Elena semakin sibuk. Pekerjaannya bertambah semenjak ia menjadi sekertaris sementaranya Adam.
"Pulang malam lagi?" tanya Rendy suami Elena kepada Elena yang baru saja tiba di rumah.
"Iya," jawab Elena singkat.
"Kenapa kamu nggak angkat telponku?"
"Aku sibuk,"
"Baiklah. Aku mau bilang, malam ini aku harus berangkat ke luar kota. Ada proyek yang harus kuurus. Tadinya mau berangkat sore tapi aku nunggu kamu pulang dulu," kata Rendy. Elena mengangkat wajahnya sebentar menatap suaminya, lalu mengangguk.
"Aku berangkat sekarang ya," pamit Rendy lalu berdiri dan menghampiri Elena. Elena mengangguk lalu kembali menunduk melepaskan sepatunya. Ketika ia mengangkat wajahnya, spontan Rendy mengecup keningnya dengan gerakan yang sangat cepat. Elena tak punya kesempatan untuk menolaknya bahkan untuk menghindar. Ia terdiam dengan wajah datar. Matanya menunjukan kemarahan yang tertahan. Perselingkuhan Rendy telah membuatnya mati rasa.
"Aku mencintaimu. Jaga dirimu baik-baik ya." pesan Rendy.
"Hati-hati," ucap Elena pelan.
"Makasih ya sayang," balas Rendy dengan wajah bahagia. Elena menanggapinya dengan dingin.
Tak seperti biasanya, kali ini ia tak mengantar suaminya ke pintu jika sang suami bepergian. Ia bahkan tak menatap kepergian suaminya. Setelah mandi, Elena mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Ia sangat lelah. Bayangan kesibukan di kantor kembali mengusik pikirannya termasuk bayangan Adam, direktur baru yang tampan namun dingin itu. Segala yang dibayangaknnya lenyap seketika saat ponselnya berdering.
"Sabrina? Ada apa ya?" gumam Elena ketika melihat ternyata Sabrina yang menelponnya.
"Hallo Sab,"
"El, kamu udah tidur?"
"Belom. Kenapa?"
"Mm, lagi ngapain kamu?"
"Aku baru selesai mandi. Tumben kamu nelpon. Biasanya kalo ada perlu kamu ngirim pesan."
Entah mengapa tiba-tiba perasaan Elena agak terganggu.
"Suami kamu ada nggak?"
"Nggak ada. Baru aja pergi. Katanya ada urusan proyek di luar kota. Kenapa emang? Tumben kamu nanyain dia."
"Berarti barusan aku nggak salah lihat dong," jawab Sabrina dari seberang panggilan dengan suara yang sedikit semakin pelan.
"Sab, to the point deh. Jangan bikin aku penasaran. Ada apa sih sebenarnya?" Elena tak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
"Maaf banget El, tapi barusan aku lihat suami kamu lagi makan sama cewek,"
"Ah, temannya kali Sab," sanggah Elena.
"Teman kok peluk-pelukan,cubit-cubitan pipi, gandengan, ciuman tangan, manggil sayang."
Mendengar perkataan Sabrina, Elena terdiam.
"El?"
Elena tersentak.
"Kamu yakin Sab?" tanya Elena.
"Seratus persen yakin El. Aku duduk tepat di belakang mereka jadi aku lihat dan dengar dengan jelas."
Jawaban Sabrina membuat jantung Elena berdebar kencang. Meskipun ia sudah memutuskan untuk tak mau ambil pusing lagi dengan apapun yang dilakukan suaminya tetap saja ia sangat tersakiti mendengarnya juga merasa malu.
"Makasih Sab untuk informasinya. Aku mau makan dulu. Lapar," ujar Elena lalu langsung mematikan telponnya. Ia terduduk lemas menggenggam ponselnya.
"Jika saja bercerai semudah membalikan telapak tangan, aku tak perlu berpikir dua kali." Elena berkata seorang diri. Ia mencoba menenangkan dirinya. Tak ada lagi airmata seperti dulu. Yang tersisa hanyalah amarah. Jika dulu setiap kali bertengkar dengan suaminya ia tak makan bahkan mengurung dirinya di kamar dan menangis, sekarang, air mata itu benar-benar tak ada lagi. Ia tak lagi menyiksa dirinya menahan lapar. Jika dulu selalu ia yang meminta maaf meskipun suaminya yang bersalah hanya karena ia tak ingin memperumit keadaan, kini ia bahkan enggan berbicara. Elena yang dulu, yang tegar menutup rapat semua masalahnya, demi menjaga nama baik dan harga diri suaminya, kini tak lagi berpura-pura. Tak ada lagi senyum palsu. Elena yang sekarang bukan Elena yang dulu lagi.
***
Tak seperti kemarin, Elena hari ini agak berbeda. Ia menjadi tak banyak bicara. Bukan tentang bersedih, atau terluka tetapi lebih kepada rasa lelah dalam hubungan yang rumit. Mungkin, bagi yang tak tahu alasannya akan berpikir dia bodoh karena memaksa bertahan, tetapi Elena tak egois. Ia tak hanya memikirkan dirinya sendiri tetapi juga keluarganya. Selain itu, ia ingin memberikan pelajaran berharga untuk pria yang menodai harga dirinya sebagai seorang wanita juga istri.
Elena datang ke kantor lebih cepat dari biasanya.
"Good morning." Sabrina menyapa dengan penuh semangat. Elena terlihat melamun. Ia bahkan tak menyadari kehadiran Sabrina.
"Helloooowwww, good morning!" Kali ini suara Sabrina terdengar lebih keras. Elena terkejut.
"Sab? Kamu ngapain sih teriak pagi-pagi. Aku nggak tuli," keluh Elena memasang wajah cemberut.
"Ya ampun El, kamu pagi-pagi udah ngelamun aja. Ini kedua kalinya aku nyapa kamu," balas Sabrina sembari menatap lekat wajah sahabatnya. Elena mengembuskan napasanya dengan kasar tanpa menjawab. Sesaat kemudian, ia berbalik lalu berjalan menuju ke ruangannya. Sabrina mengernyitkan keningnya lalu mengejar Elena. Ia membuka pintu ruangan Elena perlahan.
"El, maafin aku ya. Kamu begini gara-gara aku," ucap Sabrina dengan wajah penyesalan.
"Gapapa Sab. Ini bukan salahmu," jawab Elena.
"Aku nggak enak liat kamu sedih kaya gini. Aku benar-benar minta maaf. Tetap aja aku salah, El." Sabrina mendekati Elena.
"Sab, aku sama sekali nggak sedih. Aku hanya lelah. Aku akan baik-baik aja kok. Gak usah cemas," ujar Elena sambil tersenyum. Sabrina sangat tahu itu adalah senyum yang dipaksakan.
"Sana gih, udah waktunya kerja," lanjut Elena. Sabrina segera melirik jam tangannya.
"Makasih ya El. Semangat ya. Hari ini makan siang bareng ya. Ntar aku tunggu loh," kata Sabrina sembari buru-buru berjalan keluar dari ruangan Elena. Elena menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kasar. Ia menenangkan dirinya dan bersiap untuk memulai pekerjaannya. Telpon di atas mejanya berdering.
"Bawakan aku segelas kopi tanpa gula." Suara Adam terdengar jelas. Jantung Elena berdebar kencang. Ia segera bergerak. Beberapa saat kemudian, ia membawakan kopi ke ruangan Adam. Dengan langkah pasti namun hati-hati, Elena berjalan lalu berhenti tepat di depan pintu. Ia mengetuk pintu ruangan Adam.
"Masuk!" Suara khas Adam yang berat terdengar. Elena segera membuka pintu dan masuk.
"Selamat pagi, Pak," sapa Elena lalu meletakan cangkir berisi kopi di atas meja.
"Pagi," jawab Adam singkat.
"Ini kopinya, Pak," ujar Elena lalu berbalik.
"Tunggu!" cegah Adam. Elena menghentikan langkahnya. Adam meneguk kopi buatan Elena.
"Berapa sendok kopi?" tanya Adam.
"Satu setengah, Pak," jawab Elena lalu berbalik.
"Pantas kepahitan. Buatkan aku yang lain," pinta Adam. Elena mengangguk lalu mengambil cangkir itu dan membawanya keluar. Adam terlihat sedikit bingung dengan sikap Elena yang sedikit berbeda. Sesaat kemudian, Elena kembali membawa kopi. Adam mencobanya lagi.
"Masih belum pas rasanya," protes Adam. Elena menatap lekat wajah Adam lalu sedikit menunduk.
"Bapak mau yang rasanya pas sesuai selera bapak?" tanya Elena pelan. Wajahnya terlihat memerah. Adam mengangguk.
"Silakan bapak bikin sendiri kopinya. Aku capek! Aku benar-benar capek!" Elena berkata dengan nada yang ditekan dan sedikit ditahan dengan bibir gemetar dan mata yang berkaca-kaca. Adam sangat terkejut melihat reaksi Elena yang sedikit aneh. Elena tak mengalihkan tatapannya dari mata Adam. Tiba-tiba, airmatanya mengalir.
"Elena, kamu..."
Belum selesai Adam berbicara, Elena berbalik dan berlari keluar dari ruangannya. Adam segera berdiri dan mengejarnya.