Pria Kurang Waras

1220 Kata
Keysha tak habis pikir, apa tujuan pernikahan ini bagi Rasha. Ia terus mengingat hal itu. Jika dirinya sendiri sudah jelas tujuan melakukan ikatan dengan ijab ini. Tak lain, hanya untuk melanjutkan kuliah di kota, di bawah pengawasan Rasha sebagai suaminya. Akan tetapi, bagaimana dengan Rasha. Apa yang diinginkan dari pernikahan ini. Mengapa dia mau melakukan jika memang dirinya sudah memiliki kekasih di luar sana. “Ahhhh, kenapa aku jadi mikirin hal nggak penting sih.” Keysha memegang keningnya. Menekannya cukup keras sambil memejamkan mata. Tiba di dalam kamar, gadis itu segera bersiap-siap. Hal mengejutkan terjadi, Rasha tiba-tiba muncul. Memandangi Keysha dari belakang yang sedang bercermin di meja kamar. “Sampai kapan kamu mau berada di situ. Orang tuamu sudah menunggu untuk melihat rumah baru kita,” celetuk Rasha sambil memandang kesal pada Keysha. “Dasar! Kamu sadar nggak, orang tuaku ya orang tuamu juga.” Keysha sedikit berteriak. Rasanya ada ngilu saat Rasha mengucapkan kata orang tuamu dengan begitu enteng. Seolah orang tuanya tidak berarti apa-apa baginya.“Apa kamu pengen aku juga berpikir Om Prayoga itu bukan orang tuaku!” Rasha berjalan mendekat. Ia lantas menatap bayangan Keysha yang memantul di cermin. “Kamu pikir kita suami istri yang sesungguhnya.” Keysha mengepalkan tangannya. Ada emosi yang semakin menumpuk dan bertambah. “Minimal kamu hargai orang tuaku!” “Memangnya selama ini yang aku lakukan apa. Aku menghargai mereka. Kamu aja yang nggak peka.” Rasha menundukkan diri. Didekatkan wajahnya tepat di telinga Keysha. “Aku cuma bicara seperti ini sama kamu. Biar kamu ingat kalau di antara kita hanya ada pernikahan sementara. Bukan pernikahan pada umumnya.” Keysha membelalakkan mata. Ia lalu menoleh tepat di depan wajah Rasha. Dilihat dari jarak sedekat itu. Guratan ciptaan Tuhan yang diberikan pada Rasha begitu sempurna. Ia begitu tampan dan ada kharisma yang bisa dilihat. “Hahhhhh.” Nafas Keysha dibuang kasar dan panjang. “Tenang aja! Aku ingat kok. Yaya makasih juga, kamu baik banget kalau di depan orang tuaku. Aku juga bakalan baik di depan Om Prayoga.” “Kalau gitu, lain kali jangan pasang wajah cemberut kalau ada aku datang. Kamu pikir aku nggak tahu, kamu kesel kan pas aku duduk di sebelahmu tadi waktu di meja makan.” Sontak Keysha berdiri dan kepalanya membentur dagu Rasha cukup keras. “Ahh,” keluh Rasha merasa sakit. Sontak ia membulatkan mata menatap kesal pada Keysha. “Kamu pengen bikin aku terluka?” Keysha menunjukkan kekesalannya. Ia bahkan membuang nafas kasar tepat di depan wajah Rasha. “Kamu pikir, wanita mana yang nggak kesel dapat suami kayak kamu.” Sepersekian detik kemudian, Rasha sudah melupakan rasa sakitnya. Ia pun mendekati Keysha yang terlihat emosi. “Kamu kira di luar sana nggak ada wanita yang mau jadi istriku. Kamu harusnya beruntung bisa jadi pendampingku meski hanya empat tahun. Udah cepetan ganti. Ingat! Dalam perjanjian kontrak kita. Apapun sikapku, kamu nggak boleh marah atau kesal. Sampai sini, harusnya kamu paham.” Pria itu kemudian berjalan keluar kamar, meninggalkan Keysha yang sedang kesal. “Dasar pria aneh, super aneh. Sok ganteng. Tapi emang ganteng. Ahhhhh … ngomong apa sih. Jadi, pengen nampar mulut sendiri.” Keysha benar-benar terganggu emosinya. ** Dengan langkah cepat, dan tampak tak bisa tersenyum. Keysha berjalan mendekat ke arah kedua orang tuanya dan Pak Prayoga. Ia datang dengan penampilan apa adanya. Tanpa ada yang berubah dari penampilannya saat sarapan tadi. Sontak saja, seluruh asisten rumah tangga yang sempat melihat penampilan dari seorang istri Rasha Hermawan menatap aneh dan sinis. Bagaimana bisa seorang nyonya besar yang masih muda hanya berpenampilan ala kadarnya. Tak ada sentuhan make up sama sekali. Bahkan wajahnya terlihat pucat. “Tidak menunjukkan kelas.” “Padahal pacar Tuan Rasha cakep-cakep.” “Apa Tuan Rasha nggak salah pilih istri.” “Aku kira istri Tuan Rasha akan super cantik. Ternyata di bawah rata-rata.” Samar Terdengar di telinga Rasha ucapan dari para asisten rumah tangga. Ia sendiri tak menyangka Keysha akan melakukan hal ini. Dilihat bagaimanapun. Tidak salah jika para asisten di rumahnya berpendapat demikian. Penampilan Keysha memang terlalu biasa. Bahkan mahkota hitam yang selalu menjadi kebanggaan setiap wanita hanya diikat seperti ekor kuda. “Sialll, dia benar-benar bikin aku malu. Beruntung ini bukan acara tunangan atau pernikahan. Sayangnya, aku sudah terikat sama dia dalam ikatan pernikahan. Ahhh, kepalaku semakin pusing.” Rasha berbicara sendiri dalam hati. Ia coba bersikap tenang. Ditarik salah satu tangannya yang berada dalam saku celananya. ‘Aku harus tetap waras,’ batin Rasha lagi. Ia pun melempar senyum seolah hatinya sedang berbunga-bunga. “Kamu cantik!” ucap Rasha sambil membukakan pintu mobil untuk Keysha. Keysha tak kalah manis dengan senyumnya. ‘Pura-pura, senyum palsu. Pasti dalam hati kamu, kamu ngerasa kesal kan, karena aku nggak banget buat jadi istrimu. Hah, rasakan!’ batin keysha merasa menang. Melihat Keysha sudah masuk ke dalam mobil. Pak Prayoga akhirnya mengajak kedua orang tua Keysha untuk segera masuk ke dalam mobil yang juga sudah disiapkan. “Ayo Rahman. Kita ikut masuk juga ke dalam mobil!” ajak Pak Prayoga menunjuk mobil yang sudah siap dengan sopirnya. “Ayo! Aku udah nggak sabar sebenarnya.” ** Sebuah rumah yang sangat besar berdiri dengan megah. Ada pagar berwarna putih menambah kesan mewah dan mahal. Tak hanya itu, saat baru masuk. Setiap mata memandang akan disuguhkan taman bunga yang cukup indah. Letaknya di halaman samping yang bisa dilalui dari halaman depan. “Rumah yang bagus!” puji Pak Rahman. “Nak, kamu harus jadi istri yang baik ya. Lihat rumah ini, bagus sekali.” Bu Linda menggandeng tangan putrinya. Mengajak berjalan bersama menikmati pemandangan yang belum pernah mereka lihat secara langsung. Biasanya b u Linda dan Keysha hanya bisa melihat rumah semewah ini di televisi. Lagi-lagi Keysha harus merasakan dua perasaan yang saling bertolak belakang secara bersamaan. Ia bahagia melihat ibunya tersenyum seperti sekarang. Namun, hatinya tak bisa menolak jika ada bagian perasaannya yang sedih, pilu dan merasa tersakiti. ‘Aku harus banyak-banyak lihat senyum ibu. Biar aku bisa kuat dan tegar. Hidupku yang sebenarnya, baru akan dimulai. Selamat datang di neraka ciptaan tuan Rasha. Hah, benar-benar menyebalkan sekali,’ batin Keysha. Pak Rahman tak bisa berhenti memuji rumah baru itu. Ia begitu terkesan. Apalagi Pak Prayoga juga tak berhenti memuji Keysha. “Jadi, kapan mereka bisa tinggal di sini?” tanya pak Rahman kepada pak prayoga yang berdiri di sebelahnya. “Sekarang juga bisa, di dalam sudah ada beberapa baju Rasha. Kalau Keysha tinggal beli aja. Kan di dekat sini juga ada butik yang cukup bagus,” terang Pak Prayoga. “Kalau gitu, kami berdua langsung saja pamit. Kami berdua sudah sangat lega dan tenang meninggalkan Keysha di sini.” “Kenapa cepat sekali. Bukannya barang bawaan kalian masih ada di rumah?” tanya Pak Prayoga. “Nggak banyak, cuma beberapa baju biasa. Biar itu ada di sini. Nanti kalau kami ke sini lagi, nggak perlu bawa apa-apa.” Keysha ternyata ikut mendengar percakapan sang Ayah. Ia pun berjalan mendekat. Tak mungkin dirinya akan bisa melepaskan ayahnya untuk pulang ke desa. “Ayah mau balik sekarang?” tanya Keysha. “Iya Nak!”’ “Tapi! Ayah emang nggak mau menginap di sini sehari aja!” Keysha memasang wajah memelas. Ia seperti anak kucing yang tak mau ditinggal induknya mencari makan. “Enggak Nak. Kita harus secepatnya pulang. Ayah kan harus segera buka usaha kita. Kalau enggak, pelanggan bengkel bisa hilang semua. Kan sudah ditinggal beberapa hari untuk acara pernikahan kamu kemarin,” Mendengar penuturan sang ayah. Keysha hanya bisa lemas. Ia tak bisa menahan ayahnya kali ini. Ibunya pun mengusap pundak miliknya agar membiarkan mereka pulang sekarang. “Apa kalian benar-benar akan meninggalkanku bersama pria itu. Dia kurang waras Bu. Andai aku bisa mengatakannya tanpa peduli apa yang akan terjadi setelah ini,’ batin Keysha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN