Bagian 1
Bab 1
***
"Gala, tolong, ini salah!"
Sekali lagi, Sienna kembali mendorong pria berkaos hitam yang saat ini mengungkung tubuhnya.
Namun, pria di atas tubuh Sienna itu justru semakin menggila. Sambil meracau, pria tersebut bahkan tanpa ragu mendaratkan hidung bangirnya di ceruk leher Sienna—membuat perempuan itu tak kuasa menahan geliatan karena gelenyar aneh yang tercipta.
“Gala, tolong berhenti ... Ah—"
Lenguhan itu lolos dari bibir Sienna saat Galanio menggigit ujung daun telinganya dengan sensual. Tangannya juga sibuk menjelajahi tubuh Sienna yang mulai bergetar di bawahnya.
Dia adalah Galanio Laskar Alexander, kekasih dari sahabat Sienna yang malam ini dia jemput dari sebuah club malam.
Berawal dari Sienna yang dihubungi Syakilla—sahabat baiknya, dia diminta untuk membawa pulang Galanio yang katanya mabuk berat usai bertengkar dengan Syakilla.
Sienna menolak. Namun, Syakilla terus memohon agar dia mau menjemput Galanio—membuat dia pada akhirnya bersedia, kemudian sekarang larut dalam penyesalan.
"Nikmati aja, Sayang," kata Galanio sambil menyeringai—membuat tubuh Sienna rasanya semakin merinding. “Malam ini, kamu adalah milikku.”
"Gala, enggak! Tolong jangan apa-apain aku. Le-lepasin!" ujarnya sambil terus berusaha mendorong dengan sisa tenaga yang masih ada.
Namun, Galanio justru tersenyum sambil mengusap wajah Sienna lembut. Memberikan belaian di sana yang membuat Sienna hampir terlena sebelum ia menepisnya, usai teringat pada Syakilla yang pasti akan marah besar jika tahu apa yang terjadi malam ini
"Gala, tolong ...." Lagi, dengan kedua tangan yang terus melakukan perlawanan, Sienna mendesah. Rasa takut semakin menjalar, tubuhnya menegang sementara keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya.
Galanio lalu mencekal dua lengan Sienna dengan telapak tangannya yang besar. Dia mulai menyusuri area sensitif tubuh sahabat dari kekasihnya itu—membuat tubuh Sienna kembali menggeliat saking asingnya sentuhan yang dia rasakan.
Dengan gerakan yang sangat cepat, kemejanya sudah berhasil terbuka. Sienna menangis tertahan, merasa tidak berdaya.
Ia bak mangsa yang siap disantap. Hatinya sakit membayangkan dirinya yang akan dirusak secara paksa. Di waktu yang sama, Sienna teringat lagi kalimat memohon yang dilontarkan Syakilla ketika membujuknya.
"Ayolah, Na, tolong jemput Gala ya. Aku takut dia macam-macam kalau dibiarin terus di club. Kamu sahabat baikku. Jadi cuman kamu yang bisa aku andalkan."
Sungguh! Sienna menyesal karena sudah mengiakan permintaan Syakilla. Jika tadi dirinya menolak, semua tidak akan terjadi. Galanio tidak akan menyentuhnya dan Sienna tidak akan terdesak di atas kasur seperti sekarang.
"Gala ...," desah Sienna di sisa tenaga yang masih tersedia. “Aku mohon….”
Ia masih berharap keajaiban datang. Namun, semesta tidak mendengar doanya.
Galanio tak membiarkan Sienna melawan bahkan berbicara, karena setelah itu dia membenamkan wajahnya di d**a perempuan tersebut untuk melakukan hal yang lebih dari sebelumnya.
Sienna beberapa kali menggeliat ketika sentuhan demi sentuhan diberikan Galanio. Dalam hati, dia menjerit bahkan ingin kabur sekarang juga, tapi sial, tubuhnya justru merespon dengan baik apa yang dilakukan kekasih dari sahabatnya tersebut.
Malam itu, semuanya terjadi. Malam di mana Sienna harus kehilangan kesuciannya di tangan Galanio Sakit hati, sedih, marah, semuanya bercampur menjadi satu.
"Bunda pasti kecewa kalau tahu aku rusak. Ah, Ya Tuhan, aku harus apa?"
Dengan tubuh yang hanya dibalut selimut, Sienna meratapi nasib malangnya. Namun, setelahnya, ia memutuskan untuk bergerak, memungut pakaiannya yang berserakan di lantai, dan berjalan tertatih menuju kamar mandi. Di sana, tangisan kembali terdengar.
Sienna mengenakan baju yang beberapa waktu lalu dilepas paksa oleh Galanio, dengan isakkan tangis yang tak mau berhenti karena membayangkan bagaimana marah dan kecewa sang bunda jika tahu semua yang terjadi.
Setelah puas menumpahkan semua rasa sakit, Sienna keluar dari kamar mandi. Ia menatap Galanio dengan perasaan marah bahkan kecewa. Ingin sekali dia menyerang pria itu atas apa yang dilakukannya semalam.
Namun, di detik berikutnya kewarasan Sienna kembali—disusul ponsel miliknya yang kembali berbunyi.
Di sisa tenaga yang masih tersedia, Sienna mengahmpiri benda pipihnya itu lalu menjawab panggilan yang berasal dari Syakilla.
"Halo," panggilnya dengan suara pelan.
"Na, Gala udah kamu jemput, kan?" tanya Syakilla dari sebrang sana—membuat Sienna menoleh pada Galanio yang terlelap dengan wajah tanpa dosa. "Aku kepikiran dia terus sejak tadi, takut enggak kamu jemput. Bukan apa-apa, orang mabuk tuh suka nekad. Aku khawatir dia nidurin sembarangan perempuan di sana."
"Udah," jawab Sienna pelan. "Seperti yang kamu minta, aku bawa Galanio ke apartemenku dan sekarang dia tidur di kamar tamu."
"Semuanya baik, kan?" tanya Syakilla. "Maksudku, selain mabuk, Gala enggak lakuin hal aneh lain, kan?"
Sienna membisu, sementara ingatannya kembali pada momen di mana Galanio merenggut kesuciannya. Setiap sentuhan liar pria itu kembali terasa di setiap bagian tubuh—membuat Sienna tidak kuasa menahan cairan bening untuk kembali lolos di kedua pipi.
Sienna hanyut dalam rasa sakit, hingga pertanyaan dari Syakilla membuatnya tersadar.
"Na, kamu masih di situ? Kok enggak jawab pertanyaanku?"