Wanita yang bunuh diri?

1422 Kata
Alice ikut panik. Ia bergegas mendekat. “Ada apa Ben?” tanyanya sembari ikut melihat ke arah mata Beni memandang. “Tadi ada seorang perempuan yang mandi di bilik ini,” jawab Beni dengan suara lirih. Alice mengamati bilik yang dimaksud oleh Beni. Netra Alice langsung melihat ke bawah, lantainya kering. “Siapa yang kamu maksud, Ben? Lihat, lantainya kering! Jadi belum ada yang mandi di sini." “Tadi aku mengira justru kamu yang sedang mandi. Air pancurannya pun menyala deras,” sahut Beni sembari menunjuk ke arah bilik mandi yang ada di depannya. “Mana lihat, tidak ada siapa-siapa,” jawab Alice. “Tapi tadi serius aku mendengar dan melihat seseorang mandi di sini!” “Coba kamu dorong pintunya,” timpal Alice. Beni langsung meringkuk. Ia menggeleng pelan. “Tidak ... Kamu saja.” “Pengecut,” sahut Alice dan segera mendorong pintu bilik mandi dengan cepat. Bersamaan dengan pintu yang terbuka, jantung Beni dan Alice pun sama cepat berdegup. “Kreeeek ....” Suara pintu lirih terbuka. Alice dan Beni berposisi seperti patung di depan pintu tidak bisa bergerak. Tidak ada siapa-siapa di depan mereka. “Lihatlah ... Siapa? Tidak ada siapa-siapa kan?” Beni menelan ludah. “Ia betul tidak ada siapa-siapa ....” “Mungkin kamu masih bermimpi,” timpal Alice sembari tertawa lirih. Beni mengehela nafas kesal sembari melirik ke arah handuk dan peralatan mandi yang dibawa Alice. “Kamu mau mandi?” Alice mengangguk. “Apa menurutmu kamar mandi ini tidak terlalu besar dan menyeramkan?” tanya Beni lirih. “Sebetulnya ... aku juga merasa kamar mandi ini terlalu besar. Menakutkan.” “Memang,” timpal Beni sembari mengerenyitkan alisnya. “Bagaimana jika kita mandi bersama.” Alice langsung menoleh dan menatap Beni tidak suka. “Enak saja ya! Tidak sudi aku mandi bersama!” serunya dengan wajah merah padam. “Ma-ma-maksudku ... bukanya kita mandi bersama di satu bilik. Kamu bisa mandi di sini dan aku di bilik yang lainnya. Tidak akan ada yang mengintipmu. Pintunya juga tertutup dan tidak terlihat kan. Jujur saja ya ... aku ... takut mandi sendiri,” ujar Beni dengan suara lirih nyaris berbisik di penghujung kalimatnya. Alice tidak langsung menjawab. Ia melihat ke sekeliling dan beberapa menit kemudian menjawab, “Tidak. Aku tidak mau mandi bersama. Kamu mandi saja dulu. Aku menunggu di luar. Biasanya aku juga mandi sendirian di sini, tidak merasa hal gaib apa pun.” “Tapi untuk apa kamar mandi besar di buat banyak bilik mandinya, jika bukan artinya mandi bersama?” Beni terlihat sangat antusias ketika berbicara. “Ada dua kamar mandi. Di sini dan di bawah. Di bawah untuk pria dan di atas untuk wanita. Mungkin dahulu Kakek buyutmu, Damian Salvatore seorang pria kaya raya yang memiliki banyak selir dan juga dayang. Jadi dia membuat banyak bilik mandi. Kamar yang banyak dan satu ruang kamar mandi yang besar.” Beni mengatupkan bibirnya. “Hm ... masuk akal ....” “Baiklah ....” Alice menarik nafas panjang. “Aku akan menunggu di luar pintu. Kamu segeralah mandi.” Ia segera membalikkan badan dan meninggalkan Beni. “Tu- ....” Beni ingin melarang Alice untuk pergi. Setidaknya dia menunggu di dalam sini saja. Tapi Beni merasa gengsi jika terlihat pengecut dan mempersoalkan soal hantu. Suara pintu tertutup lagi. “Blam!” Tatapan mata Beni berpendar kembali ke sekeliling kamar mandi dengan arsitektur batu-batu alam. ‘Konon katanya, bangunan tua yang dijadikan hotel ini. Dahulu kala di jaman Damian Salvatore, leluhur yang sangat kaya, berpengaruh, perampok, kejam ... menumbalkan kepala manusia yang ditimbun di bawah bangunan agar bangunan ini kokoh hingga beratus-ratus tahun yang akan datang ....’ Tiba-tiba cerita ayahnya saat ia masih kecil kini kembali terdengar. Membuat bulu kuduknya meremang dan segera masuk ke dalam salah satu bilik mandi. Dan yang pasti bukan bilik mandi yang tadi terlihat penampakan seorang wanita di dalamnya. Hanya hitungan menit, Beni sudah selesai mandi. Ia segera keluar dari kamar mandi dan membuka pintunya. Alice yang berdiri di depan pintu langsung berlonjak kaget dan menoleh ke belakang. “Astaga, kamu sudah selesai mandi? Cepat sekali ....” “Iya, memang kenapa? Yang penting bersih,” jawabnya dengan rambut yang setengah basah. “Yasudah aku mandi dulu,” jawab Alice dan kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Beni terdiam sebentar. Ia melihat ke belakang. Pintu kamar mandi yang tidak terlalu rapat tertutup membuatnya bisa melihat Alice memilih bilik kamar mandi yang sebelumnya terlihat penampakan di sana. “Alice, sunggug gadis yang pemberani ...,” pujinya lirih. Di dalam kamar mandi, Alice memutar kran shower. Saat tangannya memutar kran tersebut, ia terkejut karena terasa seakan seseorang menyentuh tangannya. Spontan Alice menarik tangannya sendiri. Kini jantungnya berdebar. Ia melihat ke sekeliling. Tidak ada orang lain di dalam bilik mandi yang sempit ini. Walau takut, Alice segera membuka kran shower kembali dan uap air hangat mulai memenuhi ruangan. “Hm ... Hm ....” Suara gumanan senandung kembali terdengar. Beni yang akan melangkahkan kakinya meninggalkan kamar mandi menuju ke arah koridor, langsung terhenti. Ia menoleh. Tangan kanannya mendorong pintu dengan pelan. Dari celah pintu yang tidak terlalu lebar. Tidak terlalu terlihat banyak. Namun yang jelas suara gumanan tersebut membuat buluk kuduknya kembali meremang. “Suara senandung itu lagi ...,” ujarnya pada diri sendiri. "Apa Alice yang bernyanyi?" “Kamu sedang apa?” tegur Melia. Beni yang membungkukkan badan, mengintip ke balik kamar mandi langsung terkejut dan segera berbalik. “Bibi Jasmine!” Melia mengerutkan dahinya. “Apa yang kamu lakukan di depan pintu? Kamu mengintip Alice sedang mandi?” Beni langsung menggeleng. “Tidak Bibi! Aku tidak mengintip. Sudah dua kali aku mendengar senandung berguman yang menyeramkan!” Kedua alis Melia semakin bertaut. “Oh ya? Gumanan apa?” “Nyanyian!” Melia langsung terdiam. “Bibi Jasmine ... Bibi percaya padaku kan?” “Senandung gumanan itu ... tapi merdu?” Beni menangguk. “Iya, merdu ... Apa bibi juga sering mendengarnya?” Melia menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak,” jawabnya lugas. “Hanya saja ....” “Hanya saja apa Bi?” Melia menatap Beni. “Kalau aku bercerita, kamu berjanji tidak akan takut?” Beni menggeleng cepat. “Tidak ... Aku tidak akan takut,” jawabnya asal. Melia menghela nafas panjang dan melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Dulu ada seseorang penyanyi Kota yang singgah ke mari. Sekitar lima belas tahunan yang lalu ... entah karena alasan apa, wanita tersebut bunuh diri di kamar nomer empat puluh sembilan itu. Lalu semenjak itu terjadi banyak musibah di hotel ini ... Dan beberapa pengunjung mengatakan sering mendengar suara senandung merdu yang menakutkan.” Bulu roma Beni langsung berdiri. Melia berjalan mendekat. Ia menatap wajah Beni semakin lekat. “Makanya lebih baik kita segera menjual hotel ini. Tapi sebelum kita menjualnya, kita harus menemukan di mana harta karun yang tersimpan di hotel ini.” Beni menggigit bibir bawahnya. Netranya membalas tatapan Melia. “Tapi, harta karun yang bibi maksud itu aku tidak tahu ada di mana. Bahkan selama ini aku mengira harta karun yang disimpan oleh leluhur Damian Salvatore hanya omong kosong.” “Tidak!” seru Melia dengan suara meninggi. Beni terkejut. Ia tidak mengira bibi Jasmine akan semarah ini hanya kerena dia tidak tahu di mana harta karunnya. Dan sudah sering dibahas sejak pertama kali kedatanganya ia tidak tahu apa-apa. Namun sepertinya Bibi Jasmine tidak percaya, batin Beni. “Kamu harus segera mengingat di mana tempat persembunyiannya! Jika tidak ....” “Jika tidak apa Bi?” sahut Beni. “Seluruh arwah penasaran yang tidak tenang di bangunan ini akan menghantuimu. Karena di harta karun tersebut ada hak mereka. Damian Salvatore adalah orang yang sangat kaya di masanya. Sakti dan juga ... kejam. Kamu tahu kan jika bangunan ini dibangun dengan menumbalkan banyak nyawa? Kepala terpenggal yang dipendam!” Beni menelan ludah. Harusnya bibi Jasmine tidak usah berbicara seperti itu, pikirnya. Hal ini sungguh membuatnya takut. “Aku tahu Bi. Tidak usah diberitahukan lagi.” “Kamu adalah cucu satu-satunya. Berarti kamu adalah satu-satunya keturunan terkahir Damian Salvatore. Keturunan generasi kedelapan yang akan menjadi incaran para korban leluhurmu.” “Kalau begitu aku pulang saja. Maaf. Aku tidak bisa mempertaruhkan keselamatanku di sini.” Beni bergegas pergi meninggalkan Melia. Melia segera mencengkeram lengan Beni. “Hei, jika kamu pergi, maka kamu akan pulang tanpa membawa apa pun. Bukankah kamu butuh uang untuk modal usahamu di Kota?” Beni terkesiap. Manik matanya membulat. “Dari mana bibi tahu aku membutuhkan uang untuk modal usahaku di Kota? Apa bibi Jasmine dan Paman Gabriel membaca suratku untuk Kakek Thomas?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN