Setelah Coky pulang, Mas Brian masih terduduk di sofa sembari memegangi luka di wajahnya. Aku menghampiri Mas Brian.
Meskipun penuh luka, wajah suamiku tetap tampan. Namun, terkadang menyebalkan. Perasaan tadi masih bercampur aduk saat melihatnya dihantam oleh Mas Erik. Akibat wanita jalang itu, mereka berdua jadi salah paham.
"Fit, makasih kamu sudah percaya sama, Mas." Raut wajah Mas Brian begitu kacau.
"Sama -sama, Mas. Sebagai istri yang baik jadi harus percaya sama suami."
Kulihat wajah Mas Brian yang merenggut. Apa ucapanku salah? Sepertinya tidak ada yang salah? Aku istri sah yang baik hati dan tidak sombong. Membela suami yang memang tidak salah dan hanya di adu domba.
Aku langsung merebahkan tubuh di kasur, gara-gara kejadian tak terduga apa yang aku inginkan menjadi batal. Mungkin esok akan kujadwal ulang saja.
"Fit, sebagai istri yang baik, kenapa kamu tidak memberikan hakku sebagai seorang suami?" Mas Brian menghampiri dengan wajah mesumnya.
Sengaja aku lempar bantal ke wajahnya yang menyebalkan itu. Sudah babak belur, masih saja otak m***m. Dasar, majikan aneh, eh suami tidak punya otak.
"Kasar, banget sama suamimu. Nanti direbut orang marah." Mas Brian mengoceh lagi.
"Hih, pede banget, sih?"
"Biarin."
Setiap hari, selalu seperti ini. Kadang menyebalkan, menyenangkan. Aku mengambil ponsel di saku karena sejak tadi bergetar. Ternyata Mama yang menelepon.
"Ada apa, Ma?" jawabku.
"Fit, kamu kapan kontrol ke Dokter Kandungan?" Pertanyaan dari ujung telepon sana membuat aku ketakutan.
Ke Dokter Kandungan? Habislah aku. Kehamilan ini, kan hanya pura-pura saja. Kenapa harus ke dokter. Bagaimana ini?
"Eum ... baru saja, kok Ma. Kemarin di antar Mas Brian."
"Ya, Mama telat dong. Besok kalau ke Dokter Kandungan ke teman Mama aja. Dia bagus, loh."
"I--iya, Ma."
Setelah mengakhiri telepon dengan mertua, aku segera menghampiri Mas Brian. Agak ragu untuk menyampaikan, tetapi itu harus.
"Mas, tadi Mama telepon."
"Terus kenapa?"
"Dia minta aku ke Dokter Kandungan yang ia kenal."
"Apa?"
Mas Brian pun sama kagetnya denganku. Dia sampai bangun dari duduknya lalu berjalan bolak-balik seperti setrikaan.
"Bagaimana, Mas?" tanyaku khawatir.
"Ya udah, kita buat saja."
"Apa yang dibuat?"
"Anaklah."
"Apa? Mas kira buat anak seperti mengadon donat, di diamkan tunggu mengembang?"
Aku syok mendengar perkataannya yang asal. Dia mengajakku, berarti dia ... argh!
"Terus, gimana?" Aku kembali bertanya.
"Aku nggak tahu. Ini ide gila Mas. Buat apa aku yang mikir, kamu aja yang mikir Mas."
"Lah, Fit. Kita buat aja, yuk."
"Argh ... Mas!"
Aku menatap sengit. Enak saja bikin, emang kira buat donat. Seandainya pun terjadi, suatu saat dia akan pergi saat mendapatkan wanita lain.
***
"Mas mau main basket sama Coky di lapangan."
"Mas sarapan dulu, nggak?"
"Udah s**u tadi, nanti kamu ke bawah aja, ya."
"Iya."
Aku menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu sebelum menghampiri suamiku di bawah. Gosokan baru saja kelar kusetrika. Belum piring, menyapu dan mengepel. Aku memang istri rasa pembantu.
Selesai mengerjakan semuanya, gegas aku menghampiri Mas Brian ke lapangan. Aku berharap bisa bertemu Coky, ya sekedar temu sapa.
Sesampainya di lapangan, kulihat hanya Coky yang sedang mendribel bola. Sementara, netraku memindai kemana Mas Brian.
Lututku lemas seketika saat melihat hal yang membuat dadaku teriris pisau. Mas Brian berpelukan dengan seorang wanita.
Aku hendak berbalik arah sembari menyeka bulir bening di pipi. Namun, Coky sudah berada di sampingku.
"Mau ke mana, Fit?"
"Bukan urusan kamu!"
Gegas aku melangkah mengikuti arah yang entah membawaku ke mana. Hati ini sakit, melihat suami sendiri berpelukan dengan wanita lain.
Mas Brian melihatku, tapi dia tidak melepaskan pelukan wanita itu. Seolah ia sangat menikmatinya.
"Fit, tunggu."
"Lepas, ky." Coky menarik lenganku. Menahan agar aku tidak pergi jauh.
Langkahku terhenti di belakang apartemen. Netraku terpejam, tetapi rasa sakit ini begitu terasa. Aku benci semua kepura-puraan ini. Tuhan, maafkan aku karena mempermainkan sebuah pernikahan.
"Fit, tenang."
"Bagaimana aku bisa tenang saat melihat suamiku memeluk wanita lain. Sementara, saat aku datang, dia tidak mencoba melepaskan pelukan itu. Tenang seperti apa?"
"Aku tahu apa yang kamu rasakan pasti sakit. Dadaku bisa buat kamu tenang."
Tangisku semakin kencang. Air mata ini tak kunjung reda. Sementara, Coky menjadi bantalan aku menangis.
"Pulang, Fit!" teriak Mas Brian.
Pria itu menarik kasar tanganku. Lalu, menatap sengit ke arah Coky.
"Mas, jangan egois. Dijaga, atau aku yang menjaga," ucap Coky tak kalah sengit menatap Mas Brian.
"Bukan urusanmu!"
Mas Brian terus menarikku kasar sampai ke kamar atas. Dia memang orang paling jahat yang pernah kukenal.
Pria egois yang selalu ingin menang sendiri. Tidak pernah sadar, jika perlakuannya selalu membuat aku sakit hati. Kali ini, siapa lagi?
"Sakit, Mas. Lepasin!"
"Dipegang aku minta dilepaskan, tapi dipeluk pria lain malah seneng."
"Eh, Mas. Mikir dong, kamu yang meluk wanita lain. Kamu yang salah, bukan aku."
Mas Brian mengusap wajah kasar. Dia mengumpat kalimat yang membuat aku kesal.
"Harusnya, aku nggak make hati dalam pernikahan ini!"
"Aku sudah bilang jangan pakai hati. Kamu aja yang nggak bisa mengendalikan diri. Suatu saat aku akan menemukan wanita yang berarti dalam hidup aku."
"Aku tahu, Mas! Makanya, aku lebih baik menyerah sekarang, dari pada aku harus menyaksikkan kamu bahagia di atas penderitaan aku!"
Dadaku serasa sakit mendengar semua ucapan pria bertubuh kekar itu. Hati ini seperti teriris pisau begitu dalam.
Tega dia berbicara seperti itu. Mas Brian yang memulai, dia pula yang mengakhiri.
"Mas, urus saja perpisahan kita. Anggap aja, aku lagi berbakti sama majikan!"
Aku melangkah ke kamar, pintu yang tak bersalah itu terpaksa terbanting keras. Aku mencoba memejamkan mata, entah hati ini begitu lelah dengan semua yang terjadi.
"Fitri!"
Mas Brian belum juga berhenti berbicara. Tidak capek apa membuat aku kesal.
"Kamu ingin kita bercerai karena kamu suka sama Coky, kan?"
Aku beranjak dari tempat tidur. "Iya, kenapa? Dia lebih muda, lebih manis, lebih tampan dan lebih baik dari Mas."
"Kamu nggak pantas sama Coky."
"Lalu, apa aku pantas sama kamu, Mas? Aku sadar diri, pembantu seperti aku, memang hanya pantas untuk orang sederajat sama aku. Puas, Mas!"
"Satu lagi, Mas, aku nggak mau tahu siapa wanita itu."
"Alah, nanti juga kepo."
Kepo? Memang sih, tapi aku harus jaga harga diri di depan dia. Masa aku sudah bicara seperti itu masa masih ingin tahu. Besok saja dari Coky kucari tahu.
"Terserah!"
***