Bab 17 : Ciuman Pertama

1693 Kata

"Hukum bukan sekadar pasal di atas kertas, tapi cahaya yang harus menuntun langkah manusia. Dan di antara cahaya itu, ada persahabatan kita yang menjaga agar kebenaran tidak pernah sendirian." - Ghea Gemalia Saputri  Ada jeda panjang. Angin sore meniup helai rambut Ghea yang keluar dari kerudungnya. Perasaannya campur aduk. Antara marah, lega, takut, dan-entah kenapa-rindu. "Kamu selalu seenaknya. Kamu pikir aku nggak tahu betapa gila semua yang kamu lakukan itu? Dua kali dalam waktu dekat kamu hampir mati. Kalau... kalau sampai terjadi sesuatu..." Ghea berhenti, air matanya mendesak keluar. "Aku nggak tahu, Dik... aku nggak tahu apa yang akan kulakukan kalau kehilangan kamu." Mahardika diam. Baru kali ini Ghea sejujur itu. Ia ingin memeluknya, tapi ditahan. Ia tahu, pelukan sekarang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN