Tidak akan tinggal diam

1271 Kata
“Ada apa Alice?!” Beni segera menghampiri dan sangat khawatir. Alice menoleh dengan air muka takut dan bibir kelu gemetaran. “Ada apa?” tanya Beni yang kini suaranya lebih rendah dari pada yang tadi. Alice menunjuk ke arah kitchen set yang sudah rusak. Bola mata Beni mengikuti ke mana arah telunjuk Alice mengarah. Ia pun terkesiap mendapati seekor ular jenis piton yang besar. Sungguh menakutkan. “Mundur secara perlahan Alice,” ujarnya sangat lirih. Alice menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang dan perlahan tapi pasti ia bergerak ke belakang. Saat Alice sudah sedikit dekat. Beni langsung meraih tangannya. “Kenapa ada ular piton di sini?” “Hal itu lah yang ingin aku tanyakan,” kata Alice sembari menghela nafas panjang. “Kenapa ada ular di sini?” “Aku justru lebih tidak tahu ketimbang kamu. Ingat Alice, aku baru tiba di sini. Jika kamu tidak mengerti kenapa ada ular besar seperti itu di musim dingin, apa lagi aku ....” “Ular itu sedang tidur. Mungkin hibernasi. Karena tidak ada tempat, makanya dia menyelinap dan melingkar di kitchen set rusak tersebut.” “Jadi kita tidak bisa meneruskan pencarian?” tanya Beni dengan suara nyaris berbisik. Alice menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Terdiam sesaat dan kemudian menoleh. “Bagaimana menurutmu Ben?” “Jika ular tersebut hibernasi. Tertidur nyenyak. Kita bisa melewatinya,” jawab Beni dengan raut muka ragu. “Wajahmu saja tidak menunjukkan keyakinan. Bagaimana bisa aku percaya?” Alice menggigit bibir bawahnya. Beni menatap bola mata Alice yang berwarna biru. “Aku tidak pernah bertemu ular sebesar itu sebelumnya. Apa lagi ini di Eropa, bukan di sss. Apa kamu pernah melihat ular sebesar itu sebelumnya?” Alice menggelengkan kepalanya. “Aku juga belum pernah melihat ular sebesar ini,” jawabnya sembari menatap ular besar yang melingkar di seluruh bagian kitchen set yang sudah hancur.” “Jika kita harus segera menemukan di mana Paman Gabriel dan Bibi Jasmine disekap. Aku rasa ular besar ini bukan masalah,” kata Beni sembari menunjuk ke arah sisi kiri. Di sana terdapat sedikit jalan yang tidak terlalu lebar namun bisa mereka lewati tanpa mengganggu ular yang sedang hibernasi tersebut. “Di sana kan ruang bawah tanah yang tersambung ke ruang bawah tanah di bangunan hotel yang biasa kita tempati?” Alice menganggukkan kepalanya. “Iya betul. Di bagian belakang bangunan ini ada pintu menuju ruang bawah tanah. Dan lorong tersebut menyambung ke ruang bawah tanah, dan entah sepanjang apa.” Beni dan Alice saling menatap satu sama lain. Tanpa bicara lagi mereka menuju ke tempat yang dimaksud oleh Alice. Namun saat Beni dan Alice akan melangkahkan kaki mereka menuju ke bagian bangunan lebih dalam. Suara Jack tiba-tiba terdengar, “Kalian sedang apa di sini?!” Beni dan Alice sama-sama terkejut. Mereka langsung menoleh dan menatap Jack. “Tadi aku mendengar suara Alice berteriak. Dan sedang apa kalian di sini?” Jack berjalan mendekat. Ia tidak melihat jika terdapat ular sedang berhibernasi melingkari kitchen set yang usang. “Jelaskan padaku! Sedang apa kalian di sini!” seru Jack dengan suara lebih tinggi. Ia kesal karena Beni maupun Alice tidak segera menjawab pertanyaannya. “Paman lirihkan suaramu!” pinta Beni. Kening Jack berkerut. Ia tidak suka didikte begitu. “Kenapa aku harus melirihkan suaraku?” “Ada ular besar yang ada di kitchen set,” jawab Alice sembari menengok ke arah ular tersebut. Ular itu tampak mati karena tidak bergerak. Namun tidak ada yang berani untuk memastikan keadaan ular tersebut. Bola mata Jack langsung menuju ke arah ke mana manik mata Alice melihat. “Astaga, ada ular sebesar itu?” “Iya, aku pun baru tahu jika di daerah kita ada ular yang amat besar.” “Apa dia mati?” Jack juga penasaran. “Entahlah, apa kamu mau memastikannya?” tanya Alice dengan nada dingin. “Mungkin kamu saja, Alice.” “Di sini hanya aku saja yang seorang perempuan, jadi aku akan diam saja jika ada dua orang pria,” jawab Alice masih dengan raut muka dingin. “Lebih baik kita tidak usah mengganggu ular tersebut. Biasanya makhluk hidup tidak akan menganggu jika tidak diganggu lebih dulu.” “Lalu sedang apa kalian di sini?” tanya Jack mengulang pertanyaan sebelumnya yang belum terjawab. “Aku ....” Beni langsung bingung menjawab apa. “Tadi kalian keluar hotel, menuju ke mari di malam salju?” Tatapan Jack seraya menekan psikis. “Tidak. Tadi kami makan malam di restoran yang berada di seberang danau.” Kening Jack semakin berkerut dan kedua alisnya bertaut. “Makan malam?” Alice mengangguk pelan. “Ya, makan malam ....” “Aku yang mengajak Alice untuk makan malam,” sahut Beni menyela. Ia pikir jika mengaku begitu, Alice tidak dapat masalah. “Aku mengajak Alice makan malam. Memang ada yang salah dengan itu?” Jack melihat ke arah Alice dan Beni bergantian. “Tidak ada yang salah. Hanya saja terasa aneh ....” “Aneh kenapa?” tanya Beni sembari merentangkan kedua tangannya. “Aneh kenapa paman? Aku dan Alice pergi berdua untuk menikmati malam dan mencari makanan. Tidak ada yang salah dengan itu.” “Dan apa hubungan kalian ke mari?” tanya Jack dengan tatapan penuh tanya. Alice diam. Tidak langsung menjawab. Karena ia pun bingung untuk beralasan apa. “Katakan padaku, apa yang kalian lakukan di sini?” Jack bertanya sekali lagi dengan suara lirih. Ia tidak ingin membuat gaduh dan membuat ular besar tersebut bangun. Mungkin besok pagi ia akan ke mari dan menyiram bensin ke tubuh ular dan membakarnya demi keamanan. Siapa yang tahu ular tersebut akan masuk ke dalam hotel atau memakan anak-anak kecil di sekitar area. “Paman Ja– ....” Hampir saja Beni menyebut nama ‘Jack’. Untung saja ia langsung menelan suaranya kembali. “Paman Gabriel, aku menyukai Alice, tadi aku hanya mengajaknya berjalan-jalan. Dan tidak sengaja melihat bangunan tua yang tidak terawat.” “Hanya itu?” Beni menganggukkan kepalanya. “Tidak salah kan jika aku menyukai Alice. Dia cantik dan terasa ada yang spesial dari sorot matanya,” jawabnya sembari melirik ke arah Alice yang hanya diam membisu. Jack kembali lagi memastikan. Mengamati Beni dan Alice bergantian. “Waktu sudah semakin malam. Lebih baik kita kembali pulang,” katanya sembari membalikkan badan. Beni menggerakkan kepalanya. Isyarat jika mereka juga harus mengikuti Jack kembali ke bangunan hotel. Sesampainya di dalam Hotel, Melia langsung menyambut. Seperti biasa, ia berpura-pura bersikap manis sebagai Bibi Jasmine. “Apa Alice baik-baik saja?” “Ya, ada ular besar di reruntuhan bangunan di belakang dan Alice terkejut,” jawab Jack sembari mengaitkan mantelnya di gantungan khusus mantel dan Jaket yang tak jauh dari pintu masuk. “Maaf Paman, Bibi aku membuat kalian cemas,” kata Alice dan kemudian segera berjalan menuju ke anak-anak tangga yang meliuk menuju lantai atas, ke kamarnya. “Tunggu Alice, kami ingin bicara,” ujar Jack. Langkah Alice dan Beni terhenti bersamaan. Beni melirik ke arah Alice. “Kami hanya ingin berbicara dengan seorang pelayan Ben. Jadi kamu istirahatlah,” jawab Melia sembari tersenyum simpul. Beni menjadi khawatir. “Jika kalian ingin menyalahkan Alice karena mau aku ajak keluar untuk kencan makan malam itu salah.” Jack tertawa lirih. Gigi-giginya yang putih terlihat jelas dan membuat wajahnya terlihat semakin menyeramkan. “Ya, kami mengerti soal itu. Tapi kami memang ingin bicara dengan Alice. Kami ingin menjelaskan padanya, ‘Apa yang bisa dilakukannya dan tidak dilakukannya di sini’.” Kalimat terakhir Jack seraya sebuah peringatan. Beni kembali memandangi Alice. Ia tidak mungkin meninggalkan Alice yang lemah bersama dua orang penipu licik seperti Jack dan Melia. “Ben, kamu bisa kembali beristirahat ke kamarmu. Selamat malam.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN