Suasana pagi sudah tak tenang kali ini. Aku juga sudah tidak tahan dengan sikap dan Diva yang keras kepala mengekang kehendaknya sedari kemarin. Terlebih lagi, ada seorang wanita yang bajkan mengaku dengan wajah sedihnya mengatakan dia tunangan Diva. "Kamu bahkan tidak membantah pernyataannya, dia tunanganmu." "Tapi kau wanitaku," tegas Diva. Satu hal yang tidak pernah aku tahu tentang pria di hadapanku. Kekeras kepalaannya tidak bisa di bantah sama sekali dan aku hanya bisa terdiam dalam kesal. "Dimana kamu menyimpan tasku?" "Untuk apa?" tanya Diva. "Aku akan minta Siska menjemputku." "Kamu pikir ini dimana? Dia tidak akan tahu keberadaanmu," ucap Diva. "Kenapa begitu?" "Karena kita berada jauh dari kota," jelas Diva. Seketika aku terdiam, tapi aku tahu Diva mengelabui

