Beni terkesiap. Manik matanya membulat. “Dari mana bibi tahu aku membutuhkan uang untuk modal usahaku di Kota? Apa bibi Jasmine dan Paman Gabriel membaca suratku untuk Kakek Thomas?”
“Ya, kami membacanya,” jawab Melia.
Kedua alis Beni bertaut. Ia tidak menyangka Bibi Jasmine dan Paman Gabriel akan berlaku tidak sopan begini. “Kenapa bibi membacanya?” Ia tidak suka jika ada seseorang yang ikut campur dalam urusan pribadinya. “Harusnya orang tua seusia Bibi dan Paman sadar jika membaca surat orang lain itu adalah hal yang tidak sopan dan memalukan.”
“Kami tidak berniat apa pun, dan juga terpikirkan jika membaca surat darimu adalah perbuatan yang tidak sopan,” jawab Melia berdalih. “Karena Kakek Thomas meninggal, makanya aku dan pamanmu itu mengumpulkan barang-barang beliau. Mana kami sangka ternyata surat darimu ada di antara surat-surat lain. Kami tidak mengira jika Kakek Thomas masih berhubungan dengan anak Gavi. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, karena memang kamu adalah satu-satunya cucu keturunan asli Salvatore saat ini."
Beni menarik nafas panjang. Ia berusaha tenang dan bersabar mendengarkan penjelasan Bibi Jasmine.
Tapi sayangnya, wanita yang dikiranya adalah bibinya itu ternyata bukan Bibi Jasmine. Tapi Melia yang berusaha menyamar dan menipu Beni demi harta karun.
“Harusnya Bibi tahu aku akan datang. Tapi kenapa saat aku datang, Bibi dan Paman seraya tidak mengenaliku? Padahal aku pernah mengirimkan fotoku dan Ibuku pada Kakek Thomas ketika beliau memintanya.”
Raut muka Melia langsung berubah datar. Ia dan Jack tidak menemukan surat yang berisikan foto. “Kami ... Kami tahu kamu akan datang. Tapi kami lupa,” jawabnya sembari tersenyum tipis dan sedikit terbata-bata.
Kedua alis Beni bertaut. Memang alasan bibinya itu masuk akal. Mungkin saja ia tidak menemukan surat yang berisikan fotonya dan ibunya. Maka dari itu saat datang tidak ada yang mengenalinya.
Di dalam hati Melia, ia bertanya-tanya ke mana surat yang kata Beni terdapat fotonya?Padahal semua surat-surat Beni yang ada di kamar Kakek Thomas telah disimpannya.
Karena telah membaca isi surat-surat tersebut, membuat Melia dan Jack mengetahui jika Beni adalah penerima hak warisan bangunan tua bersejarah ini. Bangunan tua yang sangat kokoh berdiri sejak beratus-ratus tahun yang lalu.
Di balik dinding yang lain, Alice berdiri menguping. Kini menguping adalah salah satu keahliannya. Saat Melia dan Jack membicarakan akan menyingkirkan Bibi Jasmine dan Paman Gabriel yang asli pun ia mendengar. Tapi sayangnya, Jack dan Melia tidak pernah membicarakan soal di mana mereka menyandera!
“Well ... kamu ... sudah mandi. Beristirahatlah. Jika ingin menonton televisi turun saja ke bawah. Aku dan pamanmu ada di sana. Kita bisa minum teh atau kopi bersama.”
Beni mengangguk. Ia tidak minat minum kopi bersama, karena masih kesal dengan fakta jika bibi Jasmine dan Paman Gabriel telah lancang membaca satu persatu surat yang diberikannya untuk Kakek Thomas.
“Ke mana surat yang berisikan foto Beni dan ibunya,” guman Melia bertanya pada dirinya sendiri dengan suara lirih sembari berjalan pergi.
Alice mendengar. Ia meremas pakaian kotor dan handuk yang dipegangnya. Suatu ketika Alice menyelinap masuk ke dalam kamar Kakek Thomas dan mencari-cari petunjuk tentang satu-satunya keturunan cucu generasi ke delapan Damian Salvatore, yaitu Beni.
Lalu Alice membaca sebagian surat-surat Beni untuk Kakek dan mengambil salah satu surat yang berisikan foto Beni dan juga ibunya. Karena itu saat Beni tiba di hotel, ia sudah tahu jika pria yang membawa koper persegi panjang berwarna marun tersebut adalah Beni Salvatore. Keturunan generasi kedelapan.
“Sepertinya semua orang sangat aneh,” gerutu Beni dengan suara yang agak kencang. Netranya mulai berpendar memandangi ke seluruh ruangan besar dan juga ujung koridor gelap.
“Apa besok aku pulang saja ya? Hotel yang sudah tua dan menyeramkan. Dan hanya terdapat cerita dongeng tentang harta karun. Lalu tragisnya Bibi Jasmine dan Paman Gabriel percaya akan harta karun tersebut dan memintaku untuk mengingat! Astaga ... bagaimana aku bisa mengingat jika aku tidak tahu apa-apa ....”
Beni hendak melangkahkan kakinya ke arah kamar. Bersamaan dengan itu, perutnya mengeluarkan bunyi. Lapar.
“Apa kamu lapar?” Suara Alice yang bertanya tiba-tiba terdengar dari balik punggungnya.
Beni menoleh. “Hei, kamu sudah selesai mandi?” tanyanya karena menghirup aroma wangi sabun.
“Sudah. Kamu tidak mengintipku kan?” Alice balik bertanya sembari tertawa.
Air muka Beni langsung menjadi merah tersipu. Ia malu. Berharap di dalam hati Alice tidak tahu saat dia mandi, ia membuka sedikit pintu utama dan mengamati bagian bilik-bilik mandi yang berjajar banyak tersebut. “Saat kamu mandi, apa kamu tidak mendengar suara wanita yang bersenandung?”
“Suara yang bersenandung? Itu mungkin aku ...,” jawab Alice. “Sudahlah ... apa yang kamu lihat itu tidak nyata. Kamu hanya berimajinasi melihat seorang hantu wanita.”
“Aku tidak berimajinasi Alice. Suara shower yang mengalir dan juga suara senandung wanita itu sangat jelas terdengar.”
“Jangan membuatku sama takutnya denganmu! Lama-lama aku juga takut jika kamu terus mengatakan ada hantu wanita.”
“Sungguh ada hantu wanita ... aku mendengarnya ...,” desis Beni lirih.
Alice menjadi kesal. “Hentikan Ben! Aku dengar tadi perutmu bergemuruh seperti suara langit yang sebentar lagi akan menurunkan hujan. Aku mau mencari makan di luar. Apa kamu mau ikut?” tanyanya dengan nada bicara ketus.
Beni langsung senang. “Makan di luar?”
Alice mengangguk. “Iya, kita makan di luar. Kamu baru datang dari luar Kota setelah sudah sekian lama tidak ke mari. Mungkin jika kita jalan-jalan, kamu akan mengingat sesuatu.”
Beni yang tadi biasa saja, kini antusias. Bukan antusias karena suasana di luar hotel yang kemungkinan akan membuatnya teringat kenangan lama saat masih kecil. Tapi kesempatan ini akan dipergunakan Beni untuk mencari seorang gadis kecil yang seingatnya dulu pernah memberikannya sekuntum mawar merah perpisahan.
“Sekalian makan di luar, apa kita bisa ke perumahan warga yang tak jauh dari hotel ini?” tanya Beni dengan sepasang manik mata berbinar.
“Perumahan warga yang tak jauh dari sini? Setahuku perumahan warga yang tak jauh dari sini tidak ada. Paling dekat saja ada sekitar dua kilometer dari hotel ini. Memang ada apa dengan pemukiman warga?” tanya Alice ingin tahu.
“Aku ingin mencari seseorang.”
“Siapa?”
“Seseorang yang saat aku masih kecil memberikanku sekuntum mawar merah perpisahan. Anehnya aku tidak mengingat wajahnya. Di dalam benakku, aku hanya teringat tangan mungil anak perempuan berusia enam tahun yang memberikan bunga,” jawab Beni dengan raut muka mengingat-ngingat.
“Dan ... ada apa dengan gadis kecil itu hingga kamu ingin mencarinya?” tanya Alice sekali lagi.