Kuedarkan pandangan kesekeliling kafe yang ramai ini, tapi aku terasa sepi. Sejak pertengkaran dengan Mas Brian aku memilih duduk di kafe dekat apartemen.
Suara merdu sang penyanyi membuat lagu yang dinyanyikan terasa dalam ke hati. Jus strawbery yang kupesan terasa hambar, aku hanya menganduk hingga terlihat busa mengembang.
"Ada yang mau reques lagu?"
Aku mengangkat tangan, penyanyi itu datang menghampiri di mana aku duduk.
"Nama kakak siapa? " tanyanya halus. Dari dekat wajah pria itu terlihat sangat tampan. Kiranya seumuran denganku.
"Fitri," jawabku pelan.
Dia tersenyum manis, aroma maskulin tubuhnya terasa sekali.
"Mau reques lagu apa ka? "
"Utopia, baby doll."
"Siap, ka."
Pria itu melangkah ke atas panggung lagi.
"Untuk Kak Fitri yang ada di sana!" teriaknya.
Sepenggal lagu itu membuat hati semakin sakit. Seperti apa yang di lakukan Mas Brian padaku.
Jatuh cinta itu tidak enak. Rasanya indah jika terbalaskan, tetapi perih saat mendapat penolakan.
Aku Fitri, anak kemarin sore. Aku masih anak baru gede yang sudah sering menerima penolakan. Bahkan, karena aku hanya orang miskin yang tak punya banyak uang.
Umurku masih 19 tahun, saat dua tahun yang lalu aku dijodohkan dengan pria kota. Anak dari juragan sapi di kampung. Mereka sangat menyayangiku hingga mereka ingin menjadikan aku menantu.
Aku teringat saat penolakan itu.
"Yang benar saja! Gadis kampung ini mau dijodohkan denganku." Lantang suara Ghani, anak laki-laki Pak Dadang dan Bu Widya menolakku.
Perjodohan tidak berlangsung, Nenek menolak saat itu karena tidak ingin aku tersiksa
Namun, sekarang aku malah terjerat pernikahan pura-pura yang sangat menyiksaku.
"Sendiri aja?" Lamunanku terhenti saat lelaki yang kulihat di panggung sekarang berada disampingku.
"Yang kamu lihat?"
"Namaku Syauqi, temen-temen memanggilku Coky." Dengan pedenya dia memperkenalkan dirinya.
"Coky? Kaya nama cokelat," ledekku sambil tersenyum tipis.
Dia mengangkat bahunya. "Yup, semua orang pasti bicara seperti kamu."
"Kenapa kesini? "
"Aku hanya ingin tahu, kenapa aku seperti tertarik magnet. Ternyata ada gadis cantik yang duduk sendirian."
"Magnet?"
"Iya magnet, kamu seperti magnet yang bisa menarik lawan khusus. Contohnya aku, mungkin Tuhan mengirimkan aku khusus untuk menghibur kamu dan membuat kamu tersenyum," jawab Coky sambil tersenyum menatapku.
Tatapannya sangat hangat, tapi aku takut ia orang jahat.
"Susah kalo musisi, hobbynya merayu. Terima kasih lagunya."
"Kembali kasih." Senyum manis terpancar dari wajah Indonya Coky. Entah, blasteran apa dia, tapi sangat lucu. Mungkin karena kami sepertinya seumuran.
"Sudah selesai manggungnya?" tanyaku sok akrab.
"Belum, lagi istirahat aja. Kamu sendirian di sini?" Coky mengulang pertanyaan yang tadi tak aku jawab.
"Iya, aku lagi pingin aja," jawabku singkat.
"Kamu tinggal di mana? "
Aku menunjukan apartemen seberang kafe ini.
"Wow, kamu tinggal di apartemen itu? Aku juga, semenjak aku SMA aku sudah tinggal di sana. Lantai berapa?"
"Lantai 10."
"Lantai 10? Tower apa? "
"C. "
"Kamu siapanya Mas Brian?"
"Kamu kenal Mas Brian?"
"Iya, Mas Brian temanku. Saat aku SMA Mas Brian selalu mengajariku tentang pelajaran ekonomi. Kadang kami suka bermain basket
bersama. Dia seperti kakakku."
Apa yang harus aku jawab. Jujur aku adalah istri Mas Brian? Atau menyembunyikannya?
"Aku ... aku istri Mas Brian."
"What? Istri Mas Brian?"
"Kamu kaget?"
"Yup, karena mungkin kita seumuran dan aku kira kamu sepupu Mas Brian," ucapnya.
"Coky, berapa umur kamu? "
"20 tahun."
Umurnya beda setahun denganku. Pantas saja aku seperti merasa kebali kemasa sekolah. Sesara mengobrol dengan teman sekolah.
"Well, kapan kalian menikah? Kenapa dia tak mengundangku? "
"Dua hari yang lalu."
Coky mengerjap, "Andai saja aku yang lebih dulu bertemu kamu Fitri, mungkin kamu bisa menjadi teman dekatku."
"Berhentilah membuat rayuan receh," ejekku.
Coky tertawa, aku suka tawanya. Tawa seorang tanpa beban.
"Aku akan meminta izin Mas Brian buat jadi temanmu. Dia tidak akan menolak asal aku tidak meminta izin memilikimu hahahaha .... "
Selera humornya Coky sangat tinggi. Malam ini dia membuat kepenatanku hilang. Sedikit membuat aku merasa menjadi yang spesial.
"Aku ada setiap senin-kamis. Jam delapan malam yah," ucapnya.
"Siapa yang tanya."
"Kali aja kamu mau lihat aku nyanyi lagi," ucapnya pede.
Aku pamit pulang, aku mengantuk mungkin aku lelah.
"Ketika kamu sedih, ingat akan ada orang yang akan menghapus kesedihanmu. Maka carilah aku." Pesan Coky padaku.
***
Kubuka perlahan pintu apartemen. Sudah gelap, mungkin Mas Brian sudah tidur. Mana mungkin dia menungguku.
"Astagfirullah," ucapku kaget saat lampu menyala.
Mas Brian duduk di sofa, menatapku dengan tatapan entah tatapan apa.
"Dari mana kamu?"
"Mas peduli? "
"Aku bertanya, kemana saja kamu?"
Aku tak mengiraukan pertanyaan Mas Brian. Kutinggalkan saja dia, dan masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuh di atas ranjang empuk ini.
Untuk apa menjawab, toh dia tidak memperdulikan aku. Mencariku saja tidak, bagaimana bisa dia menghawatirkan aku.
Teringat lantunan indah suara merdu Coky, kenapa Mas Brian tidak bisa memperlakukan aku seperti Coky memperlakukan aku?
"Kamu sudah tidur?" Mas Brian tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
Aku meringkuk, kupejamkan mata. Anggap saja aku sudah tertidur.
"Aku tahu kamu belum tidur. Jangan pura-pura tidur. Kubuatkan cokelat hangat sebagai permintaan maaf yang tadi," ucapnya sambil duduk di tepi ranjang.
"Kalo nggak bangun juga, terpaksa aku memelukmu."
Aku langsung beranjak bangun. Takut dengan ancamannya. Awal dari sebuah pelukan adalah hal menjurus ke yang lain.
"Mana cokelat panasnya?" tanyaku masih dengan wajah masam.
"Maafin aku dulu," candanya.
Tampa pikir panjang aku mengambil alih cangkir cokelat panas di tangan Mas Brian.
"Enak? Suka nggak?" tanyanya lagi.
"Enak Mas, makasi."
"Udah maafin aku, kan?"
"Iya," jawabku singkat.
"Iya apa? Yang ikhlas dong maafin akunya," rengeknya.
"Iya, aku ikhlas."
Mas Brian membelai pucuk rambutku. "Makasi ya, nite Fit. Semoga mimpi indah," katanya pelan.
Aku menatap punggung Mas Brian yang semakin menjauh. Kurasa ada getar yang sangat hebat di hatiku. Dia membelaiku, andai saja bukan karena rasa bersalahnya.
***
Mas Brian duduk santai sambil menikmati s**u cokelat buatanku.
"Mas, sampai kapan cuti?"
"Sampai aku bosan."
Jawaban tak masuk akal. Apa tidak membuat pekerjaan menumpuk saat dia tidak bekerja.
"Mas," panggilku lagi.
"Apa lagi? "
"Mau makan apa? Nanti aku masakin, tapi aku mau nyuci baju dulu."
"Apa saja, lidahku selalu cocok dengan makananmu. Jadi masaklah yang kamu mau." Melayang hati ini saat Mas Brian selalu memujiku.
"Mas, boleh aku tanya sesuatu? " tanyaku sambil duduk di sampingnya. Mas Brian tak bergeming.
"Tanya apa? "
"Mas, waktu aku dengar Alena berbicara, masalah memuaskan di ranjang itu apa Mas?"
"Apa?" Mas Brian tampak syok mendengar pertanyaan. Apa yang salah?
"Memuaskan di ranjang itu apa Mas? Aku ingin tahu." Aku merengek padanya.
Mas brian menelan Saliva, nafasnya terlihat tidak teratur. Netranya menatapku, aku heran kenapa dia tak menjawab.
"Kamu polos apa bodoh? Apa pura-pura bodoh?"
"Mas, berhenti bilang aku bodoh." gerutuku kesal. Bukan jawaban yang aku terima tapi ledekan yang aku dapat.
Mas Brian memberikan ponsel kepadaku. "Cari aja nih, coba nanti kamu bilang padaku apa artinya."
Aku mengikuti saran Mas Brian. Mengetik apa itu arti memuaskan di ranjang. Aku menutup mulutku, astaga jadi ini artinya. Jadi Alena ingin memuaskan Mas Brian di ranjang? Nggak boleh, dia milikku.
"Kenapa? Udah tahu artinya? "
Wajahku merona, aku malu untuk menjelaskan apa artinya itu. Mas Brian masih menatapku.
Aku bangkit dan buru-buru ke dapur. Sialnya aku terjatuh.
"Kamu nggak apa-apa Fit?" tanya Mas Brian.
"Awww ... nggak apa-apa gimana? Bantuin dong jangan nanya doang! " aku terus sewot memarahi Mas Brian.
Mas Brian langsung mengangkatku, dia membaringkanku di sofa.
"Mana yang sakit?"
"Kaki, Mas. "
"Makanya jalan hati-hati, makanya jangan di bayangin ranjangnya." Mas Brian memijit kakiku yang sakit.
"Aww... Sakit," ucapku. "Loh Mas, kok mata kamu merem? "
"Jangan gerak, kalo kamu gerak nanti rok kamu ke angkat. Tuh, kelihatan, kan, celana dalamnya, makanya aku tutup mata."
Aku buru-buru menurunkan baju tidur terusanku. Aku lupa, karena sakit reflek aku menarik kaki.
"Sudah, nggak usah diterusin." Aku mencoba menutupi wajah merahku.
"Serius udah nggak sakit?"
"Nggak." Aku menjawab dengan memalingkan wajah.
"Ya sudah istirahat saja. Apa kamu mau aku panggil tukang urut? " tanyanya
"Nggak usah Mas, aku nggak apa-apa."
"Nggak usah masak, aku beli aja nanti," ucapnya.
Rasa sakit di kaki masih berasa nyut-nyutan. Gara-gara celana dalam nih. Akh ... malu banget rasanya.
"Udah jangan malu gitu, baru keliatan luarnya aja sampe begitu mukanya. Gimana dalamnya? " Mas Brian meledek dengan nada jahil. Kulepar saja dia pakai bantal yang ada.
***