Kontrak Pernikahan

1175 Kata
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Keysha Tiara Putri binti Rahman dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.” Rasha mengucapkannya dengan lantang dan penuh keyakinan. “Gimana para saksi. Sudah sah?” “Sah.” “Sah.” “Alhamdulillah. Silahkan dikecup tangan suaminya Mbak Keysha,” ucap pak penghulu mempersilahkan. Keysha pun meraih tangan yang sedang bersiap untuk diraihnya. Sebuah kecupan mendarat di punggung tangan tersebut. Diiringi suara tepuk tangan dari para tamu yang menjadi saksi pernikahan. Kini, Keysha Tiara Putri sudah sah menjadi istri dari Rasha Hermawan Prayogi. Mereka sebentar lagi akan tinggal bersama. Di bawah satu atap, mereka akan semakin sering bertemu. Entah bagaimana nantinya. Yang pasti untuk saat ini. Keysha senang bisa melihat senyum bahagia dari ibunya. Minimal untuk saat ini, ia berusaha menjadi anak yang baik. ‘Ingat Rasha. Kamu udah bermain-main dengan sebuah ikrar janji suci. Ikrar ini harus diucapkan oleh kedua insan yang saling mencintai. Dan kamu sudah melakukan dosa dengan janji suci ini. Mungkin. Berharap kita berdua cukup menjaga satu sama lain. Tidak lebih dari itu karena tidak akan ada cinta di antara kita,’ batin Keysha di depan penghulu. Ia berusaha menahan air mata yang ingin jatuh. Sesekali dilihat ibu dan ayahnya berharap putrinya akan bahagia. ** Di depan sebuah cermin kamar yang cukup lebar. Keysha sedang memandangi dirinya sendiri yang tengah memakai kebaya putih. Begitu cantik dan anggun. Sayang, ia tidak menyukai penampilan itu. Dengan kasar dilepas satu per satu bunga yang terpasang di kepalanya. “Nggak ada yang aku sukai dari acara hari ini,” ucapnya. Tak bisa dibendung lagi. Ternyata hatinya yang mencoba kuat tak bisa melakukannya. Ia rapuh sekali. Pertahanannya roboh untuk tidak menangis. Tangannya berhenti bergerak untuk melepas berbagai perhiasan di tubuhnya. “Ini hari paling menyebalkan yang pernah ku lalui. Coba lihat, udah hampir tengah malam. Rasha bahkan nggak masuk ke kamar pengantin. Apa dia nggak tahu kalau aku capek banget. Bawain minum atau apa. Seharian bersalaman sama tamu, dikiranya nggak capek apa.” Keysha mulai berhenti mengoceh. Diusap air matanya yang sia-sia ia jatuhkan. Kenangan indah yang ingin diciptakan saat kuliah, tampaknya tidak akan terwujud. Dengan lemas dan malas, Keysha menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang bertabur bunga mawar. Aromanya masih segar. Ia bisa merasakannya. Jari-jemarinya meraih segenggam kelopak merah itu. Ia lalu menghamburkannya di langit, hingga jatuh berhamburan menimpa dirinya. Perlahan matanya yang memang sudah terasa sangat berat, mulai terpejam. Semakin lama, tingkat kesadarannya sedikit menghilang. Hingga akhirnya ia pun masuk ke alam mimpi. Tak peduli baju kebaya yang masih menempel di tubuhnya. Ia ingin tidur dengan cepat. ** Hampir pukul tiga pagi. Keysha masih berada di posisi yang sama. Tidur dengan segala aksesoris baju pernikahan yang masih melekat cukup sempurna. Pintu kamarnya yang tertutup rapat, terdengar terbuka perlahan. Suara decitannya tidak membuat seorang Keysha bangun. Ia terlalu lelah untuk peduli. Lagi pula ia yakin tidak akan ada yang berani masuk ke kamar pengantin. Rasha yang baru datang melihat istrinya sudah tidur. Tapi, kedua matanya sangat terganggu. Ia merasa istrinya itu gadis pemalas. Bagaimana bisa Keysha tidur dengan baju pengantin yang masih lengkap. “Dasar pemalas, apa dia nggak mandi dulu sebelum tidur.” Rasha melihat wajah Keysha begitu dekat. Begitu merah pipinya, bibirnya juga cukup menggoda. putih dan terlihat halus tiap bagian yang bisa dilihat Rasha. “Hahhhh, ternyata dia cantik juga.” Rasha kemudian menguap. Ia menghirup aroma minuman pemabuk dari dirinya sendiri. “Aku mau mandi dulu. Emangnya aku Keysha yang nggak mau mandi.” Pria itu berusaha bangun. Namun, gagal. Rasa kantuk dan pening di kepalanya membuat tubuhnya berat. Ia terjatuh di samping Keysha. Tak butuh waktu lama, kedua matanya terpejam. Masuk ke dunia mimpi yang sebenarnya sudah diinginkan sejak tadi. ** Mentari sudah bersinar sejak tadi. Panas mulai masuk melalui ventilasi. Menerobos masuk ke dalam kamar Rasha dan Keysha. Keysha menggeliat, cahaya matahari itu sedikit mendarat di kelopak matanya yang masih tertutup. Perlahan dibuka netranya untuk bangun. Belum benar-benar sadar dari tidur. Keysha melihat sebuah punggung cukup lebar dengan balutan kemeja putih. Sepertinya ia kenal. Namun, ia ragu jika punggung di depannya adalah pria yang kemarin mengucapkan akad nikah dengannya. Tiba-tiba punggung itu bergerak. Tubuhnya memutar hingga wajahnya menghadap ke arah Keysha. “Hah, Rasha, ngapain dia tidur di sini?” Keysha memundurkan wajahnya. dilihat seluruh tubuhnya masih menggunakan baju pengantin lengkap. “Ahh, ternyata masih aman,” ucap Keysha lega. Ia kemudian berusaha mencermati wajah Rasha. Begitu berkarakter. Namun, tiba-tiba ia sadar, ada aroma lain yang terhirup dalam nafasnya. “Hahhh, Rasha Hermawan Prayoga, ternyata kamu nggak cuma playboy. tapi juga suka minum-minum. Bahkan di hari pertama pernikahan aja kamu terlihat menyebalkan. Sangat menyebalkan. Tanpa peduli lagi, Keysha segera bangun. Ia langsung menuju kamar mandi. Melepas satu per satu yang menempel di tubuhnya. ** Tubuh sudah terasa segar. Aroma sabun cair yang begitu menenangkan tercium di antara jari jemari Keysha.Ia merasa seperti tuan putri. Untuk pertama kalinya, ia mandi dengan menggunakan bath up. p Padahal biasanya, ia hanya bisa melihat hal seperti ini di dalam tv. “Ya udah, aku nikmatin aja semua fasilitas ini. Itung-itung bisa jadi orang kaya selama empat tahun.” Keysha sudah selesai. Tubuhnya kini terasa lebih segar dan berstamina. Ia pun keluar dari kamar mandi dan mendapati Rasha sedang duduk di tepi tempat tidur. Gadis itu tak peduli. Ia berjalan begitu saja melewati Rasha. “Hey, tunggu!” Rasha mencegahnya pergi ke kamar ganti. Ia kemudian menatap tajam ke arah Keysa. Keysha berhenti melangkah. “Apa!” ia mengatakannya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Rasha. Rasha yang setengah sadar bangun dan berjalan menuju sebuah nakas. Dibuka lacinya dan meraih sebuah dokumen dengan sampul berwarna merah. Tak lupa pena dengan tinta hitam ikut dibawa juga. “Tanda tangani ini!” Rasha menyerahkan dokumen tersebut bersama pulpennya. “Apa ini?” Keysha membuka di dokumen tersebut. “Hah, kontrak pernikahan,” ucap Keysha terkejut. “Ini apa maksdunya?” “Kamu bisa baca kan?” Rasha lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia belum sadar sepenuhnya. Tubuhnya masih lemas dan belum punya banyak kekuatan. Penasaran dengan dokumen di tangannya. Keysha pun membacanya perlahan. Membuka lembar per lembar yang ada. Beberapa poin yang sudah direkam, ia ingat karena begitu sangat merugikan. Ia tidak bisa begitu saja menandatangani kontrak ini. “Kamu pria paling nggak waras yang pernah ku temui.” Keysha melotot memandang kesal. "Kontrak apa ini. Banyak banget poin yang bikin aku rugi." Dilempar dokumen itu ke pangkuan Rasha. Ia tak terima jika kertas-kertas itu mengatur hidupnya selama empat tahun ke depan. "Kamu pikir aku boneka!" "Hey, aku udah buat ini susah payah. Cepat tanda tangani!" Rasha mengambil dokumen miliknya. Berdiri dan menghampiri Keysha yang ikut naik pitam. "Aku nggak peduli. Yang pasti aku nggak mau menandatangani dokumen itu." "Aku bilang! Tanda tangani ini!" Rasha menunjukkan wajah seramnya. Dipegang tangan kanan Keysha begitu kuat dan meletakkan pulpen di sana. "Cepat tanda tangani atau aku ceraikan kamu sekarang." Keysha menelan saliva. Sepertinya neraka dari kehidupannya sudah dimulai. Ia tak mau menandatangani kontrak perjanjian menyebalkan itu. “Apa nggak ada pilihan lain? Aku nggak mau tanda tangani ini!” “Silahkan, kalau kamu nggak mau tanda tangani ini. Yang pasti kita akan bercerai dan kamu bakal balik lagi ke kampung. Emang kamu mau jadi apa di sana?” Rasha seperti orang tak waras. ia mengatakannya dengan nada yang begitu menyakitkan untuk didengar Keysha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN