“Paman dan Bibi yang ada di Hotel Kakek Thomas, mereka bukanlah Paman Gabriel dan juga Bibi Jasmine,” jawab Alice dengan suara yang amat lirih.
Beni langsung terkesiap. “Apa? Bagaimana bisa!”
Alice langsung menoleh ke kiri dan ke kanan. “Pelankan suaramu ....”
Beni ikut melihat ke sekeliling seperti apa yang dilakukan oleh Alice. “Apa yang kamu katakan Alice. Bagaimana bisa kamu mengatakan mereka bukanlah Paman Gabriel dan Bibi Jasmine?”
Alice menarik nafas panjang. Ia menyingkirkan piring makanan yang sudah hampir habis. Punggungnya sedikit condong ke depan. “Aku mengatakan hal serius Ben,” katanya dengan suara sangat lirih. “Mereka bukan Paman Gabriel dan Bibi Jasmine. Aku diancam untuk tidak mengatakan padamu. Berpura-pura jika mereka adalah Gabriel dan Jasmine. Seorang keponakan yang tidak pernah bertemu, tak akan ingat rupa Gabriel dan Jasmine yang asli. Bahkan kamu saja melupakan aku ....”
Beni kembali terkejut. Bola matanya menatap lekat Alice. “Melupakanmu ...?”
Alice menganggukkan kepalanya. “Iya, melupakan aku.”
Kening Beni berkerut. Ia mencoba mengingat apakah dahulu Alice adalah salah satu kerabat atau si gadis kecil pemberi bunga mawar saat ia pergi dari Kota ini.
“Well ... Terapi hipnotis agar kemampuanmu melihat mahluk gaib, sangat efektif. Sampai membuat benar-benar melupakan semuanya. Bahkan aku ....”
“Memangnya kamu siapa Alice?” tanya Beni dengan raut muka penasaran.
“Bibi Jasmine dan Paman Gabriel yang tidak memiliki anak mengadopsiku. Saat aku mejadi anak mereka masih dalam hitungan dua bulan, kamu pindah dari Kota ini.”
Hening.
Bibir Beni terbuka. Ia sungguh ingin mencoba mengingat. Tapi tidak bisa teringat. Seluruh kenangannya tidak bersisa karena terhapus oleh sugesti hipnotis. “Maaf ... aku sungguh tidak mengingatmu Alice. Pantas saja kamu marah saat aku menganggap mu seorang pelayan.”
“Terus saja anggap aku begitu,” sahut Alice cepat. “Dua orang yang menyamar sebagai paman Gabriel dan Bibi Jasmine adalah sepasang suami istri bernama Jack dan Melia. Mereka mengancamku agar ikut berperan dalam sandiwara yang mereka buat untuk menipumu. Aku diancam. Jika aku tidak mau, mereka akan menyakiti Paman dan Gabriel yang asli. Aku tidak mau salah langkah dan menyesal.”
Beni mengusap mukanya. “Astaga, pantas saja aku merasa kelakukan Paman Gabriel sangat aneh. Ternyata yang aku temui adalah seorang pria penipu,” katanya sembari menarik nafas berat. “Di mana Paman Gabriel dan bibi Jasmine disekap?”
“Aku tidak tahu Ben. Jika aku tahu di mana mereka berada, aku pasti tidak akan mau menuruti kemauan mereka. Menipumu demi mencari tahu di mana warisan harta karun yang disimpan Kakek buyut kita!”
“Harta karun tersebut tidak ada, Alice. Harta karun yang disebut adalah harta warisan dari Kakek Thomas, atau pun Damian Salvatore itu tidak ada. Yang tersisa untuk kita hanya bangunan tua hotel dengan luas tanah dan bangunan yang sangat besar. Mereka sungguh mencari hal yang tidak masuk akal.”
“Ben,” panggil Alice lirih. “Harta karun tersebut ada,” lajutnya sangat yakin. “Ada tapi aku tidak tahu di mana.”
“Bagaimana kamu tahu, harta karun tersebut memang ada?”
“Karena Kakek Thomas pernah mengatakannya padaku sebelum wafat,” jawab Alice dengan raut muka serius.
“Jadi kamu tahu di mana tempatnya?” Iris mata Beni membulat.
Alice menggeleng. “Belum sempat Kakek Thomas mengatakannya padaku, beliau sudah wafat.”
Beni terdiam. Ia membutuhkan waktu untuk memikirkan semua ini. Lalu tiba-tiba ia beranjak berdiri. “Lebih baik kita ke kantor polisi! Kita memberitahu sherif jika ada sepasang penjahat yang menyamar sebagai pemilik hotel yang berniat merampok.”
Alice mengandahkan mukanya untuk melihat Beni yang sudah berdiri. “Ben, tidak semudah itu ....”
“Tidak semudah itu? Kita hanya tinggal melapor ke sherif. Dan dua orang penyamar Bibi dan Pamanku akan ditangkap.”
“Beberapa sherif ikut serta dalam penipuan dan penyamaran ini. Karena salah satu sherif di Kota ini adalah adik kandung Melia. Aku sudah sempat mencobanya. Melapor pada sherif jika Paman Gabriel dan Bibi Jasmine disekap. Tapi nihil! Justru Melia dan Jack semakin mengintimidasi ku dan mereka memberikanku ....” Tatapan mata Alice kosong menerawang. Ia teringat akan satu kotak kecil persegi empat yang diberikan oleh Jack padanya ketika itu.
Kejadiannya satu minggu sebelum kedatangan Beni ke Hotel. Jack dan Melia kesal karena Alice berulah, mereka pun memukuli Alice. Lalu tak lupa karena dia telah berani melapor pada polisi, Jack memberikannya hadiah.
Hadiah yang sangat menakutkan.
Sekotak kado berpita yang diberikan. Alice dipaksa membukanya.
Walau itu adalah sebuah kado dengan kotak warna cerah dan berpita indah, ia tahu isi dari kado tersebut tidak sama seperti pembungkusnya.
“Ayo buka!” seru Jack dengan suara tinggi. Suara jenis bariton yang berat dan besar membuat Alice semakin ketakutan.
Alice langsung menarik simpul pitanya dan segera membukanya hadiah yang diberikan.
Kotak kecil persegi panjang itu dibuka. “Aaaaa!” Alice langsung berteriak.
Sudut bibir Melia tersenyum puas dan sinis. “Itu akibat kamu mengkhianati kami. Sudah aku bilang, jangan coba-coba bercerita ke warga lain di seberang danau. Apa lagi melapor ke penegak hukum! Kamu kira saat aku mengatakan sherif dan deputi adalah kenalanku, aku berbohong!”
“Camkan ini, Alice ... Jangan sekali-sekali lagi kamu ingin menusuk kami dari belakang. Kamu adalah pion kami untuk mendekati Beni,” ujar Jack sembari merangkul pundak istrinya.
Alice langsung menangis. Ia meratapi ibu jari seorang pria di dalam kotak kado tersebut. Ini pasti ibu jari milik Paman Gabriel, batin Alice.
Kembali ke masa kini di mana Alice dan Beni sedang berada di restoran,
“Alice ....” Suara Beni yang sedikit lebih tinggi mengejutkan. “Mereka memberikanmu apa?” lanjutnya bertanya dengan suara lirih.
“Mereka memberikanku ... ibu jari Paman Gabriel karena telah mengadu pada Sherif.”
Beni terkesiap bercampur emosi. “Braaak!” Ia segera memukul keras meja yang ada di depannya.
Pramusaji dan beberapa pelanggaan lainnya yang sedang menikmati makan malam langsung menoleh ke arahnya.
Beni menjadi pusat perhatian untuk dua menit. Lalu setelah itu pramusaji dan pelanggaan lain yang berada di restoran kembali melanjutkan aktivitas mereka.
“Kurang ajar mereka. Ini tidak bisa dibiarkan.”
“Jika seorang penipu licik dan memiliki koneksi menghimpit kita. Harusnya kita kembali membalas dengan cara yang sama,” kata Alice pelan.
“Maksudnya?” Beni mengepalkan tangannya. Masih merasa kesal ternyata Paman dan Bibi kandungnya justru berada di tempat yang tak aman.
“Ben, tetaplah seperti yang direncanakan Jack dan Melia. Kamu tetap percaya mereka adalah paman dan bibimu. Dan kamu menganggapku pelayan. Bersamaan dengan itu kita berkerja sama untuk mencari di mana Melia dan Jack menyekap Paman Gabriel dan Bibi Jasmine. Kita harus segera menyelamatkan Bibi dan Paman sebelum, Jack dan Melia membunuh mereka dan merampok warisan harta karun peninggalan leluhur.”
Beni menghela nafas berat. “Well ... rencanamu tidak buruk.”
“Karena aku memang pintar. Mungkin kamu lupa padaku. Tapi segera setelahnya kamu pasti mengingat tentang kita.”
“Kita?” Kedua alis Beni bertaut. Kata ‘Kita’ yang diucapkan Alice seakan mengisyaratkan dahulu mereka pernah menjalin hubungan spesial.
Tapi untuk anak kecil berusia delapan dan enam tahun, hubungan spesial apa yang pernah terjadi?