*** "Gal, kamu tidur enggak? Nih, Bunda bawain makanan." Masih dengan degupan jantung yang tidak menentu, Galanio menoleh ke arah pintu setelah suara Arunima terdengar dari depan kamar. Tidak langsung menjawab, dia yang barusaja dilanda kepanikan, beranjak lalu kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya. "Bun." "Kirain tidur," kata Arunima. "Ini makanan. Habis donor darah, kamu harus banyak makan biar enggak lemas." Galanio tidak menjawab, sementara atensinya tertuju pada nampan yang dibawa Arunima. Alih-alih memikirkan betapa nikmatnya nasi beserta lauk juga irisan buah-buahan yang dibawa sang mertua, pikiran Galanio justru diisi hal lain yaitu; kondisi Raffasya. Sempat hanyut dalam lamunan kemudian dihampiri bayangan menakutkan tentang meninggalnya Raffasya, perasaan Galanio sam

