Melihat wajah cemas Bi Nar, perasaanku tergugah menenangkannya. "Kamu tenangkan dulu dirimu, Bi! Tidak akan ada hal buruk terjadi. Sebaiknya kita berharap tidak ada apa-apa," ucapku sembari mengusap punggung wanita rapuh dengan tetesan tangis air mata mengangguk menanggapi ucapanku. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Bukan sekedar melaju melainkan mobil itu seakan-akan dikejar oleh sesuatu yang sangat mendesak. Terlebih lagi terlihat sopir taksi itu memang ikut merasa cemas saat dia melihat ke arah penumpang yang menangis juga merasa khawatir ingin segera sampai di rumah sakit. Tidak memakan waktu yang lama jika untuk sampai di rumah sakit terdekat di sekolah tidak jauh dari rumahku saat kami turun dari mobil. Bi Nar masih tetap saja berdiri di sampingku menunggu aku selesai mem

