Aku menatap sekeliling mencari Mas Brian ada di mana. Mendengar suara air dari kamar mandi, sepertinya dia sedang mandi.
Benar, kan, tidak lama dia ke luar dengan sambut basah dan tentunya wajah glowing yang membuat aku semakin terpesona.
apalagi arti status istri yang hanya bisa mengagumi suami pura-puranya. Tidak terbayang saat kontrak itu berakhir, hal indah pun mungkin sudah sampai di sana saja.
"Heh, terpesona liat aku, ya?"
"Ih, enggak." Aku membuang muka saat pria di hadapanku memuji dirinya sendiri. Malas sekali mendengarnya.
Aku gegas ke kamar mandi selain menghindar, ini pun sudah pagi enggak etis kalau Mas Brian sudah mandi aku belum.
"Aku duluan ke bawah, ya. Kamu nyusul aja, bisa, kan?" tanya Mas Brian .
"Iya, Mas, bisa. Nanti aku turun!" Aku berteriak dari dalam kamar mandi.
Semalam ia mengatakan akan bertemu dengan Mas Erik, tapi enggak tahu jam berapa. Aku lagi enggak mood mandi, setelah sabunan dan sikat gigi aku langsung bergegas memakai baju.
Di depan lemari, bingung memilih baju mana yang akan kupakai. Baju baru beli kemarin belum sempat aku cuci. Namun, tidak masalah kalau dipakai.
Bau baju baru tidak apalah. Hanya Mas Brian ini yang tahu. Sesekali jorok tidak masalah. Setelah rapi, gegas aku menyusul MaS Brian ke bawah.
***
Netraku mencari-cari di mana Mas Brian, tapi tidak menemukannya. Di mana dia, ya? Aku terus berkeliling mencari sosok suami tampanku.
Nah, itu dia. Mataku menyipit, itu Alena? Sedang apa dia? Kok bersama Mas Brian. Kupercepat langkah menghampiri mereka, tapi terhenti ketika sedikit kudengar percakapan antara mereka.
"Ternyata, aku tidak bisa berhenti melupakanmu, Bri. Kembalilah padaku Bri, aku siap menjadi yang kedua. Bahkan, aku siap menunggu kamu menceraikan istrimu." Alena seperti tak punya urat malu berbicara seperti itu. Aku meremas ujung bajuku gemas.
"Kamu gila Alena!" pekik Mas Brian.
"Iya, aku gila, karena aku begitu mencintai kamu. Mungkin perempuan kampung itu tidak akan bisa memuaskan kamu di ranjang. Namun, aku bisa buat kamu tak bisa melupakannya." Mas Brian terlihat menepis tangan Alena yang mencoba meraih tangannya.
Bagai tersambar petir di siang bolong, hatiku kacau. Perih, seperti ada luka baru yang membuat perih di semua nadiku. Perlahan aku mundur, mencoba tenang walau perih mendengarnya.
Dengan terang-terangan dia meminta suamiku kembali kepelukannya. Ya Tuhan, harus berbuat apa aku? Kenapa begitu perih mendengarnya. Padahal aku dan dia hanya suami istri kontrak. Namun, pedihnya luar biasa.
"Fit, ngapain kamu di sini?" Ternyata Alena datang bersama Mas Erik.
"Eh , Mas Erik. Dari mana?" tanyaku berbasa-basi.
"Tadi aku pesan minuman buat Alena, yuk ke sana," ajak Mas Erik.
Aku mengikuti Mas Erik. Berpura-pura tidak mendengar apa yang aku dengar tadi. Lebih baik seperti itu dari pada harus bertengkar di sini.
"Sayang, nih minuman kamu." Mas Erik memberikan pada Alena.
"Makasi," ucapnya. Dia menatapku sinis, tanpa takut aku balik menatapnya.
"Mas, aku kira kamu di mana. Aku pikir kamu sama pelakor, eh taunya sama pacarnya Mas Erik," ucapku sembari meliriknya.
"Hus, kalau ngomong." Mas Brian melotot padaku. Mungkin dia tidak enak pada Erik.
"Hus, apa Mas? Kalau ngomong suka bener, ya?" ucapku sambil melirik Alena yang gugup saat aku kembali meliriknya.
"Dasar manten baru. Bawaan nya curiga mulu," ledek Mas Erik.
Mas Erik itu orang baik, nggak pantes di sakiti Alena. Harusnya dia dapat wanita yang lebih dari dia.
"Iya, Mas, kan nggak lucu baru nikah udah jadi janda." Aku menimpali.
Mas Brian menarik ke sisinya. "Kita makan aja Fit, urusanku sama Erik sudah selesai. Di depan, sebrang apartemen ada kafe besar, makanannya juga enak. "
"Nggak, aku mau ke kamar aja," kataku kesal.
"Iya, udah, Rik gue masuk, ya. Lo jadi balik apa masih lama? "
"Jadi, nih gue langsung balik bro."
Aku langsung menarik tangan Mas Brian. Melihat tatapan Alena membuat aku muak. Apalagi saat dia menatap suami tampan aku. Rasanya begitu menyebalkan.
***
Aku menghampiri Mas Brian yang duduk santai di sofa. Sedari tadi dia sama sekali tidak menegurku. Hanya mengotak ngatik kerjaannya di laptop. Sesekali dia menelepon, dan berkutat lagi dengan laptopnya.
"Mas, aku mau tau kenapa kamu dan tante medok itu putus?"
Mas Brian mengerjapkan mata saat mendengar apa yang aku katakan. Mungkin aneh mendengar pertanyaan dariku.
"Tante medok?" Mas Brian menegaskan lagi.
"Mantan kamu."
"Aku malas bahasnya. Itu sudah masa lalu."
"Tapi kenapa dia masih mengejar? Bahkan rela menjadi maduku!" Seruku kesal.
Mas Brian mendekatkan posisi duduknya di sampingku. "Kamu jangan sok tahu."
"Aku nggak sok tahu, aku memang tau. Aku dengar semuanya Mas," balasku sengit.
"Jangan ikut campur masalahku. Kita cuma pura-pura menikah, jangan libatkan perasaan kamu," ucap Mas Brian.
Apa ini, jangan melibatkan perasaan? Apa aku tidak salah mendengarnya? Apa yang harus aku lakukan saat ini? Hatiku rasanya rapuh begitu saja.
"Mas bilang jangan pakai perasaan? Mas Brian pikir, Mas Brian bisa seenaknya. Aku punya perasaan Mas, aku wanita. Setidaknya walau aku istri pura-pura tapi siapa yang nggak perih Mas, baru nikah udah usilin sama pelakor. Ingat Mas, kamu yang ngajak mulai duluan. Bukan aku!" teriakku lantang.
"Terus mau kamu apa? Kenapa kamu jadi marah sih sama aku?" tanya Mas Brian tak kalah keras.
"Kalo Mas mau balik sama dia, lebih baik dari sekarang. Jangan menyiksaku dengan pernikahan pura-pura ini. Nggak enak Mas, lagi sayang-sayangnya di putusin," balasku.
"Ck! Menyiksamu? Jangan-jangan kamu mencintaiku?"
"Kalau pun aku mencintaimu, aku tidak mau berjuang mencintai yang tidak mencintaiku. Sakit Mas, cukup sekali dan tak akan pernah lagi."
"Fit, jangan bahas lagi."
Aku pergi dengan membanting pintu. Kupercepat langkahku, entah aku harus kemana. Rasa sesak di d**a sungguh menyiksaku. Seandainya aku bisa curhat dengan si Murni, tapi itu tidak mungkin.
Anda aku tak terpesona dengan pria itu, mungkin aku masih aman dengan hidup biasa saja tanpa memikirkan suami pura-pura dan perasaan yang kian hari semakin menjadi.
Sejak lama aku pun merasa memang mulai menyukai majikanku. Akan tetapi, itu hanya khayalan dan tanpa di duga berubah menjadi kenyataan.
Harusnya aku ingat kata Bulek, aku dan dia bagaikan langit dan bumi. Memang bertolak belakang dan aku pun memaksakan. Jadi seperti ini, merasa sakit ya, sendiri.
Aku menginjakkan kaki entah di mana, gedung mengulang tinggi membuat aku bingung harus pergi ke mana.
***