Wanita di dalam bilik mandi

1093 Kata
Jack yang menyamar sebagai Paman Gabriel menutup rapat pintu dengan sangat keras. “Kenapa wajahmu begitu?” “Aku takut rencana kita mengelabui Beni akan gagal.” Melia yang menyamar sebagai Bibi Jasmine, menepuk bahu suaminya. “Kenapa kamu berpikir seperti itu?” “Alice sepertinya akan mengadu pada Beni.” “Dia tidak akan berani melakukannya,” jawab Melia sambil tersenyum tipis. “Senjata untuk menekannya sudah ada di dalam genggaman tangan kita. Aku yakin Alice tidak akan mengadu macam-macam. “Bagaimana jika dia mengadu sebelum Beni memberitahukan pada kita di mana lokasi Kakek Thomas menyimpan harta karun?” “Apa kamu yakin Beni mengetahui di mana tempat harta karun tersebut?” Jack memandangi istrinya dengan tatapan lekat. “Aku yakin Beni tau sesuatu. Dia adalah satu-satunya cucu kandung Kakek Thomas.” *** “Apa yang kamu ingat Ben?” tanya Alice penasaran. Beni menggelengkan kepalanya. “Tidak ada. Hanya sekelebat bayangan samar. Serius kamu tidak mencium bau tulang terbakar yang tidak enak?” Alice menatap Beni tepat di bola matanya. Ia menganggukkan kepalanya. “Iya, aku sungguh tidak mencium apa pun.” “Mungkin aku saja yang sedang tidak enak badan. Maklum aku baru datang dari luar kota dan belum beristirahat,” kata Beni sekali lagi dengan senyuman pahit. Alice beranjak berdiri dari kursi yang didudukinya. “Ya sudah kalau begitu, selamat beristirahat.” Ia menggeser kursi ke belakang dan membalikkan badan. Menunju pintu untuk meninggalkan kamar. “Hei, kamu tidak membersihkan kamarku?” Suara Beni menghentikan langkah Alice. Alice menoleh. Memandang Beni sejenak. “Aku rasa kamu bisa membersihkannya sendiri. Sekalian olahraga,” jawabnya dan segera keluar kamar dan menutup pintunya rapat. Kedua alis Beni bertaut. Ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Astaga ... Bisa-bisanya dia berkata begitu. Dia kan pelayan di sini,” gumannya lirih. Setelah Alice pergi, Beni memutuskan untuk menuju ranjang dan terlelap. Karena terlalu lelah, tidak terasa ia tidur sampai malam. Lampu kamar memang tidak dinyalakan sebelumnya. Membuat ruangan menjadi gelap. Hanya sedikit cahaya dari luar jendela yang menerangi. Perlahan tapi pasti, kelopak mata Beni terbuka. Ia terkesiap hanya gelap yang didapat. “Astaga aku tidur terlalu lama! Ini sudah jam berapa?!” serunya pada diri sendiri. Spontan Beni langsung menyalakan lampu dan menutup tirai jendela. Ia mengangkat koper dan menaruhnya di atas ranjang. Mengambil sepasang piyama tidur dan juga alat mandi. Sialnya kamar mandi berada di luar kamar. Setiap lantai memiliki satu kolam kamar mandi. Walau Beni tidak tahu letak kamar mandinya di mana, ia berlagak ingat, karena memang saat kecil pernah tinggal di sini. Beni berjalan santai menuju ujung lorong. Mungkin di sepanjang lorong ini hanya ada dirinya. Harusnya tadi ia bertanya pada Alice kamarnya ada di dimana. Pelayan menyebalkan itu seumuran dengannya, setidaknya Alice bisa menjadi temannya di sini agar tidak merasa kesepian. Karena terlalu sepinya, suara derap kaki terdengar menggema. Sebetulnya Beni merasa takut berjalan di sepanjang koridor. Tapi karena ia memang belum mandi dan rasanya tubuhnya lelah dan ingin mandi air panas. Beni memaksakan diri untuk segera sampai ke kamar mandi. Pintu kamar mandi yang terbuat dari kayu berwarna hitam itu dibuka. Netra Beni langsung berpendar melihat ke seluruh ruangan. Kamar mandi yang cukup besar dan ini seperti kamar mandi umum. Beberapa bilik mandi berjajar enam di kiri dan enam lagi di kanan. Suara shower terdengar menyala. Beni langsung menerka jika Alice sedang membersihkan diri. Karena merasa tidak enak hati, mereka mandi berdua di kamar mandi yang sama walau berbeda bilik. Beni memanggil Alice. “Alice ... Apa kamu sedang mandi? Jika kamu sedang mandi, kamu duluan saja.” Suara Beni terdengar menggema karena kedapnya ruang kamar mandi ini. Alice tidak menjawab. Tapi ia bersenandung dengan berguman. Suara shower yang menyala dengan air mengalir berjatuhan diiringi suara senandung, entah kenapa membuat perasaan Beni lebih takut. “Alice ... Kenapa kamu tidak menjawab aku?” tanya Beni lagi. Sebelah tangan kanannya memegangi handuk merah dan juga alat mandi. Sedang satu tangan kirinya mengusap tengkuknya. Bulu kuduk Beni meremang bersamaan dengan suara senandung yang semakin meninggi dan bernada sedih. “Hm ... Hm ... Hm ....” Gumanan yang bermelodi tersebut semakin menyedihkan. Dan Alice pun tak kunjung menjawab pertanyaan Beni. “Alice, ini tidak lucu. Jika kamu tidak menjawab dan mengabaikan aku. Aku akan menuju ke bilik mandimu ya!” seru Beni mengancam. Suara Beni yang nyaring tersebut langsung disambut dengan matinya air shower yang menyala. Hening. Tapi tidak ada suara sahutan Alice atau pun suara air setelah beberapa menit kemudian. “Hei ... Alice, ini tidak lucu. Jika kamu bersikap begini, lihat saja, aku akan masuk ke dalam bilik mandimu ya!” Tidak ada sahutan lagi. Beni benar-benar kesal dengan permainan Alice yang dipikirnya tak lucu. Langkah kakinya sudah mulai melangkah untuk menggedor pintu bilik mandi Alice. Nuansa kamar mandi dengan bebatuan alam di tambah cahaya lampu bulat di tengah membuat kamar mandi ini terasa semakin mengerikan. “Benar-benar ya dia ...,” guman Beni kesal. Langkah Beni sudah hampir mendekat pada salah satu bilik yang di bawahnya terlihat sepasang kaki wanita. Tangannya sudah melayang ke atas dan akan menggedor pintu. Akan memarahi Alice karena telah mengabaikan tegurannya. “Brak!” Pintu kamar mandi terbuka. Spontan Beni menoleh ke arah suara. Betapa ia terkejut melihat siapa yang membuka pintu tersebut. “Kamu mau mandi Ben?” tanya Alice dengan wajah polosnya. Ia menatap Beni dan juga melihat ke arah handuk plus alat mandi yang dipegangnya. “Yasudah kalau begitu, kamu dulu saja yang mandi. Aku akan menunggu di luar. Kamar mandi di lantai bawah biasa dipakai Ja— ....” Alice langsung menutup mulutnya, hampir saja ia menyebutkan nama asli dari pria yang telah menyamar sebagai Paman Gabriel itu. Karena Beni sibuk dengan perasaan takut dan bingung, ia tidak memperhatikan kata-kata Alicia. “Jika kamu ada di sana, maka yang ada di dalam bilik mandi ini siapa?” tanyanya lirih. Dahi Alice berkerut. “Maksudnya?” “Ada seseorang sedang mandi di sini. Dan sepertinya dia wanita. Tadinya aku pikir itu kamu,” jawab Beni dengan wajah setengah pucat. Alice terdiam sesaat. “Wanita? Setahuku yang ada di hotel ini hanya ada kita berempat. Aku, kamu, bibi Jasmine dan juga Paman Gabriel.” Raut muka Bani mendadak datar. Jantungnya berdebar hebat. Manik matanya langsung melirik ke arah bawah. Tadi terlihat jelas ada sepasang kaki wanita di balik bilik ini. Namun sekarang sepasang kaki itu menghilang misterius. Beni melangkah mundur. “Ya Tuhan ... Jelas-jelas tadi aku melihat .....” Alice ikut panik. Ia bergegas mendekat. “Ada apa Ben?” tanyanya sembari ikut melihat ke arah mata Beni memandang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN