Mereka palsu?

1207 Kata
“Kenapa lukisan ini tiba-tiba jatuh Bi?” tanya Beni sambil menatap lukisan yang ada di atas lantai tapi sama sekali tidak rusak. Jasmine tidak langsung menjawab apa yang ditanyakan oleh Beni. Netranya justru melihat ke atas langit-langit. Terlihat bayangan hitam yang membuatnya ngeri. Apa benar bangunan ini di selimuti bayangan kegelapan dari sihir Damian Salvatore, batin Jasmine dengan jantung berdegup kencang, takut. “Bi ... Kenapa diam saja?” tanya Beni sekali lagi. Merasa Jasmine mengabaikan pertanyaannya. Ia pun mengandah ke atas, memandang apa yang dilihat oleh bibinya itu. Di atas langit-langit tidak ada apa-apa. Tapi manik mata Jasmine seakan memandangi hal yang menakutkan. “Bi ... Bibi tidak apa-apa?” tanya Beni sembari menggoyangkan bahu Jasmine. “Beni, apa kamu melihat bayangan hitam yang ada di atas kita?” Jasmine masih mengadah ke atas dengan mata yang tidak berkedip. “Tidak ada bayangan hitam di atas kita Bi ...,” jawab Beni sembari memicingkan matanya. Memperjelas penglihatannya. Ia sama sekali tidak melihat bayangan hitam yang dimaksud oleh Jasmine. “Ada juga di langit-langit memang terdapat lubang yang membuatnya terlihat berwarna hitam.” Ia menunjuk ke arah langit-langit yang dimaksud. Bibi Jasmine juga semakin memperjelas penglihatannya dengan menyipitkan matanya. Dari lubang di atas mereka tersebut, sepasang mata berwarna merah menatap lekat. "Aaaaa!!" Jasmine seketika menjerit. Ia berjongkok sembari memegangi kedua kakinya. “Dia ada di situ!” serunya. “Di mana Bi? Aku tidak melihat apa pun!” Beni masih penasaran dengan apa yang dimaksud Bibi Jasmine. Ia terus berusaha mencari yang dimaksud, tapi sungguh tidak melihat apa pun. Dari berjongkok, Jasmine langsung berjalan merambat dan kemudian berlari meninggalkan Beni di koridor tersebut. Beni kebingungan dengan sikap Bibi Jasmine. Ia mengusap tengkuknya. Bulu kuduknya meremang. “Kenapa aku jadi ikut merasa takut begini,” gumannya pada diri sendiri dan melihat ke arah lubang di atas langit-langit. “Lubang itu, terkadang memiliki mata.” Suara seorang perempuan dari balik punggung Beni, nyaris membuatnya terlonjak kaget. Ia menoleh. Gadis pembuang sampah dan yang ditabraknya di tangga tadi, tersenyum ramah. Dia mengulurkan tangan, mengajak berkenalan. “Maaf tadi kita belum berkenalan. Namaku Alice.” Senyuman ramah mengambang di wajahnya. Beni menyambut tangan yang terulur itu. “Aku Beni. Dan aku bukan tamu di hotel ini. Tapi aku adalah keponakan bibi Jasmine dan paman Gabriel.” Dari sorot mata Alice ia terlihat senang. “Akhirnya kamu datang!” serunya dengan suara rendah. Beni tidak tahu kenapa Alice terlihat sangat bahagia begitu ketika mendengar dia bukan tamu tapi salah satu anggota keluarga Salvatore. “Beni, aku harus segera memberitahukan hal ini padamu,” kata Alice sembari menarik ke ujung koridor dan bersembunyi di bagian kiri agar tidak terlihat oleh Jasmine atau pun Gabriel. “Memberitahukan hal apa?” tanya Beni lirih. “Tadi Bibi Jasmine berteriak jika ada sepasang mata yang mengawasi kami. Padahal aku melihat di lubang tersebut tidak ada apa-apa." “Hotel ini memang terkutuk Ben! Sudah beberapa kali terjadi musibah di hotel ini. Kebakaran yang menewaskan beberapa pengunjung hotel, sebab dari itu hotel ini tidak beroperasi lagi. Lalu sebelum kebakaran tersebut pernah ada seorang tamu yang bunuh diri di kamar nomer 49 itu.” Beni menelan ludah. Ia sama sekali tidak tahu jika hotel yang dibangun kakeknya ini memiliki cerita seram begini. “Apa karena itu Hotel ini tidak akan laku dijual?” “Entahlah Hotel ini laku dijual atau tidak. Dengan bangunan bersejarah, megah dan kokoh. Ditunjang dengan halaman yang luas, tampaknya masih ada yang tertarik walau kemungkinan nilai jualnya menurun. Tapi mereka ada di sini bukan untuk menguasai hotel ini. Tapi mencari harta karun yang tersimpan di hotel! Damian Salvatore, kakek moyangmu telah menyimpan harta karun di suatu tempat.” Beni menatap Alice lekat. “Mereka? Siapa yang kamu maksud?” “Jasmine dan Gabriel bukanlah paman dan bibimu,” jawab Alice lugas. Membuat Beni terkesiap. “Apa? Kenapa kamu mengatakan begitu? Mereka adalah paman dan bibiku!” “Kamu sudah lupa kan bagaimana rupa paman dan bibimu? Aku beritahu, mereka menyamar!” Kedua alis Beni bertaut. Kata-kata Bibi Jasmine tentang Alice yang sedikit mengalami gangguan jiwa terngiang di telinganya. “Kamu lupa dengan wajah mereka. Makanya mereka mengaku sebagai paman dan bibimu!” Beni masih terdiam. Ia menatap wajah Alice yang sebetulnya lumayan cantik. “Jika mereka bukan paman dan bibiku? Ke mana paman dan bibiku yang asli? Dan kenapa mereka menyamar, mengelabuiku?” Alice mendekat dan menatap Beni. “Mereka menyamar menjadi paman dan bibimu, karena ingin mengetahui di mana Kakek Thomas menaruh harta karun milik Damian Salvatore. Semua harta karun tersebut lebih besar dari pada nilai jual hotel ini.” Beni masih diam. Kata-kata yang dijelaskan Alice terdengar tidak masuk akal. Tidak mungkin pria dan wanita paruh baya yang menyambut kedatangan di hotel ini bukanlah paman dan bibinya. Alice menangkap manik mata Beni yang bergetar. “Apa kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan ini?” “Aku akan percaya, tapi jika kamu memberitahuku di mana paman dan bibiku yang asli. Di mana mereka?” tanya Beni. Alice tidak bisa menjawab. Bibirnya rapat dan tidak bergerak. Lalu beberapa menit kemudian ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Aku tidak tahu ....” Dahi Beni langsung berkerut. “Walau aku tidak tahu di mana paman dan bibimu yang asli. Kamu harus percaya padaku. Jangan dekat-dekat dengan mereka. Kamu akan celaka.” “Kamu memang kurang waras,” ujar Beni lirih. “Alice ... aku beritahu ya. Kamu adalah pelayan di sini. Rasanya tidak pantas mengatakan hal-hal buruk tentang majikan yang telah memberimu tempat tinggal, makanan dan minuman.” Alice menarik nafas panjang. Memang tidak mudah menjelaskan semua ini pada Beni. “Aku bukan pelayan. Aku adalah keponakan Bibi Jasmine yang asli,” jelasnya. “Ingat, bibi Jasmine yang asli. Bukan wanita yang sejak kamu datang ke hotel ini selalu menempel denganmu.” Beni melipat tangannya di depan dadanya. “Ini unik ya ... Rasanya aku seperti diminta untuk mempercayai cerita salah satu di antara kalian,” katanya lirih dan kemudian tertawa pelan. “Bibi Jasmine yang kamu bilang palsu itu mengatakan untuk tidak mempercayai kata-katamu. Dan kamu juga mengatakan hal buruk tentangnya. Memang ada masalah apa di antara kalian?” Raut muka Alice muram. “Ya Tuhan, kamu betul-betul tidak percaya padaku Ben?” Beni memang tidak percaya dengan apa yang dikatakan Alice. Apa lagi soal harta karun yang tersimpan di hotel ini. Menurutnya semua itu hanya omong kosong dan hanya sebuah cerita dongeng sebelum tidur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Jika keluarga mereka memiliki harta karun yang konon katanya sangat banyak tersebut. Kenapa tidak dari dulu saja dipergunakan?, pikirnya. “Hei, kalian sedang apa berduaan di sana?” tegur Paman Gabriel. Beni dan Alice terkejut dengan suara bariton tersebut. Mereka sama-sama menoleh ke arah Gabriel. “Kami hanya mengobrol,” jawab Beni. Iris mata Gabriel langsung melebar. Sepasang matanya membulat. Tatapan tajam tertuju pada Alice yang terlihat ketakutkan. “Mengobrol apa?” tanyanya ingin tahu. “Apa yang sudah dikatakan Alice padamu?” Alice langsung takut dan menunduk. “Apa yang sudah dikatakan gadis pembual ini padamu, Ben? Dia gadis sakit jiwa yang penuh khayalan. Masih bagus kami memperkerjakannya di sini. Memberinya makan dan tempat tinggal. Apa dia memberitahumu kalau dia adalah keponakan Jasmine?” tanya Gabriel sekali lagi. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN