Empat hantu anak kecil

1107 Kata
“Aku ingin mencari seseorang.” “Siapa?” “Seseorang yang saat aku masih kecil memberikanku sekuntum mawar merah perpisahan. Anehnya aku tidak mengingat wajahnya. Di dalam benakku, aku hanya teringat tangan mungil anak perempuan berusia enam tahun yang memberikan bunga,” jawab Beni dengan raut muka mengingat-ngingat. “Dan ... ada apa dengan gadis kecil itu hingga kamu ingin mencarinya?” tanya Alice sekali lagi. “Dia adalah temanku. Seingatku saat aku masih kecil dan tinggal di sini, gadis kecil itu adalah temanku. Dan saat aku pindah ke kota lain, dia bilang akan sangat sedih.” “Kamu ingat wajahnya?” Alice terlihat antusias. Iris matanya melebar saat bertanya. Beni tidak langsung menjawab. Ia menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak ingat ....” “Sayang sekali ya kamu tidak ingat Ben, padahal jika kamu mengingat pasti ....” Kalimat Alice terpenggal. “Pasti apa?” Alice menatap Beni. “Pasti akan mudah mencari gadis yang kamu maksud itu ...,” lanjutnya lirih. “Aku tidak ingat wajahnya. Sungguh kenangan-kenangan saat aku masih kecil di sini tidak bisa aku ingat. Semua bayangan seakan samar dan kabur.” Alice menarik nafas panjang dan dalam. “Oke, sekarang aku menaruh peralatan mandiku dulu di kamar.” “Aku juga akan menaruh semua ini ke kamarku,” jawab Beni sembari memandangi pakaian kotor dan alat mandi yang dibawanya. Alice berjalan lebih dulu meninggalkan Beni. “Alice, tunggu!” serunya. Langkah Alice terhenti. Ia menoleh ke belakang. “Iya, ada apa?” “Di mana kamarmu? Apa di lantai ini juga?” Alice mengangguk. “Iya di bagian ujung sebelah sana. Paling ujung koridor,” jawabnya sembari menunjuk. “Aku kira kamarmu ada di lantai bawah. Jika di satu lantai ini ada orang lain selain aku, pasti aku tidak akan takut begini.” Alice tersenyum tipis. “Ternyata kamu penakut rupanya ... Sebelumnya kamarku memang ada di lantai bawah dekat kamar paman dan bibi, tapi aku pindah saja di atas. Aku merasa di sini lebih aman.” “Lebih aman ...?” tanya Beni lirih sembari memandangi ke sekeliling. Koridor di lantai atas justru terlihat lebih gelap. Lorong gelap lurus yang menakutkan. “Apanya yang lebih aman? Aku merasa di lantai atas ini banyak penghuni gaibnya.” “Asal kamu tahu, sudah dua hari aku tidur di kamarku, aku tidak merasakan gangguan apa pun ....” “Suara garukan di tembok?” tanya Beni segera. Alice menggeleng. “Tidak ada ....” “Suara desisan memanggil namamu?” Alice kembali menggelengkan kepalanya. “Tidak ada Ben,” jawabnya dengan suara yang lebih tegas. “Sudahlah, ayo kita segera bergegas. Jika tidak restoran di dekat danau akan tutup kalau tidak segera ke sana!” “Oke, oke, maaf. Aku hanya penasaran saja. Jika boleh, kita tukar kamar. Mau?” “Tidak!” sahut Alice dengan suara lebih keras dari pada sebelumnya, dan segera pergi ke kamarnya. Setelah Alice pergi, Beni pun segera melangkahkan kaki cepat menuju kamarnya sendiri. Pintu kamar dibuka dan ditutup kencang. Jantung di dadanya berdegup lebih cepat saat melewati lorong gelap tadi, seakan di setiap depan pintu kamar ada seseorang yang melihat tajam ke arahnya. Apa benar mereka arwah? Beni tidak bisa menoleh dan memastikan jika apa yang dirasakan oleh batinnya memang benar. Satu-satunya cara ya berlari kencang dan segera masuk ke dalam kamarnya. “Ya Tuhan ... Kenapa penglihatanku muncul lagi,” ujarnya lirih sembari bersandar di belakang pintu. Setelah selesai berganti pakaian dan memakai mantel karena di luar angin dingin yang menerpa mulai berganti dengan buliran salju yang ringan. Beni dan Alice saling bertatapan di pintu belakang. “Kita tidak meminta ijin dulu pada bibi?” tanya Beni merasa jika mereka pergi tanpa pamit terasa tidak sopan. “Jika kita meminta ijin pada bibi dan paman, kita tidak akan diijinkan keluar dari hotel,” jawab Alice melarang. “Kenapa bisa begitu?” “Ya, karena kita tidak boleh keluar.” “Ini hanya salah faham. Tidak mungkin bibi dan paman membuat kita seperti tahanan,” sahut Beni. Alice menarik nafas panjang. Rasanya sulit menjelaskan pada Beni apa lagi membongkar kenyataan jika Paman dan bibi yang selama ini dianggap Gabriel dan Jasmine itu bukanlah yang asli. Kita jadi makan malam di luar atau tidak?” tanyanya mengalihkan tema pembicaraan. Beni memasukkan kedua tangannya ke dalam saku blezer. “Tentu. Aku sudah lapar. Rasanya cacing-cacing di dalam perutku ini sudah berdemo,” jawabnya sembari tersenyum simpul. Alice tertawa lirih. “Aku akan mengajakmu ke restoran yang paling enak di dekat danau,” katanya sembari tersenyum simpul. Berharap di dalam hati, Beni akan mengingat setiap kepingan kenangan yang telah terhapus. “Ayo!” Tangan kanan Alice bergerak, memberi isyarat jika mereka harus segera bergegas berjalan kaki menuju restoran. “Kita tidak menggunakan mobil?” “Lebih asik jalan kaki. Kita bisa melihat pemandangan danau.” “Hm ....” Beni mengangguk sembari menahan senyumannya. “Tidak kusangka ini ternyata ajakan kencan rupanya.” “Jangan mengkhayal!” seru Alice yang kembali ketus. “Hei, jangan kasar padaku. Walau bagaimana pun aku adalah majikanmu,” sahut Beni sembari tertawa. ‘Beni ....’ Suara parau, lirih dan bergetar itu terdengar lagi. Suara yang memanggilnya berasal dari atas beranda hotel. Beni menoleh. Perlahan tapi pasti manik matanya melihat ke arah atas. Di beranda seorang wanita menggendong bayi dan empat anak kecil sekitar berusia enam sampai delapan tahunan itu menatap ke arahnya. Di pangkal leher para anak kecil tersebut terlihat luka bergaris yang mengeluarkan darah. ‘Beni, kamu kembali untuk kami?’ Langkah kaki Beni terhenti. Kedua kakinya kini terasa berat bagai patung. Manik matanya bergetar melihat penampakkan yang dilihat netranya. Alice ternyata berbicara sendirian sembari berjalan. Tadinya ia mengira Beni berjalan mengikutinya dari belakang. Saat merasa tidak ada sahutan, ia menoleh. Dan terkejut melihat Beni yang tertinggal jauh sembari melihat ke arah hotel. “Astaga, Beni! Aku kira kamu ada di belakangku!” serunya dan kembali menghampiri Beni. “Hei, kamu kenapa?” Alice merasa aneh dengan bibir Beni yang ternganga dan wajahnya yang pucat pasi. Bukan pucat karena udara dingin bersalju. Raut wajah pucat dan kulit yang dingin itu karena rasa takutnya melihat penampakkan. “Ben ... Hei ... Kamu kenapa?” tanya Alice sembari menepuk-nepuk pipi Beni dengan telapak tangannya. Manik matanya pun mengikuti ke arah mana Beni memandang. Alice ikut melihat ke arah beranda atas hotel. “Apa yang kamu lihat Ben?” “Di sana ...,” jawab Beni sembari menunjuk. “Apa kamu tidak melihat seorang wanita menggendong bayi dan empat anak kecil yang berdiri di balik lekukan pembatas beranda lantai atas?” Alice memicingkan matanya. Berusaha melihat lebih jelas. “Kamu juga melihatnya kan Alice ...?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN