Memiliki indera keenam

1200 Kata
Alice memicingkan matanya. Berusaha melihat lebih jelas. “Kamu juga melihatnya kan Alice ...?” “Melihat apa?” tanya Alice dengan sepasang mata membulat. “Wanita yang menggendong bayi dan juga empat anak kecil!” seru Beni lirih. Alice membalas tatapan Beni yang bergetar dan ketakutan. Menggeleng pelan. “Tidak ... aku tidak melihat apa pun ....” Beni termenung dan menelan ludah. Kerongkongannya terasa sangat kering. Alice menggelengkan kepalanya kembali. “Apa kamu baik-baik saja? Kamu sedang sakit?” Beni tidak menjawab. Bahkan pertanyaan Alice tidak terdengar di indera pendengarannya. Netranya fokus melihat ke arah beranda hotel. Entah kenapa hantu wanita dan empat anak kecil tidak segera menghilang. Tangan kanan hantu wanita tersebut tiba-tiba saja terulur panjang dan segera bergerak ke arah Beni. Lengan pucat dan panjang mengarah padanya. “Aaaa!” Beni berteriak. Alice terkejut dengan suara teriakan Beni karena ia tidak melihat apa pun. “Ada apa Ben?! Kenapa kamu berteriak?! Ada apa?!” “Lari Alice!” seru Beni sembari menarik lengan Alice agar ia ikut melarikan diri bersamanya. Alice yang masih bingung, tak banyak tanya dan pilihan. Ia segera ikut berlari bersama Beni yang menggandeng tangannya. Tangan panjang di belakangnya terus meraih dan mengejar. Beni ketakutan setengah mati. Bahkan perasaan takutnya itu menular kepada Alice. “Beni, jawab! Ada apa?!” Alice beberapa kali mengeluarkan pertanyaan yang sama, tapi tidak segera dijawab oleh Beni. *** “Mereka tidak ada di kamar!” seru Melia pada suaminya. Jack yang sedang duduk bersantai sembari memegang sebotol minuman langsung menatap istrinya. “Siapa yang kamu maksud dengan ‘mereka’? Kalau berbicara yang jelas.” “Siapa lagi kalau bukan Beni dan Alice. Hanya mereka yang ada di sini.” “Aku kira Gabriel dan Jasmine yang kita sekap yang tidak ada,” jawab Jack sembari menghela nafas panjang. “Tapi Alice dan Beni juga sama pentingnya. Bagaimana jika mereka kabur dari sini?” Melia sangat terlihat cemas. "Hanya Beni yang tau di mana harta karun leluhur Salvatore terpendam." “Aku rasa mereka tidak akan kabur,” kata Jack sangat percaya diri. Alis Melia beradu. “Tidak bisa kabur? Bagaimana kamu bisa tahu? Bisa saja perasaanmu salah. Mereka kabur dan akan malaporkan pada sherif?” “Jangan terlalu cemas. Aku yakin Alice tidak akan mengatakan apa pun pada Beni apa lagi mengajaknya kabur. Alice terlalu pengecut untuk mempertaruhkan keselamatan paman dan bibinya. “Apa kamu yakin?” Melia menatap Jack dengan tatapan takut. “Bisa saja gadis itu memberitahu Beni jika kita menyamar menjadi Gabriel dan Jasmine?” “Tenang saja Melia, Alice tidak memiliki keberanian itu. Sampai dia tahu di mana kita menyekap Gabriel dan Melia, dia tidak akan mengatakan apa pun.” “Semoga firasatmu benar.” “Firasat apa?” Kini Jack bertanya. “Tentang Alice yang pengecut,” sahut Melia. “Karena menurutku jika dia adalah gadis pengecut, dia sudah melarikan diri saat kita lengah dan tak kembali lagi ke mari.” Jack memijit keningnya. Istrinya tidak faham-faham juga atas apa yang sedang dijelaskannya. “Alice tidak akan kabur, mengadu pada Beni atau melapor pada sherif, itu karena kita memiliki dua orang yang disayangnya. Sampai dia bisa memastikan Gabriel dan Jasmine yang asli benar-benar aman, dia akan menjadi kucing peliharaan kita yang manis,” ujarnya sembari tersenyum tipis. “Lagi pula, harusnya kamu tidak usah cemas terlalu berlebihan. Karena salah satu sherif di Kota kecil ini adalah adikmu.” Hening. Melia menoleh dan tersenyum tipis. “Ya, betul Mike adalah salah satu sherif di Kota ini. Bagaimana pun juga dia tidak akan membiarkan kakaknya masuk penjara.” Jack melingkarkan lengannya di sepanjang bahu Melia. “Tenang saja, Alice akan tutup mulut.” *** Alice menatap tangannya yang digenggam erat oleh Beni. Beni membawanya berlari sangat jauh, tumpukan salju yang ada di jalan membekas tapak sepatu boots. “Beni, Beni! Sudah cukup! Kita lari dari apa?!” Beni menghentikan langkah kaki lebarnya. Melihat ke arah belakang. Tidak ada siapa-siapa. Tangan yang lurus menggapai ke arahnya pun tidak terlihat lagi. “Ada apa?!” tanya Alice sekali lagi sembari ikut melihat ke arah belakang. “Sudah tidak ada yang mengejar kita.” “Siapa? Dan kenapa?” Alice sungguh tidak mengerti. Hening. Beni tidak segera menjawab. Nafas mereka terengah-engah dan kepulan hembusan nafas dingin keluar dari mulut mereka. “Tadi wanita yang menggendong bayi. Mengejar kita.” “Dia terbang?” Beni menggeleng. “Tidak terbang. Tapi tangannya terulur panjang seperti karet. Sangat panjang dan ingin meraih kita. Lalu suara menakutkan lirih dan parau memanggil namaku. Dia terus memanggil, ‘Beni ... Beni!’ Ya Tuhan. Kenapa aku bisa melihat mahluk-mahluk itu lagi di sini!” Alice terdiam dan mengamati Beni. “Lagi? Jadi dulu kamu pernah melihat hantu?” Beni terpeleset lidah. Harusnya ia tidak memberitahu Alice tentang masa lalunya. Alice masih menatapnya dengan tatapan dalam. “Beni ... Katakan padaku ....” Beni membisu. “Kita bisa bicarakan semua ini di restoran sana,” ujar Alice sembari menunjuk sebuah restoran yang beradaada tak jauh dari mereka. Ternyata Beni mengajak Alice berlari jauh sudah sampai ke dekat danau. “Kita sudah sampai di restorannya?” Alice mengangguk. “Ya, sudah. Rupanya kamu atlet lari juga ...,” sindirnya. Alice lebih dulu masuk ke dalam restoran. Pramusaji pria dengan rambut pirang di restoran menyapa dan mempersilahkan masuk. Malam ini hanya ada beberapa orang yang makan di restoran sehingga suasananya nyaman. “Kamu sering ke mari?” tanya Beni sembari menarik salah satu kursi yang akan didudukinya. “Tidak terlalu sering aku ke mari.” “Padahal restorannya sangat nyaman. Dan tidak jauh juga dari hotel. Semoga makanan di sini tidak mahal. Karena wanita yang mengajak kencan dan tetap saja si pria yang membayarnya,” kata Beni sembari menaikkan sepasang alisnya ke atas. “Please Ben, ini bukan kencan. Ini hanya makan malam biasa.” Beni tertawa. Puas menggoda Alice. “Setelah makan, apa kita akan mencari gadis yang aku beritahu padamu itu? Teman masa kecilku?” Alice menatap Beni. “Oke, kita akan mencarinya. Tapi aku tidak janji bisa menemukan gadis yang kamu maksud itu. Lagi pula dengan ingatan yang samar-samar mana bisa kamu menemukannya,” jawabnya sembari meminta pelayan membawakan mereka makan malam. “Aku pesan Bubble and Squeak, Black pudding dan minuman yang bisa menghangatkan tubuh kami dari udara dingin ini.” Pramusaji pria menuliskan pesanan Alice di kertas notes. Lalu dia bertanya pada Beni makanan apa yang ingin dipesan. Beni menjawab, sama saja seperti yang dipesan Alice. Pramusaji kembali ke pekerjaannya dan segera mengantarkan pesanan Alice dan Beni. Sementara menunggu makanan malam mereka berada di atas meja. Alice kembali memandangi Beni dengan tatapan lekat. “Beni, ceritakan dan jelaskan kalimatmu yang tadi mengatakan, ‘Kenapa aku bisa melihat mahluk-mahluk itu lagi di sini?’ Jelaskan padaku Ben. Aku ingin tahu! Apa sebelumnya kamu pernah melihat mereka?” Beni terdiam, tidak langsung menjawab. Di dalam hati bertanya-tanya, apakah harus memberitahu Alice jika ia memiliki indera keenam, bisa melihat hal yang tidak seharusnya dilihat? Tapi kemampuan itu sudah hilang sangat lama bersamaan dengan samarnya ingatan tentang Hotel kakek Thomas dan juga kenangan akan Kota kecil ini. “Beni, please jawab aku ... Aku ingin tahu,” pinta Alice dengan suara lirih dan tatapan sayu, membujuk sebuah jawaban.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN