Lebih baik bercerita

1217 Kata
“Beni, please jawab aku ... Aku ingin tahu,” pinta Alice dengan suara lirih dan tatapan sayu, membujuk sebuah jawaban. Beni terlihat kikuk. “Apa jika aku memberitahumu kamu akan percaya padaku?” tanya Beni lirih. “Memang tentang apa?” Alice berbalik bertanya. Beni merasa Alice tidak akan percaya padanya. “Ya sudahlah jika kamu tidak percaya padaku.” “Memangnya aku mengatakan begitu?” sahut Alice bersamaan dengan datangnya pramusaji mendekat ke meja mereka. Bubble and Squek, makanan yang berbahan dasar sayuran yang dipadukan dengan daging, kentang dan kubis. Ditambah wortel dan kacang polong di atas piring lebar. Tidak lupa black pudding dan dua gelas teh lemon hangat di sajikan di sebelahnya. “Sajian yang tidak serasi,” sahut Beni setelah pramusaji meninggalkan meja mereka. “Jika menu pilihanku tidak serasi, kenapa kamu mengikutinya?” Alice terlihat kesal dan segera menyantap makan malamnya. “Karena kamu memilihnya.” Jawaban Beni justru membuat Alice semakin sebal. “Oia, lanjutan ceritamu. Kamu akan memberitahukan aku apa? Ya, aku akan percaya setiap hal yang akan aku dengar.” Beni menyuap potongan daging yang lezat ke dalam mulutnya. “Aku merasa kamu hanya terpaksa mempercayaiku.” “Aku tidak terpaksa,” sahut Alice sembari menguyah kubis. “Ayo ceritakan ... Tentang hantu wanita bertangan panjang saja aku percaya.” Beni yang sedang menikmati daging dan juga sayuran yang ada di piring lebarnya melirik ke arah Alice. “Sungguh, wajahnya justru berbanding terbalik dengan apa yang kamu katakan.” “Astaga Ben ... Aku serius. Aku percaya dengan apa yang akan kamu ceritakan padaku. Aku percaya dengan hantu wanita menggendong bayi dan empat anak kecil.” Beni menarik nafas panjang dan menghembuskan nafasnya pelan. “Saat aku masih kecil, ibuku bercerita jika aku memiliki kelebihan bisa melihat mahluk gaib. Tapi kemampuanku itu segera dihilangkan dengan hipnotis. Aku melupakan segalanya tentang masa kecilku. Tapi saat aku menginjakkan kaki di Hotel ini, semua kenangan itu kembali muncul walau samar.” Alice yang tadi terlihat sangat bernafsu ketika menyantap makanan, menghentikan gerakan tangannya. “Kenapa ibumu membuatmu melupakan kenangan masa kecil dan kemampuanmu itu?” “Aku pernah hampir mati tenggelam di kolam di belakang halaman hotel. Saat itu aku melihat beberapa anak kecil mengajakku bermain. Aku melihat di kolam itu ada tiga anak kecil. Dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Dan aku kira kolamnya tidak dalam. Tapi saat aku menghampiri dan ikut bermain. Kolam itu sangat dalam. Untung saja Paman Gabriel melihatku dan segera menolongku.” Alice terdiam. Ya, dia teringat kejadian tersebut. Ia ada di sana berdiri di sisi Bibi Jasmine dan sangat cemas. “Dan semua yang terjadi padaku itu hanya berdasarkan apa yang diceritakan oleh ibuku. Aku sudah tidak ingat.” “Semua karena hipnotis yang dilakukan itu?” Raut muka Alice sangat serius. Beni mengangguk. “Iya, semuanya karena hipnotis, aku melupakan apa yang tejadi dan juga ‘penglihatanku’. Tapi saat aku kembali ke mari, apa lagi saat aku menginjakkan kaki di hotel, aku merasa mereka kembali ... Entah hipnotisnya sudah tidak bekerja lagi. Atau memang otakku ingin mengingatnya.” “Sayang sekali jika ‘penglihatanmu’ itu hilang. Padahal menurutku banyak hal yang bisa kamu lakukan dengan hal tersebut.” “Apa yang bisa aku lakukan dengan kemampuan anehku itu?” Beni tersenyum getir. “Penglihatanmu ... Bakat yang diberikan Tuhan itu adalah anugerah.” Manik mata Alice berbinar. “Bukan anugerah. Tapi kutukan. Aku hampir mati karena bisa melihat para hantu itu. Aku merasa aneh. Dan ibuku selalu mengatakan untuk jangan menceritakan pada siapa pun tentang kemampuanku ini,” kata Beni sembari menarik nafas berat. “Aku hanya ingin terlihat normal. Dan jika aku kembali mengingat tentang hantu-hantu itu, nyawaku akan terancam.” “Ibumu yang mengatakannya?” Beni mengangguk pelan. “Ya, ibuku mengatakan hal itu ....” Alice menatap Beni lekat. “Ada yang harus kamu ketahui.” “Apa?” Beni menunggu. “Mungkin dengan ‘penglihatanmu’ ini bisa membantu. Kita harus mencari seseorang dengan penglihatan mu itu.” “Maksudmu, gadis kecil yang aku maksud itu?” tanya Beni cepat. Alice menggelengkan kepalanya. Bukan mencari dia dengan penglihatanmu. Dia adalah manusia biasa yang namanya tidak kamu tahu. Tapi setidaknya kita bisa meminta bantuan pada mahluk gaib yang kamu lihat di hotel.” Dahi Beni berkerut. “Maksudnya? Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan.” “Jadi, maksudku ... Sebetulnya penglihatan yang kamu miliki ini bisa menjadi berguna. Seperti berbicara pada mereka untuk menanyakan hal lain apa yang terjadi di Hotel. Tapi yang pasti bukan untuk mencari gadis teman masa kecilmu, yang namanya saja kamu lupa.” Kening Beni semakin berkerut. “Tolong perjelas secara spesifik lagi. Apa maksud dengan yang kamu katakan?” Ia sadar Alice berbicara hanya setengah-setengah. Alice mulai menatap muka Beni dengan tatapan serius. “Jadi, maksudku ... kamu bisa bertanya pada para hantu itu. Jadikan mereka teman. Jadikan penglihatanmu itu sebuah ‘Pemberian’ bukannya kutukan.” “Cotohnya seperti apa yang harus aku tanyakan pada mereka?” Beni menaikkan kedua alisnya ke atas sembari mengendikkan bahunya. “Bertanya pada para hantu yang kamu lihat di mana Damian Salvatore menyimpan harta karun yang katanya untuk harta simpanan di masa depan. Kita adalah salah satu keturunannya. Kita berhak mendapatkannya.” “Kita?” tanya Beni lirih. Alice segera mengatupkan bibirnya. “Maksudku kamu ... Kamu adalah satu-satunya cucu kandung. Keturunan Damian Salvatore. Kamu berhak memiliki harta simpanan yang terkubur sangat lama itu.” Beni terdiam. Apa yang dikatakan Alice memang masuk akal. Siapa tahu saja hantu penunggu Hotel yang sudah sangat lama tinggal di sana bisa memberitahunya. Tapi tentu saja dia tidak akan bertanya pada hantu wanita yang tangannya menjadi panjang dan mengejarnya. Tiga hantu anak kecil itu, sepertinya tidak terlalu menakutkan.” “Bagaimana ideku?” tanya Alice. Beni menganggukkan kepalanya. “Idemu lumayan bagus. Ide yang keren.” “Jadi setelah pulang dari sini, kita bisa segera mencari hantu itu?” “Tidak. Aku tidak ingin mencarinya. Andai kamu lihat rupa mereka,” jawab Beni sembari membayangkan wajah-wajah seram tersebut. “Jika tiga hantu anak kecil itu, mungkin aku masih bisa menahan rasa takutku. Tapi tidak dengan hantu wanita yang membawa seorang bayi ....” Alice memandangi raut muka Beni. Tatapannya menerawang. “Apa sangat menakutkan?” Beni mengangguk. “Wajah yang pucat. Seluruh matanya berwarna hitam. Ada noda darah di bajunya. Tangan kirinya menggendong bayi. Yang pasti tatapan matanya itu tajam seraya menusuk jiwaku dan membuat bulu kudukku berdiri,” jawabnya lirih. “Apa aku ceritakan pada Bibi Jasmine tentang penglihatanku yang kembali ini?” “Jangan!” seru Alice cepat. “Jangan katakan apa pun pada bibi Alice atau paman Gabriel! Mereka tidak boleh tahu apa pun tentang rahasia masa kecilmu.” “Kenapa begitu?” tanya Beni merasa aneh. “Paman dan Bibi sudah tahu aku memiliki indera keenam. Paman Gabriel lah yang menyarankan ibuku untuk melakukan terapi hipnotis agar aku melupakan dan tidak bisa melihat hantu lagi.” “Karena ....” Suara Alice terbata. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Seakan memastikan memang aman. Karena mungkin saja Melia dan Jack memiliki mata-mata dan mengikuti mereka untuk mengawasi. “Ada apa Alice ...?” “Paman dan Bibi yang ada di Hotel Kakek Thomas, mereka bukanlah Paman Gabriel dan juga Bibi Jasmine,” jawab Alice dengan suara yang amat lirih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN