Beni kembali memandangi Alice. Ia tidak mungkin meninggalkan Alice yang lemah bersama dua orang penipu licik seperti Jack dan Melia.
“Ben, kamu bisa kembali beristirahat ke kamarmu. Selamat malam.”
"Aku akan tetap berada di sini paman. Jika paman ingin mengatakan sesuatu pada Alice, katakan saja di sini. Aku juga ingin mendengarnya," kata Beni sembari mengatupkan bibirnya.
Tatapan mata Jack beralih dari memandangi Alice kini ke arah Beni. "Aku hanya ingin memperingati Alice di mana posisinya," jawab Jack beralasan. "Karena tidak seharusnya dia mengajakmu ke tempat berbahaya seperti tadi."
"Sudah aku bilang, aku yang mengajak Alice ke sana," jawab Beni dengan suara lantang. "Apa Paman tidak pernah merasakan menjadi muda? Ingin menghabiskan waktu malam lebih lama dengan gadis yang paman suka?"
Alice melirik ke arah Beni. Hampir saja ia menjadi salah tingkah karena pernyataan Beni tersebut. Tapi perasaannya tersebut segera ditutupi dengan memberitahu pada diri sendiri, ini hanyalah upaya Beni untuk menolongnya, agar tidak didikte lagi oleh Jack atau pun Melia.
Jack dan Melia memandangi lekat mereka.
"Apa ada yang salah denganku?" tanya Beni sekali lagi. "Apa aku tidak boleh menyukai seseorang?"
"Well ... bukannya begitu keponakanku, Ben ...," sahut Melia sembari bersedekap. "Kami hanya mencemaskan kamu saja. Tidak lebih dari itu."
"Apa lagi ada ular piton misterius yang melingkar di kitchen set bangunan tua tersebut." Jack menimpali.
"Pamanmu hanya mencemaskan kalian," tambah Melia.
"Dan lalu apa yang akan paman lakukan dengan ular itu? Membiarkannya hibernasi di sana? Atau ...."
"Besok, aku akan membakar ular itu," sahut Jack cepat.
"Membakar ular tersebut?" seru Alice tidak percaya. "Bukannya ular itu hanya diam dan tak mengganggu."
"Ada ular sebesar itu di daerah sini bukankah hal yang tak masuk akal? Hanya ada dua pilihan, ular tersebut ular mistis atau memang ular?" kata Jack sembari mengendikkan bahu.
"Kita bisa tahu besok," sahut Beni. "Kita pastikan saja besok ke bangunan tersebut. Tapi memang aneh, perbandingan antara bangunan ini dengan bangunan yang ada di samping itu. Kenapa bangunan yang lebih lama justru masih kokoh?"
"Mungkin cerita dongeng sebelum tidur itu benar Ben, bangunan ini tetap berdiri kokoh karena menggunakan tumbal." Melia mengingatkan.
Bulu kuduk Beni langsung meremang. Bayangan wanita berwajah pucat dengan tatapan tajam yang tadi menggendong bayi terbayang di mukanya. Di tambah tiga anak kecil dengan luka sayatan di pangkal lehernya yang menyeramkan.
"A-aku akan ke kamarku. Selamat malam Bibi Jasmine. Paman Gabriel," ujar Beni sembari memandangi Alice. "Ayo, tidurlah ...," lanjutnya sembari menggerakkan kepalanya ke sisi kanan.
Alice tidak banyak bicara. Tapi ia segera mengikuti langkah Beni yang menaiki anak-anak tangga.
Melia dan Jack masih berdiri sembari mengamati punggung Beni dan Alice yang berjalan menaiki anak-anak tangga menuju lantai atas, hingga bayangan mereka tak terlihat.
"Tadi, Gabriel dan Jasmine masih di tempat yang sama?" tanya Jack pada Melia saat sudah yakin Beni dan Alice tidak dapat mendengar suaranya lagi.
Melia mengangguk. "Menurutmu mereka bisa ke mana?" tanyanya sembari memegangi keningnya. "Kita harus segera menyelesaikan masalah ini."
"Aku pun ingin demikian. Ingin segera menyelesaikan semua ini. Menemukan harta karun peninggalan Damian Salvatore dan segera angkat kaki dari hotel mengerikan ini! Bangunan dan lahan ini terkutuk. Aku sangsi ular yang tadi memang ular. Di daerah kita ini, mana ada ular yang sebesar ular piton di sss?"
"Bagaimana jika memang tidak ada harta karun? Bagaimana jika kita hanya meributkan hal yang tak ada. Benar kata Beni, semua ini hanya cerita dongeng sebelum tidur. Bahkan tak satu pun dari keluarganya melihat tumpukan emas, permata atau pun barang berharga lainnya! Dan menurutmu, jika ada harta-harta warisan tersebut disimpan di mana?"
Jack tidak langsung menjawab. Ia menatap manik mata istrinya sedikit lebih lama. "Firasatku mengatakan jika warisan harta karun Damian Salvatore itu memang ada. Coba pikir, hotel ini sudah lama tidak ada tamu. Tempat yang terpencil dari pusat Kota. Dari mana keluarga Salvatore ini bertahan hidup? Mereka pasti menggunakan harta karun legenda itu!" serunya lirih.
Sorot mata Jack bersinar amat yakin sehingga keyakinannya tersebut menular kepada istrinya. "Menurutmu begitu ...?"
"Percayalah padaku ... Kita hanya butuh waktu dan improvisasi rencana lagi."
***
"Ben, terima kasih untuk yang tadi," kata Alice saat Beni akan membuka pintu kamarnya.
Beni yang sudah membuka pintu kamarnya menoleh. "Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih karena tadi telah menyelamatkan aku dari amarah Jack dan Melia. Sepertinya satu-satunya cucu keturunan Damian Salvatore memang sangat berpengaruh."
Beni tersenyum tipis. "Aku tidak merasa begitu. Aku hanya cucu Kakek Thomas yang tak tau diri. Aku tidak pernah menjenguknya. Bahkan wajah Paman dan Bibiku saja aku lupa. Hingga bisa ditipu oleh pasangan suami istri yang ingin memanfaatkan ku. Dan juga ... aku melupakanmu ...."
Alice menatap Beni. Ia tersenyum getir. "Mengingat ku atau tidak itu tidak penting. Lagi pula, aku diadopsi oleh Paman Gabriel dan Bibi Melia sebulan sebelum kamu pindah dari sini. Tidak banyak yang kamu ingat tentangku."
Beni mengusap bahu Alice dengan lembut. "Maafkan ingatanku yang payah ini ya ...."
"Tidak masalah Ben. Saat ini yang terpenting, kamu mengingat setiap sudut bagian hotel ini dan juga setiap milimeter tanah Damian Salvatore. Aku yakin paman dan bibi kita disekap di sekitar sini."
Beni membalas tatapan Alice. Mata birunya membuatnya teringat akan sesuatu, namun ia lupa.
Bola mata biru itu kini membuatnya tenggelam ke dasarnya.
'Beni, kamu harus membayar semuanya ....'
Suara parau seorang wanita lagi-lagi membuat Beni terkesiap dan bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya meremang.
Beni menoleh ke sumber suara. Wanita yang sudah dua hari ini menghantuinya kembali muncul. Tapi kali ini hantu tersebut tidak membawa bayi digendongannya.
Raut muka Beni langsung pucat pasi melihat sesuatu yang harusnya tak dilihatnya. Gift dari Tuhan atas kelebihan bisa melihat makhluk astral memang justru menyulitkannya. Tak ayal jika Eva, ibunda Beni memutuskan menutup seluruh kemampuannya tersebut.
'Ben, kamu harus membayar semuanya ....'
Beni terdiam sesaat. Keadaan di sekitarnya berubah menjadi gelap dan ia merasa hanya berdua saja dengan hantu wanita tersebut.
"A-apa yang harus aku bayar?" tanya Beni dengan suara terbata-bata dan manik mata berkaca-kaca. Jantungnya berdegup kencang dan ketakutan setengah mati.
Hantu wanita tersebut memutar kepalanya hingga seratus delapan puluh derajat. Bagian punggung yang tadi hanya dilihatnya, kini berganti wajah. Sepasang mata bulat gelap mendelik tajam ke arahnya.
'Kamu harus membayar rasa sakit dan kematian ini!' serunya sembari mendekat secepat kilat.
Wajah seram itu tiba-tiba saja berada tepat di depan muka Beni.
"Aaaa!!" Beni berteriak ketakutan setengah mati. Sayatan di pangkal leher dengan darah mengalir deras membasahi pakaian wanita tersebut membuat jantung Beni terasa terlepas.