Sembilan

1071 Kata
Akibat insiden celana dalam, aku malas menggunakan dress lagi. Sengaja kuminta Mas Brian membelikan baju tidur yang satu stel dengan celana panjang. Pria di hadapanku masih saja menertawakan kejadian semalam. Katanya kalau tidak kuat, dia akan menjebol sesuatu. Menyebalkan bukan ucapannya. "Sudah tertawanya?" "Belum. Belum, puas." "Mas, belikan, ya?" Aku merajuk padanya. "Ngga usah beli lagi, mendingan pakai dress saja. Sexy Fit, aku suka." Mas Brian menaik turunkan alisnya. Sungguh suami pura-puraku sangat menyebalkan. "Mas." "Sudah, enggak usah, apalagi kalau kamu—“ "Apa?" Aku membulatkan mata sekaligus berkaca pinggang. "Ngga pakai baju," ucapnya sambil berlari masuk ke kamar mandi. Kugedor keras pintu kamar mandi. Kesal sekali aku padanya. Seenaknya berbicara, memang aku w**************n seenaknya saja bicara menyebalkan. "Buka, Mas, buka!" teriakku "Mau apa? Aku sudah buka baju, kamu mau mandi bareng?" Terdengar teriakan dari kamar mandi. Argh ... menyebalkan sekali dia. "Ogah!" Aku mendekus kesal, dasar pria m***m. Pikirannya kotor sekali. Susah kalau bujang lapuk. Memang Mas Brian itu sangat usil. Apalagi kalau sudah mulai mengejekku, rasanya dia belum puas kalau belum membuat aku jengkel. Aku lupa cerita padanya tentang pertemuanku dengan Coky. Semua ini gara-gara ... aduh malu sekali kalau mengingat hal itu. Sebel. Terdengar suara bel, aku segera melangkah untuk membukakan pintu. Siapa yang datang sepagi ini? Aku gegas membual pintu dan begitu terkejut saat melihat siapa yang datang. Kejutan sekali saat melihat Coky ada di hadapanku. Mau apa dia sepagi ini? Pria itu tersenyum sangat manis, mengalahkan gulali. "Hey, Fit," sapanya. "Hay, masuk." Aku mempersilahkan Coky masuk. Aku cemas Mas Brian marah karena aku tidak bercerita bertemu dengan temannya. Kali saja dia cemburu, aduh kenapa aku jadi percaya diri sekali. Aku meminta Coky untuk menunggu Mas Brian yang masih di kamar mandi. Lagi-lagi aku meleleh oleh senyum si opa Korea ini. Umurnya berbeda denganku. Pantas saja dia lebih muda. Yah, masih tampan suami pura-puraku, sih. Itu tidak ada duanya. Mas Brian ke luar dari kamar mandi. Sama sepertiku, dia terkejut melihat Coky. Namun, akhirnya menjadi santai "Cok, kok tahu aku di sini?" tanya Mas Brian. "Semalam aku bertemu Fitri, saat kami kenalan, ternyata dia istri Mas. Kenapa aku tidak diundang?" Coky bertanya sambil menyeruput teh yang kubuat. Mas Brian melirik, aku tahu dia pasti marah karena tidak cerita padanya. "Kok, nggak cerita sama Mas?" "Lupa," jawabku sembari memamerkan deretan gigi putihku. Mas Brian dan Coky terlibat perbincangan seru. Bahkan mereka seperti menganggap aku tidak ada. Menyebalkan, bukan? Banyak hal yang mereka bicarakan, termaksud wanita bernama Adisty. Mas Brian agak tersedak saat mendengar nama gadis itu disebut. Santai aja, aku tidak cemburu. Kemungkinan hanya kepo dengan wanita itu. "Mas, jadi nggak?" Pasti dia lupa ada janji sama aku. Kalau sudah bertemu teman lama pasti deh aku terabaikan. "Ke mana, Fit?" tanya Mas Brian. "Tahu, ah." "Cok, kita mau ke luar. Mau ikut nggak?" "Boleh." Mas Brian kenapa mengajak Coky, sih. Kan, aku malu mau beli apa ketahuan. Eh, tidak apa deh. Dari pada tidak jadi sama sekali. *** Aku dan Coky menunggu Mas Brian di bawah, dia bilang ada sesuatu yang tertinggal. Namun, kenapa lama sekali dia datang. "Cok, kenapa lama sekali Mas Brian turun, apa aku ke atas lagi saja, ya,” ujarku. "Kurang tahu. Coba aku telepon." Coky mencoba meneleponnya, tetapi karena kami di basemen jadi tidak ada sinyal. Perasaanku menjadi tidak enak. Kuputuskan untuk menghampirinya. "Aku ke atas, ya?" "Aku ikut." Perasaanku sangat tidak tenang. Sudah hampir sejam aku menunggunya di bawah. Namun, Mas Brian tidak datang juga. Lift ternyata sangat lama. Kuputuskan menaiki tangga untuk sampai ke kamar. Coky terus mengikuti aku dari belakang. Ternyata lelah sekali menaiki anak tangga, napasku tersengal-sengal, kulihat pintu kamar terbuka. Apa ada tamu sampai Mas Brian agak lama tak kunjung turun. "Mas Brian!" Aku berteriak saat melihat Mas Brian jatuh tersungkur. Aku segera membantu Mas Brian bangun. Sementara, Coky menahan Mas Erik yang hendak memukul kembali Mas Brian. Ada apa ini? Kenapa ada Alena di sini? "Berhenti, Mas Erik. Jangan sentuh Mas Brian!" "Untuk apa kamu membela pria berengsek itu!" teriak Mas Erik. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Namun, pasti ini ada hubungannya dengan Alena. Wanita sialan itu untuk apa ada di sini? "Fit, kamu jangan membela Brian. Dia mencoba menodaiku, dia menyuruhku datang saat kamu tidak ada," ucap Alena. "Jaga mulut kamu, Al. Kamu yang datang sendiri ke mari. Untuk apa aku memintamu datang, Fitri sedang menungguku di bawah." Mas Brian membela diri. "b******n kamu, Bri!" Mas Erik berteriak dan hendak memukul suamiku lagi. Namun, kembali Coky menghadang mereka. Aku geram, Mas Brian tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu. Lagi pula, kenapa Mas Erik bisa tahu jika ada Alena di sini. Sementara, aku saja tidak melihat dia datang. "Mas, kenapa Mas bisa tahu wanita ini di sini?" tanyaku. "Aku mengikuti Alena, dia bilang mau pulang, tapi mobilnya mengarah ke apartemen Brian. Aku curiga untuk apa dia di sini?" “Mas Brian tidak salah. Aku yakin Alena sengaja membuat Mas Brian seolah ingin menodainya saat Mas Erik datang.” "Fit, kita sama-sama perempuan, harusnya—“ Aku menampar wajah Alena. Harusnya aku sedari tadi melakukan hal itu. Alena memegangi wajah yang kemerahan. "Aku tidak peduli. Aku percaya sama suamiku. Lebih baik Mas Erik bawa w*************a ini ke luar!" pekikku. "Fit, kamu akan menyesal enggak percaya sama aku," ujar Mas Erik. "Mas yang akan menyesal saat tahu wanita yang Mas bela adalah wanita tidak baik." Kulempar tas Alena yang ada di kursi. Segera kudorong tubuh wanita itu. Dia menatapku sengit, aku tidak takut. Jangan harap aku bisa percaya dengan ucapan wanita macam dia. Setelah mereka berdua pergi, aku gegas mengambil air hangat untuk mengompres luka Mas Brian. "Fit, keren." Coky mengacungkan jempol padaku. Aku hanya menoleh dan tersenyum. Sibuk dengan luka Mas Brian membuat aku lupa ada Coky juga di sini. "Cok, jangan lihat Fitri seperti itu. Punya aku itu, cuma satu," omel Mas Brian. Coky hanya tertawa. " Fit, kalau Masmu bikin kamu nangis, aku siap membuat kamu tersenyum lagi," ujar Coky. Mas Brian menoyor kepala Coky. Ampun deh mereka, kenapa bercanda sampai begitu. Namun, Coky hanya melempar senyum pada Mas Brian. Sesekali Coky iseng mencolek luka Mas Brian. Suamiku kembali meringis, dan membalas memukul lengan Coky. "Fit, jaga, nih, Mas Brian. Matanya banyak." "Anak kecil, sok tahu." Aku hanya merengut kesal dengan ulah mereka. Hampir saja aku cemas dengan kondisi Mas Brian. Akan tetapi, dia malah tertawa-tawa sekarang. "Mas, kalau Mas nyakitin Fitri, berhadapan denganku," ucap Coky lagi. Maksudnya apa Coky berbicara itu? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN