Saat itu juga, kedua pasang mata antara Keysha dan Rasha saling bertemu. Beradu pandang cukup lama untuk saling menjatuhkan.
Keysha tak paham apa keinginan dan tujuan pernikahan ini bagi Rasha. Pria itu menatapnya seperti malaikat maut yang siap memasukkan Keysha ke dalam neraka.
“Ambil pulpen ini dan tanda tangani. Jangan sampai aku berbuat kasar.” Rasha memerintah sekali lagi. Bahkan ada sebuah ancaman yang terkandung dalam kalimatnya.
‘Aku harus gimana, apa nggak ada kesempatan merubah isi kontrak itu. Kenapa dia jadi mengatur hidupku,’ batin Keysha.
Keysha akhirnya memegang pulpen tersebut. Bergetar tangannya saat akan menandatangani. ‘Ini bukan kontrak pernikahan. Tapi, ini kontrak kematian. Kebebasanku dicabut oleh Rasha. Bagaimana bisa dia berpikir aku akan mau menandatangani kontrak yang begitu berat sebelah ini.’ Kembali batin Keysha berteriak.
Rasha membuka dokumennya, lalu diserahkan pada Keysha. “Tanda tangan sebelah situ!” pinta Rasha.
Keysha sadar masih ada aroma minuman terlarang itu dari nafas Rasha. Ia pun berpikir untuk melawan. Tapi, Rasha belum sadar sepenuhnya. Apa jadinya kalau dia melawan. Apa dirinya akan tamat dan berakhir tragis.
Perlahan ujung pulpen hampir menyentuh lembaran perjanjian. Keysha kembali menatap Rasha. Terlihat jelas wajahnya yang tampan, dingin, tapi sangat menyeramkan. Andai boleh berimajinasi, Rasha sudah seperti raja iblis dengan tanduk merah menyala. Siap menerkam apa yang ada di hadapannya, termasuk Keysha.
‘Bagaimana ini? Ini bukan yang ku mau.’ Keysha berteriak dalam hati. Perlahan goresan tinta dibuat dengan tangan yang gemetar. Kebebasannya telah dijual kepada Rasha Hermawan Prayoga.
Rasha tersenyum melihat Keysha memberikan tanda tangannya, tadinya ia sudah mau menarik Keysha dan menjatuhkannya di atas tempat tidur. Ia membayangkan berbuat sedikit kasar padanya sebagai ganti malam pertama yang sebenarnya tidak akan pernah terjadi.
Namun, niat itu diurungkan. Keysha mau menyematkan tanda tangannya dengan baik di kertas kontrak itu.
“Ya udah cepet pakai baju. Aku nggak mau mataku sakit lihat kamu cuma pakai kimono.” Rasha mengoceh sendiri. Ia kemudian meletakkan kembali dokumen tadi ke dalam laci dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
“Siallll, gimana bisa aku ketemu psikopat kayak dia.” Keysha mengoceh. Ia memandang penuh kekesalan ke arah daun pintu kamar mandi yang ada Rasha di sana.
**
Meja makan dengan ukuran yang cukup besar, bahkan kalau sampai meja itu masuk ke dapur di rumah Keysha, pasti tidak akan muat. Di atasnya tersaji beraneka macam makanan. Begitu menggugah selera. Tapi, tidak untuk Keysha Tiara Putri.
Ia duduk begitu santai di kursinya. Memandang satu per satu penghuni meja. Masih ada kedua orang tua Keysha juga. Namun, jelas terlihat tidak ada guratan senyum terpancar. Keysha begitu diam dan tak bersemangat.
Berbanding terbalik dengan raut wajah kedua orang tua Keysha. Tak ada binar kesedihan, yang ada sukacita begitu mendalam terbentuk melalui cara mereka menikmati hidangan pagi ini. Sesaat, bu Linda melihat sekilas pada Keysha.
"Kenapa makanannya cuma dilihat aja, Key?" Bu Linda menatap penuh telisik. Ia seorang ibu yang sangat tahu kondisi putrinya. Memahaminya dengan penuh makna.
Keysha melepas senyuman yang sejak tadi belum terlihat. "Ah iya Bu, Keysha bingung lihat makanannya, banyak banget!"
Mendengar itu, sontak saja, seluruh penghuni meja makan yang hadir tertawa renyah. Termasuk pak Prayoga, suaranya bahkan membahana begitu keras di ruang yang begitu luas itu.
Rasha yang sedang turun selangkah demi selangkah melalui tangga, terkejut mendengar keriuhan barusan. Ia sedikit penasaran. Langkahnya yang berjalan pelan, dibuat sedikit agak cepat.
'Ada apa sih? Ramai banget,’ batin Rasha.
Dipandang dari jauh, meja makan memang begitu ramai. Pak Prayoga melihat putranya sudah datang untuk sarapan. “Lama banget sih Nak. Kamu itu, biasanya selalu on time, apalagi kalau urusan pekerjaan.”
“Rasha masih capek Pa!” sahut Rasha sambil menyeret salah satu kursi untuk duduk.
Pak Prayoga melihatnya dengan aneh. “Kok kamu duduknya di situ, bukannya di dekat istri sih.”
Rasha menghentikan gerakannya, ia memandang sekeliling. Memang seharusnya mereka duduk berpasangan. Namun, Rasha justru meraih kursi yang ada di samping bu Linda, bukan di samping Keysha.
Keysha hanya menunduk, menyibukkan diri dengan gelas minumannya. ‘Istri! Ahhh, aku bukan istrinya Om prayoga,’ batin Keysha ingin berteriak.
Rasha pun tersenyum, ia berpura-pura lupa. “Iya Pa, Rasha lupa,” ucapnya sambil melirik tajam ke arah Keysha. Begitu dalam dan bermakna lirikan itu. Sampai-sampai, Keysha yang tanpa sengaja menangkap lirikan tadi, begitu terkejut.
‘Heyyy, kenapa kamu melihatku kayak gitu sih! Aku juga nggak mau duduk sebelahan sama kamu.” Kembali Keysha berbicara sendiri dengan perasaannya, ia pun segera memalingkan muka lagi.
Rasha akhirnya duduk tepat di samping istrinya. Begitu senang kedua orang tua masing-masing. Mereka pada akhirnya merasakan keluarga yang utuh.
“Nah … gitu dong. Kamu tahu nggak Sha?” Pak Prayoga kembali mengajak berbicara penghuni meja makan.
“Tahu apa Pa,” sahut Rasha.
“Dengan kehadiran Keysha, istri kamu ini bikin meja makan rasanya ramai sekali. Papa bangga punya mantu kayak dia.”
Sontak saja Rasha tersenyum lagi. Ia rasanya ingin meremukkan gelas di hadapannya. Sayangnya, itu hal mustahil. Yang pasti bukan itu yang diinginkan papanya. “Keysha gadis yang baik dan pintar. Rasha sangat mencintai Keysha, Pa. Rasanya aku bersyukur Papa udah kenalkan aku sama dia.” Rasha kembali mengeluarkan kata manisnya.
‘Untung aku nggak muntah,’ batin Keysha yang mendengar ocehan suaminya sendiri. Rasanya ia ingin segera mengakhiri acara sarapan pagi. Sebelum, perutnya benar-benar mual dan harus mengeluarkan isi perutnya sendiri.
**
Sarapan pagi berjalan begitu lama. Ada makanan yang sulit ditelan oleh Keysha. Ia menyadari Rasha begitu lihai merayu seluruh anggota keluarga. Bahkan kedua orangtuanya juga semakin yakin untuk membiarkan dirinya tinggal bersama suaminya tersebut.
Sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain pasrah dan menerima. Ia harus mau menjadi istri pura-pura. Sementara ini, dirinya akan meyakinkan hati untuk mengikuti permainan sorang Rasha Hermawan Prayoga.
“Lebih baik aku mulai menyusun rencana. Aku nggak mungkin cuma diam saja selama empat tahun ke depan. Aku harus berjuang juga buat punya masa depan. Minimal, nanti aku bisa jadi orang sukses setelah menjai janda dari seorang Rasha. Ahhhhhh, aku capek.”
Keysha berusaha berpikir jernih. Ia mungkin hanya seorang gadis biasa dari desa. Tapi, ia punya tujuan yang harus diperjuangkan. Sementara ini, ia harus memastikan kampus mana yang akan dituju.
“Nyonya Keysha!” panggil salah seorang asisten rumah tangga yang sedang membersihkan meja makan.
“Eh iya! Ada apa?”
“Maaf Nyonya, Tuan Rasha menyuruh Nyonya untuk bersiap-siap,” terang asisten tadi.
“Iya Bi! Kalau gitu, saya siap-siap dulu!” Keysha bangun dari kursi makan. ia dengan malas melangkah menaiki anak tangga demi anak tangga.
Asisten rumah tangga Pak Prayoga itu menatap kepergian Keysha. Ia heran melihat majikan mudanya itu tampak tidak bersemangat. “Aneh, jadi istri orang kaya kok nggak keliahtan senang. Apa mungkin Nyonya Keysha nggak cinta sama Tuan Rasha ya. Ahhh, ngapain aku jadi rempong sih. Lanjut bersihin meja makan dulu.”