Pertemuan tak Terduga
Elena mengendarai sepeda motornya dengan santai sekaligus menikmati udara pagi. Nada pesan pada ponselnya terus berbunyi. Chat grup kantornya tengah ramai bergosip tentang boss baru yang katanya tampan namun kejam. Elena mengabaikan itu. Ia hanya berharap bisa melewati hari dengan baik. Tiba-tiba, Elena memperlambat laju sepeda motornya. Di depan sana ada seseorang yang sedang melambaikan tangannya juga ada sebuah mobil disana. Seorang pria yang mengenakan baju kemeja putih pengan panjang, celana hitam panjang dan berkacamata hitam. Elena menepi lalu berhenti. Ia memarkirkan sepeda motornya lalu menghampiri pria itu. Kini terlihat jelas wajah pria itu sangat tampan ketika ia membuka kacamatanya.
"Sorry. Aku lagi dikejar waktu. Ban mobilku kempes. Apa aku boleh menumpanh denganmu?" Pria itu berkata sambil menatap dalam-dalam wajah Elena. Elena cukup terkejut. Ia melirik ban mobil pria itu. Benar-benar kempes. Belum sempat Elena menjawab. Pria itu sudah berjalan menuju ke sepeda motornya. Elena berlari menyusulnya.
"Hei, tunggu. Aku nggak bisa. Kamu cari ojek aja atau taksi. Aku juga lagi buru-buru," tolak Elena lalu menstater sepeda motornya. Pria itu bergerak cepat mengambil posisi duduk di belakang Elena.
"Aduh, apaan nih? Turun atau aku teriak?" ancam Elena. Pria asing itu tak mau turun.
"Jalan sekarang atau kupeluk!" Pria itu balik mengancam.
'Sial!' maki Elena di dalam hatinya. Ia tak punya pilihan lain mengingat waktu semakin berjalan. Elena melajukan sepeda motornya.
"Kasih tahu alamat kamu!" pinta Elena tegas.
"Tujuan kita sama," jawab pria itu. Elena bingung.
"Emang kamu tahu tujuanku kemana?" tanya Elena.
"Tau,"
"Tau darimana?"
"ID card yang kamu pakai!"
Elena menunduk sejenak melihat id card yang dipakainya.
"Kamu ngapain kesana? Karyawan baru?" tanya Elena yang mulai penasaran.
"Iya!" jawab pria itu singkat.
"Oh, gitu." gumam Elena mengangguk-angguk. Beberapa saat kemudian, keduanya tiba di kantor. Pria itu turun dan langsung pergi meninggalkan Elena, sementara Elena masih sibuk melepaskan helmnya.
"Kalau kamu belum tau..." Elena menjeda ucapannya saat menoleh dan melihat pria itu tak ada lagi.
"Dasar nggak tahu berterima kasih. Pria aneh," umpat Elena kesal. Ia merapikan rambutnya lalu memperbaiki riasannya. Ia berjalan santai masuk ke kantor setelah beristirahat beberapa menit di luar.
"Kok sepi? Pada kemana?" gumamnya sambil melihat sekelilingnya.
"Ya ampun El, kamu kok baru datang?" Sabrina, teman kantor Elena menyambutnya dengan wajah khawatir.
"Loh, emang kenapa? Aku juga nggak telat kan?" Elena balik bertanya tanpa perasaan bersalah.
"Ya ampun El. Kamu nggak baca pesan di grup? Kita disuruh kumpul semuanya di ruang rapat sama pak direktur yang baru,"
"Nggak usah panik gitu kali. Ayo kita kesana. Lagian orangnya juga belum datang." jawab Elena santai.
"Kamu yang harusnya panik. Noh, direktur barunya udah datang. Kita juga udah selesai meeting super duper singkat sama beliau. Kamu seorang diri yang terlambat," ujar Sabrina dengan kedua bola mata dilebarkan. Elena terkejut. Wajahnya berubah panik seketika.
"What? Kamu serius??" tanya Elena setengah tak percaya.
"Ya iyalah masa aku becanda? Kamu disuruh menghadap beliau. S e k a r a n g !! Tetapi, hati-hati. Orangnya galak!" Sabrina menegaskan ucapannya. Tanpa bicara apapun lagi, Elena mengambil langkah seribu meninggalkan Sabrina. Sabrina hanya menggeleng-geleng melihat tingkah sahabatnya itu.
***
Napas Elena ngos-ngosan. Ia berhenti tepat di depan ruangan direktur. Sepi sekelilingnya. Tak seperti biasa. Mungkin benar kabar yang didengarnya kalau direktur baru itu galak, itu sebabnya para karyawan menjadi takut. Elena mengatur napasnya, menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Tok! Tok! Tok!
Elene mengetuk pintu ruangan boss. Ia memutar pelan gagang pintu lalu membukanya. Jantungnya berdebar kencang. Ia bahkan tak berani mengangkat wajahnya.
"Selamat pagi, Pak,," sapanya dengan suara pelan, masih dengan wajah menunduk. Suara langkah kaki terdengar mendekat. Elena nyaris tak bisa bernapas.
"Maaf atas keterlambatanku." Elena memberanikan dirinya untuk meminta maaf.
"Kenapa kamu terlambat?" Suara berat pria terdengar tepat di depan wajahnya. Elena memejamkan matanya. Ia sangat gugup bercampur takut.
"Macet, Pak," jawabnya singkat.
"Yakin, macet?"
Elena kini semakin takut. Ia mengumpulkan kekuatannya untuk mengatakan kebenaran.
"Tidak, Pak. Aku punya alasan yang tak bisa kukatakan," jawab Elena. Ia mulai bisa menguasai dirinya.
"Apakah alasanmu itu karena aku?"
Elena sontak membuka matanya mendengar ucapan bossnya. Ia mengangkat wajahnya perlahan dan sangat terkejut melihat pria di hadapannya. Pria yang ditolongnya dengan terpaksa, yang mengancam akan memeluknya, yang tidak tahu berterima kasih setelah dirinya memberikan tumpangan.
"Kam...." Elena menutup mulutnya dengan telapak tangannya sebelum nyaris keceplosan memanggil bossnya dengan sebutan kamu.
"Adam Jonathan," ujar pria di hadapannya sambil mengulurkan tangannya. Elena mengembuskan napasnya perlahan, lalu menyambut uluran tangan direkturnya sambil memaksa untuk tersenyum.
"Aku Elena. Maafkan aku, Pak," ujar Elena. Adam tersenyum tipis lalu kembali duduk.
"Silakan duduk," ucap Adam. Elena mengangguk lalu duduk. Ia masih sangat grogi.
"Thank you udah nolongin aku tadi," ujar Adam memecah keheningan.
"Tidak masalah, Pak," jawab Elena pelan.
"Jadi kamu manager pemasaran, right?" tanya Adam memastikan. Ia menatap lekat wajah Elena.
"Iya, Pak," Elena menjawab dengan senyum lepas.
"Berikan aku laporan tiga bulan terakir ini," ujar Adam tanpa ekspresi. Elena segera berdiri.
"Baik, Pak. Segera," jawab Elena lalu buru-buru keluar dari ruangan Adam. Ekspresinya seperti baru melihat hantu.
"Gimana? Jantung aman?" Elena terkejut ketika Sabrina sudah berjalan di sampingnya. Ia menoleh memasang wajah stres.
"Ganteng?"
Elena mengangguk mendengar pertanyaan Sabrina.
"Banget," jawabnya sangat pelan.
"Galak?" Sabrina bertanya lagi sambil tersenyum.
"Hororrrr," jawab Elena sembari menggeleng dengan cepat.
"Kamu dimarahin?" Sabrina penasaran.
"Sab, udah dulu pertanyaannya. Aku harus setor laporan sekarang. Aku buru-buru. Nanti aja aku bakal cerita," ujar Elena kepada Sabrina yang terua mwngikutinya dengan berbagai pertanyaan.
"Iya, iya deh. Aku tunggu ya, bye," jawab Sabrina lalu berbalik kembali ke ruangannya.
Elena sama sekali tak menyangka bahwa pria yang merusak suasana paginya adalah direktur baru si perusahaan tempat ia bekerja. Ia buru-buru mengambil laporannya lalu kembali ke ruangan boss.
"Ini, Pak," ucapnya lalu meletakan map hitam di atas meja Adam. Adam yang sedang serius menatap layar komputer spontan mengalihkan pandangannya ke map hitam di atas meja. Ia segera mengambil dan mulai memeriksanya. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Menurut kamu, apakah ini bagus?" Tiba-tiba, Adam bertanya.
"Untuk sementara itu cukup bagus, sambil menunggu hasil akhir bulan ini karena masih pada pertengahan bulan, Pak," jawab Elena pasti.
"Baiklah. Kamu boleh kembali," ujar Adam. Elena mengangguk lalu mengambil kembali mapnya.
"Tunggu!" Elena menghentikan langkahnya lalu berbalik ketika mendengar suara Adam.
"Sekertaris lama resign. Sambil menunggu perekrutan sekertaris yang baru, aku minta kamu membantuku untuk sementara," ujar Adam yang kembali serius menatap layar komputer. Elena cukup terkejut namun ia tak punya keberanian untuk protes apalagi menolak.
"Baik, Pak," jawab Elena lalu keluar dari ruangan itu. Setelah Elena keluar, Adam mengangkat wajahnya, melihat ke pintu lalu tersenyum.