“Apa yang sudah dikatakan gadis pembual ini padamu, Ben? Dia gadis sakit jiwa yang penuh khayalan. Masih bagus kami memperkerjakannya di sini. Memberinya makan dan tempat tinggal. Apa dia memberitahumu kalau dia adalah keponakan Jasmine?” tanya Gabriel sekali lagi.
Beni tidak menjawab. Ia melirik ke arah Alice yang tertunduk. Tak ingin membuat situasi menjadi menjadi lebih keruh. “Tidak, Alice tidak bilang apa-apa. Dia tidak mengatakan sesuatu yang aneh-aneh.”
“Lalu, kalian berdua sedang membicarakan apa?” tanya Gabriel ingin tahu.
“Kami sedang membicarakan soal ...,” Beni berusaha memikirkan alasan yang tepat agar Paman Gabriel tidak marah.
“Membicarakan soal apa?” Gabriel bertanya sekali lagi dengan sepasang mata memicing.
“Membicarakan perihal apa dia melihat ayahku? Aku tidak melihat ayahku sejak aku datang ke mari.”
“Ayahmu, Gavi?”
“Iya, memang siapa lagi ayahku?”
Gabriel menggaruk kepalannya yang tak gatal. “Apa bibimu tidak memberitahukan untuk tidak membahas ayahmu lagi di sini?”
Beni menggeleng. “Memang kenapa tidak boleh membahasnya? Bagaimana pun Gavi adalah ayahku. Walau prilakunya buruk. Membuat ibu dan aku pergi dari tempat ini. Aku tetap ingin tahu di mana ayahku itu.”
Gabriel menatap Beni. “Pemabuk itu pasti sekarang sedang menghabiskan uangnya untuk senang-senang dan berjudi. Jika uangnya sudah habis, pasti dia akan pulang. Jadi jangan cemaskan dia ....”
Beni mengangkat kedua alisnya ke atas. Tersenyum getir sembari melangkah pergi menjauh.
Setelah Beni pergi, Gebriel mengepalkan tangan dan mendekati Alice. Ia mencengkeram lengannya dengan kasar. “Tidak tahu diri! Sudah aku bilang jika kamu tidak ingin dikurung maka tutup mulutmu!” ancamnya. “Dan jika kamu tetap keras kepala dan banyak bicara, maka aku akan membunuh ....”
Manik mata Alice bergetar. Ia menggelengkan kepalanya. “Tidak ... Jangan ... Aku akan menuruti semua kata-katamu.”
“Ya sudah, lakukan seperti yang kami perintahkan. Lakukan sebisa mungkin untuk mencari informasi di mana Kakek Thomas menyimpan seluruh harta karun Damian Salvatore ...!” serunya lirih berbisik.
Beni yang sudah berjalan beberapa langkah dan berbelok ke kiri koridor, merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Alice bersama Paman Gabriel. Ia pun membalikkan badan dan mengintip. Kepalanya menyembul dari balik dinding.
Manik matanya langsung tertuju pada tangan Gabriel yang mencengkeram lengan Alice. Terlihat jelas jika Paman Gabriel mengancam gadis itu. Suaranya memang tidak terdengar tapi wajah dan tangan Gabriel itu sangat tegas menekan mental Alice.
Beni menjadi penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Gabriel pada Alice. Merasa iba dan ingin tahu, ia memutuskan untuk kembali.
Alice menggelengkan kepalanya. “Jangan sakiti Bibi dan Pamanku,” pintanya lirih.
“Jika memang kamu tidak ingin ada yang disakiti di sini, maka jangan macam-macam! Turuti saja apa yang aku perintahkan, mengerti!”
Raut muka Alice berubah menjadi pucat. "Jack, jika kamu menyekap paman Gabriel dan Bibi Jasmine, untuk menyamar menjadi mereka lalu mengelabui Beni, sepertinya itu bukanlah cara yang tepat. Karena Beni memang terlihat tidak tahu di mana Kakek Thomas menyimpan harta karun warisan Damian Salvatore. Dan mungkin saja apa yang kamu dengar salah. Kami tidak memiliki harta karun warisan ...."
Jack yang menyamar sebagai Paman Gabriel ini mengatupkan mulutnya dan menggemeretakkan giginya. "Jangan mendikteku!"
Derap langkah kaki yang mendekat terdengar. Gabriel menelan kembali suaranya yang akan berucap. Ia melirik ke samping, bayangan Beni terlihat di lantai.
Tangannya yang mencengkeram lengan Alice pun langsung dilepaskan. Ia pun langsung berubah sikap seperti tidak terjadi apa-apa. “Apa yang Paman Gabriel lakukan pada Alice?”
“Tidak ada. Kami hanya bicara.”
“Alice, bisa ikut aku? Tolong bantu aku merapikan kamar yang akan aku tempati? Kamarku terlalu banyak debu.” Beni sengaja meminta tolong pada Alice agar gadis itu bisa pergi dari Paman Gabriel.
“Tentu,” jawab Alice segera dan mendekat pada Beni.
Beni dan Gabriel saling menatap satu sama lain. Lalu tanpa kata-kata lagi Beni membalikkan badan dan segera menuju ke kamar nomer empat puluh sembilan.
Di dalam kamar tersebut, debu –debu berterbangan kembali menyambut saat pintunya terbuka.
Beni mengibaskan tangannya ke depan sembari menahan nafas. “Padahal tadi aku sudah membersihkan sebagian debu-debunya.”
“Namanya juga tidak pernah ditempati, pantas sekali kalau kamar ini kotor sekali.”
“Jadi kamu tidak pernah membersihkan kamar ini? Kamu kan pelayan di sini. Jadi kerjamu apa Alice?”
“Kerjaku?” tanya Alice seraya bertanya pada dirinya sendiri.
“Iya, harusnya kamu membersihkan semua kamar yang ada di hotel ini.” Beni melanjutkan kata-katanya sembari berjalan menuju kursi kayu dan duduk menyilangkan kaki.
Ingin rasanya Alice mengatakan pada Beni, jika dia bukanlah pelayan Hotel, tapi dia adalah keponakan Bibi Jasmine yang asli. Ada rasa kesal, karena Beni sama sekali tidak mengingat dirinya. Padahal saat masih berusia enam tahunan, ia dan Beni sering bermain bersama di halaman.
Memang Alice tidak terlalu sering berkunjung dan menginap di Hotel milik Kakek Thomas, tapi setidaknya harusnya Beni tidak melupakannya.
“Gaji yang diberikan padaku tidak sepadan untuk membersihkan seluruh kamar hotel di sini. Jadi jangan banyak berharap denganku.”
Beni mengangguk. “Hm ... jadi ini karena masalah gaji? Masuk akal sih jika kamu jadi pemalas.”
Bukannya mengambil alat sapu dan lap untuk bersih-bersih, Alice ikut duduk di kursi kayu yang berhadapan dengan Beni. “Tadi kamu menolongku dari amarah Paman Gabrie. Terima kasih,” ucapnya sembari menatap lekat.
Beni membalas tatapan itu dan menganggukkan kepalanya. “Iya, tidak apa-apa ... Santai saja. Aku tahu kok posisimu tadi sedang terjepit. Mengingat paman Gabriel yang sekarang menjadi pemarah, kemungkinan ia akan memecatmu.”
“Paman Gabriel yang sekarang tidak sebaik pamanmu yang dulu kah?” Alice mulai memancing.
“Well ... begitulah. Semua orang bisa berubah karena waktu. Entah apa yang telah dialami Paman Gabriel hingga dia menjadi pemarah begitu.”
“Apa kamu ingat wajahnya saat kamu masih kecil?” tanya Alice sekali lagi.
“Tidak. Semua bayangan di masa kecilku terbayang samar. Aku tidak bisa mengingatnya jelas.”
“Kenapa kamu tidak bisa mengingatnya dengan jelas?” tanya Alice sembari menatap tajam. Ia terlihat sangat ingin tahu dengan apa yang terjadi pada Beni.
“Aku pernah mengalami tragedi di saat aku masih kecil. Tapi aku lupa dengan semua itu,” jawab Beni dengan tatapan menerawang.
“Apa kamu berada di sini saat kebakaran terjadi?” tanya Alice lagi.
Beni mengendikkan bahunya ke atas. “Entahlah, aku lupa dengan apa yang terjadi padaku. Yang pasti kata ibuku, saat aku masih kecil. Aku mengalami tragedi yang membuatku sedikit trauma dan melupakan beberapa ingatan tentang Kota ini.”
Alice terdiam. Ia yakin jika sekitar sepuluh tahun yang lalu ketika Hotel mengalami kebakaran Beni ada di sini. Makanya ibunya membawanya pindah ke luar kota setelahnya.
“Apa benar kamu tidak ingat apa-apa?” tanya Alice sekali lagi.
“Iya,” jawab Beni lugas dan mulai merasa eneh kenapa seorang pelayan seperti Alice bisa memaksa menuntut sebuah jawaban darinya. “Hei, harusnya kamu tahu batas. Jangan bertanya padaku dengan nada seperti itu. Kamu hanya pelayan di sini. Jangan lupakan itu,” tegurnya lirih.
Alice mengantupkan bibirnya rapat sebentar dan kemudian melipat kedua tangannya di depan dadanya. Aku bertanya padamu seperti itu karena menyangkut tentang kebakaran yang ada di Hotel ini.”
“Aku tidak tahu apa-apa soal kebakaran yang terjadi. Maaf saja ya, jangan bertanya yang aneh-aneh padaku Alice.”
Tiba-tiba indera penciuman Beni menghirup aroma aneh.
“Ada apa?” tanya Alice saat menatap Beni yang terdiam dengan raut muka terkejut.
“Kamu mencium bau yang aneh tidak?” Beni berbalik bertanya sembari cuping hidungnya terlihat kembang kempis.
Alice menggeleng pelan. “Aku tidak mencium apa-apa. Memangnya kamu mencium bau apa?”
“Bau tulang terbakar,” jawab Beni dan bau tidak enak tersebut semakin tajam. Membuatnya mual dan segera berlari menuju jendela lalu membukanya. Membiarkan angin dingin yang berhembus di luar masuk ke dalam.
“Hei Ben, kamu kenapa?” tanya Alice yang memang tidak mencium bau apa pun.
Beni tidak mendengar pertanyaan Alice, ia sibuk dengan bau hangus tulang terbakar yang lama kelamaan berubah menjadi bau busuk yang menyengat.
Untung saja saat jendela kamar dibuka, dan angin dingin masuk ke dalam kamarnya, aroma tidak enak itu menghilang.
Bau yang tiba-tiba muncul ini, membuatnya ingat sesuatu. Beni memejamkan matanya. Suara-suara minta tolong terngiang di telinganya.
Alice mendekat ke arah Beni dan berdiri di sisinya. Hembusan angin dari luar memang sangat dingin menerpa kulit. “Beni, kamu tidak apa-apa ...?”
Beni membuka mata dengan cepat. Membuat Alice terkesiap. Ia sampai mengusap dadanya karena terkejut.
“Alice, aku mengingat sesuatu tentang hotel ini!” seru Beni lirih.
“Apa yang kamu ingat itu?”
“Suara rintih meminta tolong di tengah asap tebal dan bau yang tidak enak.”
Kedua alis Alice bertaut. “Lalu apa kamu ingat kejadian apa dan di mana itu?”