bc

KeterobsesianStefanDimitrijević

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
contract marriage
family
HE
age gap
forced
badboy
goodgirl
stepfather
mafia
gangster
heir/heiress
sweet
bxg
city
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Sofija Ristić kembali berhadapan dengan sekelompok preman yang ingin membalas dendam. Meski berhasil melawan, kelelahan membuatnya terdesak hingga terpaksa melarikan diri ke sebuah dermaga. Di sana, tanpa sengaja ia bertemu dua pria misterius yang ternyata memiliki kekuasaan besar di dunia bawah. Pertemuan tak terduga itu menjadi awal berubahnya takdir Sofija, tanpa ia sadari bahwa pria dingin yang baru dikenalnya kelak akan mengubah seluruh hidupnya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Pertemuan di Dermaga
Seorang gadis duduk santai di salah satu wahana permainan di taman kota, setelah selesai berolahraga selama satu jam penuh. Saat ia sedang menikmati camilannya, terlihat dari kejauhan belasan pria berjalan mendekat ke arah gadis bernama Sofija Ristić itu. Saat lampu taman menyorot wajah mereka, Sofija langsung mengenali siapa mereka. "Cih! Ternyata mereka lagi rupanya." "Wah, wah, wah... Ternyata kau bersembunyi di sini rupanya, tikus kecil," ujar salah satu dari mereka. Tatapan seluruh pria itu terlihat ganas, persis seperti anjing kelaparan yang mengincar mangsa. "Bersembunyi? Pffft, hahaha. Hei, dengar ya kalian para anjing jalanan!" Sofija melipat kedua tangannya di d**a, menatap mereka dengan penuh penghinaan. "Untuk apa aku bersembunyi dari orang bodoh seperti kalian? Kau pikir aku takut hanya karena kalian bergerombol begitu? Aku bahkan bisa mematahkan tulang kalian satu per satu dengan mudah. Bagaimana mungkin kau berpikir aku bersembunyi? Benar-benar konyol." Seorang pria bertubuh tambun yang tampak menjadi pemimpin mereka melangkah maju, wajahnya memerah padam menahan amarah. "Kau berani mengatai kami anjing jalanan, hah? Lihat saja nanti! Aku akan memotong lidah busukmu itu, wanita jalang!" Sofija melompat turun dari atas perosotan. Tak ada sedikit pun raut ketakutan di wajahnya. "Memotong lidahku? Wah, sepertinya aku harus mengajari kalian pelajaran lagi ya. Apa kalian sudah lupa beberapa hari lalu aku menghajar kalian hingga babak belur? Mau aku ulangi lagi? Mau?" Salah satu pria di samping si tambun maju dengan nafas memburu. "Gadis sialan! Kau hanya beruntung saat itu! Kali ini aku pastikan kau akan merangkak memohon ampun pada kami semua!" "Benarkah? Bagaimana caranya aku memohon pada sekumpulan orang bodoh seperti kalian? Seperti ini kah?" Sofija mundur beberapa langkah, memasang wajah seolah ketakutan sambil merapatkan kedua tangannya di depan d**a. "Tolong... jangan pukul aku, aku mohon, jangan..." Seketika ia tertawa lepas mengejek mereka. Wajah si pria tambun memerah padam menahan murka. "b******n kecil! Hajar dia!" Para preman itu langsung menyerbu. Salah satu dari mereka bergerak cepat hendak mencengkeram tangan Sofija, namun gadis itu lebih dulu menangkis, menarik pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya ke arah berlawanan dengan tenaga penuh. KRAKK! "ARRRGH! Tanganku!" Pria itu mengerang kesakitan, jatuh berlutut menahan rasa nyeri yang luar biasa. "Lemah sekali," ucap Sofija dingin, menatap pria itu dengan pandangan meremehkan. "Kau berani melukai temanku! Akan kubunuh kau, jalang!" Pria lainnya berusaha menyerang, namun mereka kalah cepat. Sofija lebih dulu menendang tempurung lutut salah satu pria hingga terdengar bunyi retakan tulang yang mengerikan. Tanpa jeda, ia merangkai serangan bertubi-tubi dan melayangkan pukulan ke arah dagu pria lainnya. Lima orang tumbang bersamaan. Nafasnya kini memburu hebat. Ia baru saja berolahraga tanpa henti selama satu jam, dan hanya sempat beristirahat lima menit sebelum kedatangan para preman itu. Sebagian tenaganya sudah terkuras, dan kini ia harus bertarung dalam kondisi fisik yang jauh dari prima. "Sial... Tubuhku sepertinya tak sanggup melawan mereka semua. Jika aku memaksakan diri, aku tak yakin bisa menang. Harus kupikirkan cara untuk kabur dari sini," batinnya. Saat ia sedang membagi konsentrasi, salah satu pria berhasil mendaratkan pukulan keras di pipinya. Darah seketika menetes dari sudut bibirnya, membuatnya terhuyung mundur. Belum sempat menyeimbangkan diri, pria lain menyerang dari belakang dan menendang punggungnya hingga ia tersungkur ke tanah. Tak lama, teman-teman yang lain ikut menyerang, menendang dan menginjak tubuhnya dengan kasar dan brutal, seakan ia hanyalah sampah yang tak berharga. Sofija segera melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Saat melihat salah satu kaki berniat menginjak tangannya, ia lebih dulu menarik pergelangan kaki itu hingga pria itu jatuh tersungkur di sampingnya. Melihat celah terbuka, ia segera menggelinding ke samping lalu bangkit berdiri dengan nafas terengah-engah. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menancapkan kaki kirinya kuat-kuat di tanah, lalu memutar tubuhnya dengan kecepatan tinggi. SWUSHH! BRAKK! Tendangan kakinya menghantam tiga kepala sekaligus, membuat mereka ambruk seketika. "Maju terus kalian, anjing bodoh!" serunya. Ia sengaja memancing amarah mereka, karena sudah memikirkan cara untuk meloloskan diri. "Wanita jalang sialan!" Mereka kembali menyerbu bersamaan. Di saat itulah Sofija melihat celah yang ia cari. Ia mengayunkan lututnya keras-keras ke arah rahang salah satu pria. KRAKK!! "ARRRGH!" Erangan kesakitan pria itu memecah keheningan taman, dan seketika membuyarkan fokus teman-temannya yang lain. Tanpa membuang waktu, Sofija berlari sekuat tenaga menjauh dari sana, mengarah ke utara. Pria bertubuh tambun yang sedari tadi hanya berdiri di pingguran meledak marah melihat mangsanya kabur. "Bodoh! Tangkap dia! Jangan sampai wanita itu lolos!" Sisa anak buahnya yang belum terluka segera mengejar langkah kaki Sofija yang terus menjauh. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan jarak mereka. Setelah berlari cukup lama, tampaklah sebuah gerbang dermaga yang terbuka di depannya. Sofija segera masuk ke dalam mencari tempat persembunyian, namun saat ia kembali menoleh ke belakang— BRUKK! Ia menabrak sesuatu yang keras di hadapannya, membuat tubuhnya limbung dan jatuh terduduk di tanah. "Aduh!" Ia mengusap keningnya yang sakit, lalu mendongak. Di hadapannya berdiri dua pria bertubuh tinggi besar. Untuk sesaat, Sofija terpaku tak berkedip. Pria yang baru saja ia tabrak memiliki wajah yang sangat tampan. Pakaian formal yang ia kenakan terlihat sangat mewah dan rapi. Wajahnya tampak sempurna dengan rahang yang tegas, tatapan setajam elang, alis yang tebal, serta bulu mata yang lentik. Namun yang paling memikat hatinya adalah rambut hitamnya yang diselingi beberapa helai rambut putih di bagian depan—menambah kesan karismatik yang tak terlukiskan. "Ya Tuhan... Ini benar-benar ciptaan-Mu yang paling sempurna. Aku bahkan baru pertama kali melihat pria setampan ini secara langsung," batinnya kagum, tak sadar sebuah senyum terukir di bibirnya. Pria di sampingnya membantunya berdiri dengan sopan. "Apakah Anda baik-baik saja, Nona?" Lamunan Sofija buyar seketika mendengar suara itu. "Ehm... aku baik-baik saja, Paman," jawab Sofija sambil berdiri, menatap pria yang menolongnya itu. "Wah, Paman ini juga sama tampannya..." "Paman, ma~" Sofija baru saja hendak meminta maaf pada pria yang ia tabrak, namun saat bertatapan dengan mata pria itu—tatapan yang tajam, dingin, dan mengerikan—nyalinya seketika menciut. Ia pun menunduk. "Kenapa tatapannya seolah ingin memakanku hidup-hidup? Mengerikan sekali..." Dengan sisa keberaniannya, Sofija mendongak kembali. "Maaf ya Paman, aku tidak sengaja, tadi aku ha—" Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara keributan terdengar. Para preman yang mengejarnya telah sampai. "Itu dia! Tangkap wanita jalang itu!" Pria bertubuh tambun itu berdiri terhuyung-huyung, nafasnya memburu setelah berlari jauh. Sofija secara refleks bersembunyi di balik tubuh pria yang ia tabrak, lalu menarik pelan ujung jas pria itu. "Paman, tolong aku... mereka ingin menangkapku," katanya dengan wajah pasrah dan ketakutan, memainkan peran gadis polos yang sedang terdesak. Pria yang berdiri di sampingnya—Vukašin—melangkah maju. Aura yang ia pancarkan sama mengerikannya, meski belum sebanding dengan keangkeran pria di hadapannya. "Lancang sekali kalian berani melangkah masuk ke wilayah kekuasaan Dimitrijević. Apa kalian sudah bosan hidup?" Barulah saat itu pria tambun itu menyadari siapa sosok yang berdiri di hadapannya. Di sana berdiri Stefan Dimitrijević—pemilik raksasa perusahaan pertahanan Dimitrijević Defense Systems, sekaligus Ketua kelompok mafia paling kejam dan ditakuti. Sedangkan pria yang baru saja berbicara adalah asisten kepercayaannya, Vukašin Tadić. Ia mengenali mereka karena pernah menyaksikan sendiri bagaimana mereka menghukum seseorang di tempat ini dua tahun lalu. Kejadian itu masih sangat membekas di ingatannya; ia bersembunyi gemetar ketakutan melihat pembunuhan yang terjadi tepat di depan matanya. "Tuan... mohon maafkan hamba! Hamba tidak tahu! Kami ke sini hanya ingin menangkap gadis itu, Tuan! Ampun!" Pria tambun itu langsung bersimpuh di tanah ketakutan. Melihat pemimpinnya bersikap demikian, anak buahnya tampak bingung dan tidak mengerti apa yang terjadi. Vukašin melangkah maju dengan tenang, tatapannya sedingin es. "Tak ada seorang pun yang boleh keluar hidup-hidup setelah melanggar masuk ke wilayah ini." "Dasar orang kaya sombong! Jangan mentang-mentang ini wilayah kalian, seenaknya saja mengusir kami! Dengar ya, kami penduduk asli sini, jadi kami juga punya hak ke sini!" salah satu anak buahnya maju dengan angkuh, menatap nyalang ke arah Vukašin. "Terlalu banyak bicara," ujar Vukašin datar. Ia melangkah maju perlahan, lalu menghantamkan kepalan tangannya tepat ke wajah pria itu hingga ia ambruk seketika. Gerakannya begitu tenang, namun mematikan. Sisa kelompok preman itu meledak dalam amarah dan menyerbu Vukašin bersamaan. Namun tak satu pun pukulan mereka berhasil menyentuh kulitnya. Vukašin membalas dengan serangan cepat dan presisi, hingga mereka semua terkapar di tanah tak berdaya, seperti tumpukan sampah. "Gila... itu luar biasa keren! Bagaimana mungkin Paman itu mengalahkan mereka semua dengan santai sekali?" Sofija menatap kagum pada sosok Vukašin. Erangan kesakitan dari mulut para preman memenuhi keheningan malam di dermaga itu. Vukašin menekan alat komunikasi di telinganya, memerintahkan pasukan pengawal yang berjaga di ujung dermaga untuk menjemput mereka. Tak lama kemudian, para pengawal datang dan menyeret mereka pergi. "Tidak Tuan! Ampun! Tolong jangan bawa aku, Tuan—!" Teriakan itu perlahan menghilang seiring tubuh mereka yang dibawa menjauh. Vukašin berbalik menghadap Stefan, yang sejak tadi berdiri dengan wajah suram tanpa ekspresi. "Tuan, seluruh barang sudah selesai dipindahkan ke dalam kapal." Stefan hanya mengangguk pelan, lalu berjalan pergi seolah tak terjadi apa-apa. Ia sama sekali tidak tertarik pada urusan ini. Namun setelah melangkah beberapa langkah, ia berhenti. "Kau ingin tetap berdiri di sana, Vukašin?" tanyanya tanpa menoleh. "Maaf, Tuan," jawab Vukašin sambil sedikit menunduk. Stefan terus berjalan meninggalkan mereka. "Nona, sebaiknya Anda segera pulang. Ini bukan tempat yang boleh dimasuki sembarang orang," ujar Vukašin beralih ke Sofija. "Maaf ya Paman, aku benar-benar tidak tahu." Vukašin mengangguk singkat. "Saya permisi." Sesampainya di rumah, Sofija langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rasa nyeri menjalar ke seluruh badannya. "Aduh... rasanya seolah seluruh tulangku remuk," keluhnya pelan, sambil menepuk-nepuk pelan tubuhnya untuk meredakan ngilu. Sambil berbaring, pikirannya melayang kembali pada nasib yang ia jalani. Kehidupan yang begitu kejam memaksanya tumbuh menjadi wanita yang kuat dan tangguh. Hidup sebatang kara tanpa keluarga membuatnya harus menelan banyak kepahitan. "Ayah... Ibu... apakah kalian masih hidup? Atau kalian sudah tenang di surga? Jika kalian masih ada, kenapa tak pernah mencariku selama ini? Apa kalian tidak menginginkanku lagi? Apa salahku?" ia menghela nafas panjang. "Kenapa dunia ini begitu kejam padaku? Apa aku tak berhak bahagia? Sampai sekarang aku belum pernah merasakan kebahagiaan yang utuh seperti orang lain..." Air mata jatuh membasahi pipinya yang masih terluka. Namun ia tak membiarkannya berlama-lama. Dengan kasar ia menyeka air matanya. "Tidak, Sofija! Kau tak boleh lemah! Kau harus kuat!" Ia menepuk dadanya dengan kuat, menahan rasa sesak yang menyergap d**a. Ia menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Baiklah Sofija, kau bukan gadis cengeng. Kau gadis yang tangguh. Ingatlah betapa sulitnya perjuanganmu sampai sejauh ini—jangan menyerah hanya karena hal sepele." Sofija bangkit, mengambil buku pelajaran yang tersimpan di sudut kamar, lalu mulai belajar dengan fokus, mengabaikan setiap rasa sakit yang menghujani tubuhnya. Setelah selesai, ia menutup buku, kembali ke kasur, dan tak lama kemudian terlelap. Hanya suara dengkuran halus yang terdengar dari mulutnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
770.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
995.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
369.0K
bc

Not just, the Beta

read
353.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook