Jack tersentak dari duduknya dan langsung menoleh ke arah jendela. “Apa kamu mendengar suara Alice yang berteriak?”
Melia juga ikut melihat ke arah jendela lebar. “Ya, aku mendengarnya!”
“Suara Alice berteriak di bangunan terbengkalai bagian utara!” seru Jack.
Mereka berdua segera berdiri di sisi jendela dan melihat ke arah luar. Memperhatikan ke arah pemandangan hutan berjajar pohon besar dan tinggi, dihiasi serbuk salju putih di atasnya.
“Alice dan Beni ada di bangunan terbengkalai itu?” tanya Melia sembari menunjuk ke arah ujung. Dari tempatnya berdiri memang terlihat hanya puing-puing dari bangunan tua yang runtuh. “Sedang apa mereka di sana.”
“Itu dia, aku harus mengetahui sedang apa mereka di sana,” sahut Jack sembari segera bergegas mengambil mantel dan juga mengenakan topi. “Sayang, kamu periksalah Gabriel dan Jasmine, pastikan mereka tidak kabur.”
“Bukankah kamu bilang, mereka tidak akan bisa kabur dan Alice tetap akan tunduk dan takut pada kita?” tanya Melia sembari mengikuti langkah suaminya.
Gebriel merapikan dan mengancingkan mantelnya. Udara di luar pasti sangat dingin karena hari ini adalah hari pertama musim dingin dan hujan salju. “Maka dari itu, aku harus memastikan ada apa Alice berteriak?”
Melia menarik nafas panjang. Ia pun menjadi resah. “Tunggu!” serunya.
Langkah kaki Jack terhenti. Tangannya yang memegangi knop pintu pun kembali turun ke bawah, sejajar dengan pahanya. “Ada apa?”
“Tunggu sebentar!” sahut Melia segera berlari ke dalam.
“Cepatlah!”
“Iya, tunggu!” sahut Melia dan tidak lama kemudian ia pun kembali lagi sembari membawa sebuah pistol jenis revolver kaliber. “Bawalah ini ....”
Jack menatap pistol yang diulurkan Melia ke arahnya.
“Bawa ini, kita tidak tahu apa yang terjadi di sana. Dan mungkin saja ini jebakan Alice. Seperti yang kamu bilang, Alice adalah gadis yang cerdas. Kemungkinan dia memanipulasi teriakannya dan menjebakmu ke sana bisa saja terjadi.”
Jack terdiam sejenak. Menatap istrinya sedikit lama dan kemudian mengambil pistol tersebut. “Aku akan melihat apa yang terjadi.”
“Hati-hati,” jawab Melia lirih.
“Kamu periksalah keberadaan Gabriel dan Jasmine. Jangan sampai teriakan Alice ini hanya untuk memancing aku ke luar.”
Melia menganggukkan kepalanya. “Iya, aku akan memeriksa mereka.”
Jack segera berjalan menuju halaman belakang di bagian utara. Lalu Melia segera menutup pintu rumah dan menguncinya rapat.
Melia berdiri memunggungi pintu dan segera berjalan menuju ke arah ruangan belakang. Melewati beberapa ruangan besar dan kemudian menuju bagian belakang. Dinding batu di bagian ruang bekalang tanpa polesan halus semen membuat suasananya semakin terasa berada di abad ke 18.
Melia menggeser sofa panjang dan karpet yang ada di depannya. Lalu saat karpet berwarna merah hati itu di tarik, sebuah pintu papan yang menempel di dinding dengan tarikan pelana besi di atasnya.
Sekuat tenaga Melia menarik besi pelana tersebut.
Suara pintu terbuka terdengar nyaring. Menggema di dalam ruang bawah tanah tersembunyi.
Gabriel dan Jasmine yang asli saling berpandangan satu sama lain. Biasanya jika sudah dilihat sebanyak tiga kali saat memberikan makanan dan minuman, Jack dan Melia tidak akan kembali lagi hingga esok.
Melia menuruni anak-anak tangga dan berjalan mendekat ke arah Gabriel dan Jasmine yang terikat kaki dan tangannya. Pakaian mereka pun sudah sangat kumal. Aroma tidak sedap menyeruak dari badan mereka karena di sekap sudah lebih dari empat hari.
“Ada apa Melia? Tidak seperti biasanya, kamu datang sendirian? Apa kamu dan Jack kini tidak sepaham?” tanya Gabriel sembari tersenyum tipis.
Raut muka berantakan dan jenggot kasar yang menumbuhi jambang dan dagunya membuat Gabriel tampak berantakan tidak terurus.
“Jangan banyak bicara yang tidak-tidak Gabriel. Kini nyawamu dan Jasmine ada di tanganku. Aku bisa mematikan alat penghangat di ruangan ini. Hal tersebut bisa membuat kalian mati kedinginan.”
“Aku hanya ingin tahu, tidak biasanya kamu datang ke mari sendirian?” tanya Gabriel lagi.
Jasmine memandangi Melia. “Kamu sudah tahu kan jika memang tidak ada warisan berupa harta karun di sini? Tolong lepaskan kami dan jangan sakiti Alice dan juga Beni.”
“Aku belum yakin jika warisan harta karun Damian Salvatore tidak ada di hotel ini. Mustahil jika Tuan kaya raya yang sangat kaya dan kejam seperti Damian Salvatore tidak meninggalkan harta warisan untuk keturunannya ....” Melia melipat kedua tangannya di depan dadanya sembari menarik nafas panjang.
“Melia, sudah beratus-ratus tahun berlalu. Sekaya raya apa pun Damian Salvatore harta peninggalannya pasti sudah habis.” Jasmine mengingatkan.
“Tapi anehnya keturunan Damian Salvatore akan mati jika pindah dari Kota ini kecuali Beni,” jawabnya Melia sembari tersenyum tipis. "Bukankah itu tandanya, Beni adalah keturunan yang terpilih?"
Raut muka Jasmine langsung berubah datar.
Melia menatap Jasmine. Manik mata mereka saling bertatapan. “Beni adalah keturunan Damian Salvatore paling istimewa. Aku yakin di eranya, harta karun Damian Salvatore akan ditemukan.”
“Tidak. Warisan harta karun dari Damian Salvatore itu hanya omong kosong. Itu semua hanya dongeng sebelum tidur. Tidak nyata ... dan kamu tertipu dengan dongeng?”
Melia menarik nafas panjang. “Well ... asal kamu tahu, setelah ini aku dan Jack akan mendapatkan apa yang kami inginkan.”
“Dan mau apa kamu ke mari?” tanya Gabriel.
Melia tersenyum tipis. “Hanya mengecek tahanan saja.”
“Kalian pasti akan segera mendapatkan balasannya!” seru Gabriel sangat emosi.
“Oh ya balasan?” Melia tertawa mengejek. “Setelah aku dan Jack mendapatkan harta-harta itu, kalian dan dua keponakan kalian itu akan mati!”
Jasmine mengatupkan bibirnya. Ia mencoba bersabar namun tidak bisa. “Justru kamu yang akan mati karena telah macam-macam dengan keturunan keluarga Damian Salvatore!” serunya dengan suara kencang. “Apa kamu lupa jika bangunan ini sangat kokoh karena tumbal manusia yang dipendam di setiap sudut pondasinya?”
Senyuman sinis di raut muka Melia berangsur menghilang. “Damian Salvatore sosok jahat yang telah mengorbankan nyawa orang-orang yang tak bersalah untuk bangunan tempat tinggal anak cucunya. Lalu menurutmu, apa sosok kakek buyut yang peduli dengan keturunannya akan membiarkan cucunya diganggu? Apa lagi Beni ... adalah satu-satunya keturunan terakhir Salvatore!”
Melia langsung teringat tentang bola mata tajam yang memandanginya dari atas langit-langit bangunan hotel. Bulu kuduknya meremang. Apa sosok misterius tersebut adalah penampakan Damian Salvatore?
“Kenapa kamu diam Mel?” tanya Jasmine sembari terkekeh lirih. “Aku tahu kamu pasti takut!”
Melia sudah sadar dari lamunannya. Ia langsung menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak. Aku tidak takut pada hantu,” jawabnya dan segera membalikkan tubuh dan segera kembali naik ke lantai atas.
“Hati-hati kamu adalah target Damian Salvatore selanjutnya saat ini!” Jasmine sengaja membuat Melia semakin takut dan menekan mental kejiwaannya.
Melia tidak mendengarkan ucapan Jasmine walau bulu halus yang ada di sekujur tubuhnya segera berdiri tanpa diaba-aba. Ia segera melangkah keluar dan menutup kembali pintu base ment dan kemudian menutupinya dengan karpet juga sofa santai.
“Tidak. Harta karun itu memang ada! Jasmine berusaha mengacaukan aku ...,” gumannya menyakinkan diri sendiri.