Tanpa peduli siapapun, Keysha berjalan ke arah Rio berdiri. Ia menepuk bahu sahabat yang disukainya dengan rasa cinta itu. Melihat Rio, seketika kedua mata Keysha berbinar. Ia seperti melihat masa depan cerah saat menatap Rio.
"Heyyy, kamu ngapain ke sini. Ada banyak tamu dari keluarga Rasha. Kamu nanti bisa kena omel," ucap Rio menoleh ke arah Keysha.
Keysha mengerutkan alis kanannya. "Nggak akan. Mereka tahu, kita cuma sahabatan, tenang aja."
"Terserah."
Perbincangan pun terjadi antara Keysha dengan Rio. Gadis itu, seperti melupakan apa yang menjadi rencana hari ini. Ia bahkan bisa tertawa lepas seperti biasanya hanya dengan mendengar candaan receh dari Rio. Ia bahkan tidak peduli pada sorot mata yang sejak tadi memperhatikannya.
"Nanti, jangan lupain aku ya." Keysha melirik sekilas kemudian menundukkan wajahnya. Ia merasa tak bisa jika harus melihat Rio lebih lama. Rasanya ingin sekali mengatakan pada tamu yang hadir bahwa Rio yang seharusnya bertunangan dengan dirinya bukan Rasha.
Rio merasa ada yang lain. Diperhatikan wajah Keysha yang menunduk. "Key, are you ok?"
Keysha mengangkat wajahnya. Baru kali ini ia merasa ada genangan air di kedua matanya. Buru-buru dihapus dengan perlahan.
"Aku baik-baik aja!"
Rio tahu ada sesuatu di mata sahabatnya. Spontan tangannya bergerak ingin menghapus jejak basah yang masih tertinggal.
"Hentikan!" cegah Rasha sambil menahan tangan Rio.
Rio menarik tangannya. Dimasukkan tangannya tersebut ke dalam kantong celana agar tak berbuat seenaknya.
Tanpa basa-basi Rasha menarik Keysha mendekat ke arah pak Rahman dan papanya berada. Ingin sekali, tangan Keysha diseret seperti tahanan kabur. Sayangnya, gadis itu bukan buronan.
"Kenapa kamu lihat aku kayak gitu sih!" gerutu Keysha yang terpaksa berjalan bersama Rasha.
"Karena kamu bocah. Nggak bisa mikir" Rasha menjawab dengan nada begitu datar.
"Aku nggak bisa mikir. Mata kamu di mana sih, nggak lihat piala aku di lemari."
"Erghh, ini anak emang harus dijelasin,” gumam Rasha.
***
Malam ini rasanya begitu gelap. Tidak ada bintang yang menghiasi langit. Angin yang membawa dingin, tak sungkan menyentuh kulit siapa saja yang sedang berada di luar rumah. Termasuk sosok Keysha, ia sedang terpaku dalam lamunan. Duduk sendiri dengan mata yang memandang jauh di depan rumahnya.
Diperhatikan cincin yang sudah melingkar di jari manisnya. Cincin yang sangat cantik. Yang pasti, jika orang melihat cincin itu, sudah pasti ikut merasa senang karena berpikir jika si pengantin wanita begitu spesial karena bisa memilikinya.
"Omong kosong bisa bahagia bersamanya. Pembohong, penebar janji palsu. Dia bukan pria baik. Kenapa Ayah bisa sampai percaya pada Rasha. Kenapa?" batin Keysha berteriak.
Ia ingin melepas cincin itu. Kemudian membuangnya ke tempat paling jauh yang bisa ia tempuh. Tapi, mana mungkin itu terjadi. Halusinasi membuat pikirannya semakin kacau.
Tanpa disadari, di waktu yang sebenarnya sudah waktunya untuk tidur itu. Ada seorang pria yang tidak sengaja melihat Keysha terdiam di depan rumahnya. Sambil tersenyum, ia coba menghampiri.
"Key!" Sebuah panggilan keluar dari mulut pria tersebut. Namun, tidak ada jawaban. Diputuskan saja untuk duduk tepat di samping Keysha. Akan tetapi, gadis itu tetap tidak menyadari kehadirannya.
"Keysha!" Masih hening tak ada jawaban. Hal itu membuat si pemanggil memperhatikan dengan teliti. Terlihat tangan kanan Keysha sedang memainkan cincin pertunangannya yang masih melingkar di jari manis tangan kiri.
"Hahhh." Terdengar suara nafas yang dibuang kasar. Ia yakin gadis di sampingnya pasti sedang melamun tingkat tinggi. Nyatanya, sampai beberapa detik berlalu. Tetap tak sadar jika ada orang lain di sisinya.
"Keysha!!!!"
"Keyyy!!!!!" Masih diam.
"Keysha Putriiiiiiiii!" Suara sedikit ditekan dan memanggil tepat di telinganya.
"Hah! Apa sih!" Keysha menoleh ke si pemanggil. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang manakala pria yang memanggil dirinya berada begitu dekat. "Rio, jangan ngagetin deh."
Keysha membuang muka. Ia berhasil menyembunyikan keterkejutan yang rasanya tidak masuk akal.
"Kenapa sih, ngelamun terus. Kamu udah kangen ya sama Rasha?" Rio terus memperhatikan wajah Keysha. Tatapan matanya seolah menghakimi gadis itu. Ia kira Keysha tidak benar-benar suka dan ingin membatalkan pernikahannya.
"Enggak mungkin lah." Keysha perlahan membalas tatapan mata Rio. Ia merasa sahabatnya itu sudah salah duga.
"Terus kenapa melamun."
"Lagi pengen."
"Kok bisa?"
"Ya bisa!"
"Ngelamunin Rasha?"
"Rio Dirgantara … kamu kan tahu aku nggak suka sama dia!" Keysha menatap kesal. Ia tak mau sahabatnya sembarangan menilai seperti itu. Andai dunia boleh tahu, hatinya sudah terpaut pada Rio. Pria yang ada bersamanya sekarang. Pria yang sudah menjadi sahabatnya. Tapi, itu tidak mungkin. Amat sangat tidak mungkin. Bisa berakhir dunianya jika ia menyatakan perasaan yang sebenarnya. Memang tampaknya, lebih baik seperti ini.
Rio merubah mimik wajahnya. Ia sedikit menyesal menggoda sahabatnya itu. Karena sebenarnya, ia merasa akhir-akhir ini Keysha sudah sedikit berubah. Menjadi lebih pendiam dan tak bersemangat seperti biasa. Entah bagaimana rencana kuliahnya nanti. Yang pasti kedatangannya malam ini adalah sebuah kesengajaan.
Dirogoh salah satu kantong di jaket hoodienya. Tersimpan sebuah kotak berukuran kecil.
"Ini buat kamu. Jangan sedih lagi ya!" ucap Rio. Diberikan kotak tadi kepada Keysha.
"Ini apa?"
"Buka aja!"
Keysha pun membukanya perlahan. Betapa terkejut kedua matanya melihat isi dari kotak tersebut.
"Kalung? Ini buat aku?" Mata Keysha tak bisa berkedip. Kilau yang terpancar menunjukkan sebuah keindahan yang sepertinya bernilai mahal.
"Iya Keysha. Gimana, seneng nggak?"
Keysha akhirnya tersenyum. Ia pun tanpa mengucapkan sepatah katapun. Menyuruh Rio untuk memasangkan di lehernya.
"Iya iya, sini biar aku pasangkan. Tapi ingat, simpan baik-baik benda ini. Kalau kamu ada masalah sama Rasha. Pegang kalung itu dan buat harapan sambil mengingat aku," ucap Rio memberi semangat.
Keysha menggengam liontin kalung tersebut. Seolah seperti melihat secerca harapan bahwa nanti pasti akan ada kebahagiaan untuknya. “Makasih Rio, aku jadi makin sayang sama kamu,” ucap Keysha.
Mendengar itu, rasanya ada hati Rio yang ikut bergetar. ‘Kenapa rasanya aku nggak rela kamu nikah sama Rasha. Seandainya aku tahu apa yang telah terjadi padaku Key. Tiba-tiba saja tanpa alasan aku ingin memberimu kenangan yang begitu berharga. Semoga kamu nggak lupain persahabatan kita Keysha Tiara Putri. Semoga!’ batin Rio sambil terus melihat guratan senyum di wajah Keysha.
**
Sungguh bukan hal mudah untuk bisa melakukan ini semua. Ada hati yang ingin menunjukkan bakti. Namun, bakti itu menyisakan luka. Ada ngilu di hati. Sakit tapi tak berdarah. Berharap akan ada kebahagiaan yang akan dirasakan orang tua.
‘Aku hanya perlu bersabar selama empat tahun. Di saat waktu yang ku tunggu tiba. Aku pasti akan menjadi wanita yang berbeda,’ batin Keysha yang sedang memasukkan beberapa barang pribadi ke dalam kopernya.
“Keyshaaaa! Kamu udah selesai Nak?” tanya Bu Linda dari luar kamar.
“Udah Bu, hampir sedikit lagi.”
“Apa perlu ibu bantu?”
“Enggak Bu. Nggak perlu!”
“Kalau gitu, Ibu mandi ya?”
“Iya Bu!” jawab Keysha.
Gadis itu kemudian mengambil sebuah bingkai foto. Itu, akan menjadi benda terakhir yang akan dimasukkan ke dalam koper. Bingkai foto dirinya dengan Rio.
“Kita nggak pernah tahu gimana rencana Tuhan. Masih ada mimpi agar kita bisa bersama suatu saat nanti,” ucap Keysha penuh harapan. Kedua netranya tanpa sadar meneteskan bulir bening. Jatuh terjun bebas tanpa ada yang menghentikan. Sesaat bayangan senyum Rio muncul begitu saja.
“Yang pasti aku akan belajar menjadi wanita hebat,” ucap Keysha sekali lagi. Ia berusaha menata hatinya untuk menerima kenyataan. Mengiyakan ajakan Rasha untuk mau melakukan pernikahan pura-pura ini. Semata-mata hanya untuk membuat orang tuanya bahagia.
Mungkin bukan pilihan yang tepat. Tapi, ia rasa ini yang terbaik yang bisa dilakukan saat ini.
Membiarkan ikan berenang mengalir mengikuti arus sungai, sambil mencari bebatuan untuk mencari kehidupan. Mungkin bisa digunakan sebagai kondisi Keysha sekarang. Berharap semua akan menjadi lebih baik. Baik untuknya maupun kedua orang tuanya dan juga masa depan pastinya.