Dinda terbangun dengan kepala yang berat, seolah-olah seluruh dunia telah menimpa tubuhnya. Matanya terasa perih, dan pikirannya kabur, seakan terbungkus dalam kabut yang tebal. Bau kotor, dingin, dan lembab menyeruak begitu ia membuka mata, menyadarkannya bahwa ia tidak berada di tempat yang familiar. Ruangan itu gelap, hanya sedikit cahaya yang masuk melalui celah-celah sempit, cukup untuk membuatnya sadar bahwa ia terperangkap di suatu tempat yang tidak diketahui. Tubuhnya terasa pegal, tidak hanya karena kelelahan yang luar biasa, tetapi juga karena rasa sakit yang tak bisa ia jelaskan. Punggungnya terasa sakit, dan tubuhnya terbungkus dalam luka-luka yang tak tahu dari mana asalnya. Ia mencoba mengingat, mencoba memutar kembali waktu dalam pikirannya, namun semuanya terasa seperti se

