicara dengan siapapun. Gadis itu melempar pandangan ke seluruh penjuru. Bibirnya lalu menarik di tiap sisi membentuk sebuah senyuman. "Itukan Rio. Ternyata, dia datang juga ke sini!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN