“Kita?” Kedua alis Beni bertaut. Kata ‘Kita’ yang diucapkan Alice seakan mengisyaratkan dahulu mereka pernah menjalin hubungan spesial.
Tapi untuk anak kecil berusia delapan dan enam tahun, hubungan spesial apa yang pernah terjadi?
“Apa maksudmu dengan kita?” tanya Beni dengan wajah berkerut.
“Kita ...?” Alice justru seakan bertanya pada dirinya sendiri. Kemudian terdiam dan saling menatap. “Hm ... Lupakan!” lanjutnya sembari menggerakkan tangannya ke depan wajah. “Aku hanya salah bicara.”
“Salah bicara dan mengatakan tentang kita?”
“Memang apa yang salah tentang kita? Aku dan kamu adalah sepupu. Tidak ada yang penting. Apa karena aku adalah anak angkat? Jadi kamu tidak ingin aku menyebut ‘kita’?”
“Maaf, maaf ... bukan maksudku menyakitimu begitu. Tadinya aku kira kita dahulu sedekat apa, sehingga kamu menyebut ‘kita’.”
Alice tersenyum tipis. “Astaga, kamu sensitif sekali ya ... Aku hanya mengatakan kita, dan kamu sudah menganggap yang bukan-bukan ....”
Beni menyambut senyuman tipis tersebut dengan tawa lirih. “Lalu sekarang apa ‘kita’ akan mencari di mana Paman Gabriel dan Bibi Jasmine disekap?”
“Tentu saja. Semakin cepat semakin baik Ben,” jawab Alice dengan manik mata mengilat.
***
Di bangunan hotel yang megah tanpa tamu satu pun yang berkunjung, Melia mulai gelisah. Ia takut Alice telah memberitahukan Beni apa yang terjadi sebenarnya dan kemudian kabur.
Bola mata Melia yang berwarna coklat muda melirik ke arah lemari jam besar yang memiliki bandulan panjang. Waktu sudah menunjukkan hampir jam sembilan malam tapi Alice dan Beni tak kunjung kembali.
“Kenapa kamu gelisah?” Suara bariton milik Jack menggelegar. “Sudah aku bilang, tidak usah cemas. Mereka akan pulang. Alice tidak akan berani mengadukan kita pada Beni. Nyalinya ciut setelah melihat ibu jari Gabriel yang sengaja aku potong dan berikan padanya.”
Melia menarik nafas panjang dan bersedekap. Ia mengusap lengannya bagian atas. Seraya menenangkan diri atas apa yang terjadi. Jack terlalu percaya jika Alice bisa dijadikan boneka. Tapi sepertinya Alice bukanlah gadis bodoh, itu lah yang membuat Melia selalu cemas saat Alice tidak berada di dalam hotel.
“Jika mereka tidak kembali setelah sepuluh menit. Kamu harus mencari mereka. Jangan sampai rencana yang telah kita buat gagal.”
Jack menenggak sebotol minumannya hingga setengah. “Ya, aku akan mencarinya.”
***
“Menurutmu, di mana mereka menyekap paman dan bibi?” tanya Beni saat sepatu boots-nya terseok tumpukan tebal salju yang ada di bagian sisi halaman hotel.
“Justru hal tersebut yang ingin aku tanyakan padamu, Ben ....”
Beni menoleh.
Ia dan Alice saling bertatapan.
“Jangan menatapku demikian,” ujar Alice tidak suka. “Aku sangat percaya jika kamu bisa menolong aku, paman Gabriel dan Bibi Jasmine dari genggaman jahat Melia dan Jack.”
“Tapi kemungkinan kamu salah mempercayai. Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku tidak bisa memprediksi di mana Paman Gabriel dan Bibi Jasmine disembunyikan,” jawab Beni dengan raut muka sedih.
“Sudah aku bilang, bertanyalah pada hantu yang memanggil mu itu.” Alice memberi saran.
“Apa?!” seru Beni lirih dengan sepasang mata membulat. “Aku harus bertanya pada mahluk menyeramkan itu?”
“Iya, tidak ada pilihan lain. Aku yakin dia memanggil dan mengejarmu, pasti ada alasannya. Bukankah kata orang ... sebetulnya mahluk astral itu seakan gentayangan, padahal dia sedang berusaha meminta batuan?”
“Hm ... Ya bisa jadi. Tapi aku tidak berani bertanya pada mereka. Maaf saja ...,” jawab Beni sembari tersenyum kecut.
Dahi Alice berkerut. “Dasar pengecut ... Kita tidak punya pilihan lain selain bertanya pada mahluk astral yang bisa melihat apa pun yang tidak bisa kita lihat.”
Beni terkekeh pelan. “Maaf, aku tidak akan mau melakukannya. Bertanya pada hantu-hantu itu. Asal kamu tahu, sekalinya aku mendekat pada mereka ... Mereka tidak akan melepaskan aku. Seraya mereka ingin menarikku ke dalam alamnya.”
“Memang apa salahmu mereka ingin menarikmu semakin dalam?” tanya Alice dengan dahi berkerut.
“Nah, itulah yang tidak aku tahu kenapa ...,” jawab Beni sembari tersenyum kecut.
Diam-diam mereka berdua sudah berjalan sampai ke halaman belakang hotel. Menurut Alice ia di bagian bangunan tua yang terpisah dari hotel bisa saja dijadikan persembunyian untuk menyekap paman Gabriel dan bibi Jasmine.
Suara hembusan angin bertiup lirih, membuat bulu kuduk mereka meremang dan semakin merapatkan mantel.
Beni melirik ke arah Alice yang bibirnya lebih memucat ketimbang sebelumnya. “Alice, kamu tidak apa-apa?”
Alice menggeleng. “Tidak apa-apa walau udara semakin dingin.”
“Apa kamu masuk saja ke dalam? Biar aku saja yang memeriksa ini,” jawab Beni sembari mengatupkan bibir.
“Tidak. Kita harus masuk bersama-sama,” sahut Alice dengan suara parau.
“Tapi kita tidak tahu ada apa di bangunan yang sudah setengah hancur itu.”
“Yang pasti di dalam sana, ada ruang bawah tanah,” jawab Alice.
“Apa?” Beni sampai tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alice. “Jadi di bangunan yang setengah hancur itu terdapat ruang bawah tanah?”
Alice mengangguk. “Ya, seingatku paman Gabriel memberitahukan ku begitu. Ruang bawah tanah yang berhubungan satu sama lain antara bangunan yang satu dengan yang lain.”
“Jadi tersambung dengan bangunan hotel?”
Alice mengangguk. “Ya, semuanya tersambung. Tapi kita tidak bisa melihatnya jika melalui bangunan hotel kan? Melia dan Jack pasti akan menyergap kita. Aku tidak ingin mereka tahu, jika aku sudah memberitahukanmu Ben ....”
Beni menarik nafas panjang. “Ya, kamu benar ... Kita tidak boleh gegabah. Jika sampai sherif ikut membantu penyamaran dan melindungi mereka, Melia dan Jack bukanlah orang-orang biasa. Kita tidak bisa meremehkannya.”
“Kita harus segera menemukan Paman Gabriel dan Bibi Jasmine!”
Langkah kaki Beni akhirnya sampai juga ke gedung tua yang ada di bagian utara. Tidak mudah juga memeriksa seluruh halaman yang seluas tiga hektar ini. Apa yang dikatakan Alice memang ada benarnya, Paman dan Bibi Melia pasti disekap di salah satu persembunyian yang masih dalam jangkauan.
Netra Beni berpendar saat langkah kakinya mendorong pintu yang hanya terpasang satu bagian.
Pintu dan dinding bangunan yang sudah tidak layak tersebut dirambati oleh daun ivy yang menjalar.
Saat masuk ke dalam, manik mata Beni langsung melihat tangga yang meliuk ke atas. Selain daun ivy yang merambat, dinding-dindingnya pun banyak lumut hijau yang membuat penampakan bangunan tua ini sangat menyeramkan.
“Aneh ...,” ujar Beni lirih. “Bangunan Hotel masih sangat kokoh berdiri. Tapi kenapa bangunan yang ini sudah rusak? Apa, menurutmu cerita tentang bangunan hotel Kakek Thomas memang menggunakan tumbal saat pembangunannya? Mengubur anak-anak kecil hidup-hidup atau memendam kepala manusia di setiap ujung bangunan?”
Alice melirik Beni sembari mendengus kesal. “Sudahlah, jangan bicarakan tentang cerita itu. Waktunya tidak tepat. Menakutkan menceritakan tumbal-tumbal yang mati mengenaskan saat kita berada di bangunan terbengkalai di jam sepuluh malam.”
“Tenang saja, aku akan melindungimu,” jawab Beni sembari tertawa lirih. Ia mengulurkan tangannya agar Alice menggandeng tangannya.
Manik mata Alice melirik ke arah tangan Beni.
“Kamu tidak mau bergandengan tangan?” tanya Beni lirih.
Alice seraya malu-malu menyambut tangan Beni dan membalas genggaman. Namun setelah satu menit, ia pun menggenggam erat telapak tangan Beni yang amat terasa dingin.
“Paman Gabriel ... Bibi Jasmine!” panggil Beni sembari berjalan semakin ke dalam. Suasana bangunan gelap, penerangan hanya dibantu oleh sinar rembulan dari atas bangunan yang sudah tidak beratap.
“Harusnya aku membawa senter,” timpal Alice.
“Ya, harusnya kamu membawa senter. Aku tidak melihat apa pun ... Terlalu gelap,” kata Beni sembari memicingkan matanya agar bisa melihat lebih jelas.
Suara tawa terngiang di indera pendengarannya. Tiba-tiba ia teringat saat masih kecil, ia bermain dengan dua orang gadis kecil dan juga tiga anak laki-laki di sini. Tapi lagi-lagi wajah mereka tidak muncul dalam ingatan. Terbayang samar.
‘Beni! Jangan lari ke sana!’ Suara seseorang menegur saat ia masih kecil terdengar jelas. ‘Bangunan tua itu bisa hancur kapan saja!’
Sebuah sentuhan dingin mengusap bahu Beni, membuatnya terkesiap.
“Hei, ini aku ...,” ujar Alice lirih. “Ada apa? Kenapa tiba-tiba diam?”
“Aku pernah ke mari,” jawab Beni dengan manik mata menyalak. “Ya ... saat kecil aku sering ke mari.”
“Dan kamu ingat ada ruang bawah tanah di sini?”
Beni terdiam sejenak untuk mengingat semuanya.
Alice menatapnya lekat.
Beni mengangguk. “Di dekat dapur, ada lorong yang menuju ke ruangan gelap yang tidak boleh aku masuki. Kata ibuku ... Di sana berbahaya. Kapan saja bangunan ini bisa runtuh dan mungkin akan merobohkan ruang bawah tanah juga.”
“Kalau begitu ayo segera kita ke bagian dapur,” sahut Alice antusias. Ia melepaskan gandengan tangan dan langsung melangkah cepat nyaris berlari menuju ke bagian dapur.
“Hei, Alice ... jangan tergesa!” Beni segera menyusul. Apa yang dilakukan Alice sangat bahaya. Mereka tidak tahu apa saja yang ada di bagian bangunan tua terbengkalai ini.
“Aaaaa!”
Dan benar saja, Alice berteriak.
Beni terkesiap dan segera mempercepat langkahnya berlari untuk menyusul. “Alice, ada apa?!”