Mathew meminta maaf kepada Devan. Jelas. pria itu tela merasa bersalah.
“Sakura yang memintanya kepadaku untuk menyembunyikan semuanya. Ayolah Dev…”
Devan terdiam, tidak menggubris, fokus menuangkan caramel ke atas bolu cokelat.
“Dev…”
Devan berpindah, menaruh kue di meja lalu menghela napas lega. “Akhirnya…” Dia baru menydari kalau Mathew sepertinya berkata sesuatu. “Apa tadi?” tanyanya.
Mathew menyilangkan tangan, memasang raut kesal seraya membawa tubuhnya duduk di sofa, memencet remot TV.
“Kau bilang Mat?”
Mathew terdiam, tak menggubris.
“Tunggu… kenapa kau yang merajuk.”
Mathew tak bisa menahan tawa, dia tertawa terbahak.
“Maaf Dev, aku menyembunyikan Sakura darimu.”
Devan mengangguk. “Bukan masalah,” katanya enteng. “Lagi pun aku sudah bertemu dengannya semalam. Sore nanti kami akan pergi ke taman dan menikmati salju. Kue cokelat buatanku pasti akan sangat cocok di momen seperti itu.
Kedua alis Mathew terangkat. Dia memandang kue di meja.
“Kau yakin?”
“Tentu saja. Momen itu sangat pas…”
“Buikan, maksudnya kuemu? Kau benar-benar yakin kuemu enak?”
Kedua bahu Devan terangkat. “Tentu saja, Devan yang membuatnya. Pasti akan sangat-sangat enak.”
“Cih, pede amat.”
Mathew berdiri, berjalan ke meja dan mengambil secuil kue itu. membuat Devan mengomel. “Aku sudah merapikannya!!”
“Hambar.”
“Hah?!” Devan jalan mendekat. “Yang benar saja kau…”
Dia melakukan apa yang Mathew lakukan.
“Ah… benar.”
Mathew tertawa kecil. Dia berjalan tanpa disuruh, mengambil semua bahan-bahan di lemari. Mengeluarkan cetakan dan semua peralatan dan bekerja.
“Tunggu, tunggu…. Apa yang kau lakukan.”
“Membantumu memperbaiki kesalahan.”
Devan menggeleng. “Tidak, aku yang harus membuatnya sendiri. Ini kue spesial.”
DEVAN POV :
Aku mengirim pesan singkat kepada Sakura.
Pakai baju apa nanti? Aku mau pakaian warna senada.
Setelah itu aku bergidik kesenangan, apakah aku sedang bermimpi?
Ini kembali. Kembali seperti bagaimana aku dan Sakura chat bersama. Ini menyenangkan.
Ting.
Pesan masuk.
Merah muda.
Aku tersenyum.
"Kau kenapa Dev?" tanya Mathew.
Aku berusaha bersikap normal kembali. Tetapi jiwaku rasanya ingin terbang.
Kedua bahu Mathew terangkat. Dia psti jijik melihatku.
"Kau pasti jatuh cinta," katanya. Tetapi aku tak menggubris, memilih masuk ke kamar. Membuka lemari dan mencari pakaian apapun berwarna merah muda. Dan nihil.
"Kau cari apa?"
"Pink Clothes."
"What?!"
"Do u have?"
Mathew menggeleng. Dan harusnya aku tak bertanya. Mathew punya selera pakaian yang buruk. Pakaiannya selalu berwarna gelap dan seperti yang kukatakan sebelumnya, dia suka pakaian motif kotak-kotak.
"Gawat."
"Kenapa harus merah muda sih?"
"Sakura memakai warna itu."
Mathew menepuk jidat. "Kau benar-benar gila. Kenapa tak suruh Vanes...maksudku Sakura untuk pakai pakaian warna lain saja."
Aku menggeleng hebat. Berani-bernainya Mathew merusak momen, kalau aku berkata seperti itu pada Sakura, kutaruh dimana wajahku sebagai pria.
“Kalau tak ada solusi lain, penjual pakaian di Utara Toronto adalah jawabannya.”
Aku tersenyum. Ide bagus.
Kami langsung berangkat saat itu juga. Ke Cherian Clotes yang menjual pakaian pria. Kasual sampai formal. Manekuin di kaca-kaca depan toko terlihat. Aku tersenyum merekah. Mataku berbinar.
Saat kami masuk, pelayan toko bertanya dengan ramah. Menggunakan bahasa Inggris tentunya. Mathew yang berbicara banyak, sementara aku tak ingin berbicara karena memakain masker. Walaupun sudah terbiasa dan tak takut lagi keluar di tempat umum, aku masih berjaga-jaga. Kalau-kalau saja ada orang yang mengenaliku di luar sana dan karena gegabah aku tak sadar, itu akan jadi masalah besar. Bukan hanya untukku, tetapi juga untuk mama dan papa, mereka pasti ke imbasnya.
Mama menelepon saat aku di ruang ganti. Dia bilang penggemar masih ada di bawah menunggu mereka untuk bertanya. Walaupun tak seramai dulu, saat berita hiatusku memanas-manasnya. Bahkan di hari itu kata mama semua media TV nasional memberitakanku. Rasanya anak-anak remaja di luaran sana sedang berduka, bahkan ada yang sampai mogok belajar.
“Bagaimana Sakura?” tanya mama antusias. “Kalau ketemu nanti, katakan mama merindukannya. Nanti bujuk ia untuk video call sama mama, ya.”
Aku tersenyum. “Iya ma…” kataku tegas. “Mama sendiri bagaimana? Dede dalam perut baik-baik saja, kan?”
“Ya. lagian belum tiga bulan Dev. Mama masih bersikap normal, hahaha….”
“Syukurlah. Papa sendiri?”
“Papa?” Hening. “Dia molor. Pulang telat semalam, dia ada projek film laga.”
“Hah?! Mama mengizinkannya.”
“Ya… tentu saja. Mau dia jungkir balik, terjun bebas, terbang sampai kayang di jalanan… mama tak peduli, yang penting tak ada scene romance-nya.”
Aku tertawa lepas. Sampai Mathew mengetuk pintu dari luar.
“Kau sedang apa Dev..” teriaknya.
“Ah sudah dulu ya Ma. Aku di toko pakaian.”
“Baiklah. Ingat, hati-hati. Dan salamku pada Sakura.”
Aku meng-iyakan dan pembicaraan kami berakhir. Mathew menggedor-gedor pintu dengan kesalnya.
“Cepatlah keluar! Kau mau terlambat, satu setengah jam lagi sebelum kita kembali ke apartemen.”
Aku melihat jam. “Gawat.” Aku mencoba semua pakaian dan memilih. Jas merah muda dengan turtleneck putih jadi pilihanku. Intinya merah muda, kan? Dengan bergegas aku keluar.
“Kenapa lama sekali, tolonglah Dev…”
“Berisik,” kataku. Menareuh semua pakaian di meja kasir. Sementara mba-mba kasir mulai menyortir harga dan memasukkan pakaianku ke dalam tas. Kulihat total, kukeluarkan uang dari dompet seraya tersenyum mengambil barang.
Aku dam Mathew kembali ke apartemen dengan taksi. Sepnjang perjalanan Mathew berceloteh kenapa bisa aku dekat dengan Sakura.
“Dia cukup dingin, kau cukup tertutup, bagaimana bisa kalian pacarana?”
“Pacaran? Kami tidak pacaran kok.”
“Ah… maksudku teman. Teman tapi mesra.”
Aku memutar bola mata.
Kami tiba di apartemen, aku berganti pakaian. Dan saat keluar kamar Mathew langsung bertepuk tangan.
“Luar biasa… ini akan jadi kencan yang luar biasa antara kau dan Sakura.”
“Kencan?” aku salah tingkah. “Bukan kencan kok. Ini Cuma pertemuan biasa.”
--
Aku menunggu cukup lama dalam ketenangan. Syukurnya Mathew memilih tak ikut. Dia ingin menyelesaikan projek seninya. Katanya sudah empat hari tugasnya terbengkalai. Sementara aku sedakarang memandang arloji. Kemana dia?
Baru saja akan mencari, tiba-tiba sosok dengan dress berwarna merah muda datang dari arah pintu masuk. Dengan pita merah muda dengan rambut yang diikat ekor kuda.
“Mana Mathew?”
Aku tersadar dari lamunan. Sakura sudah berdiri dihadapanku, ia terduduk dengan anggunnya.”
“Dia sedang ada tugas projek,” kataku.
“Tugas? Ah dia cerdas sekali,”
Aku tertawa tertahan.
“Kau yang telah bertahun-tahun mengenalnya … tak boleh menilai orang sembarangan Dev.”
Aku setuju, aku sejujurnya juga tak mau menilai orang lain hanya luarannya saja. Hanya kenapa Sakura menganggapnya serius?
Mengabaikan tentang itu. mala mini aku ingin menikmati makanan, dan momen yang indah ini. Akhirnya, momen yang kunanti tiba. Aku bisa berduaan bersama Sakura seperti bagaimana kami berdua melakukannya dulu.
“Aku tidak tahu harus berkata apa Dev, tetapi aku benar-benar rindu momen ini.”
“Sama…” kataku. “Aku sudah menunggu lama agar kita bisa bertemu lagi, dan masih banyak hal yang bisa kita lakukan setelah ini.”
“Tidak!”
Aku mengernyit, kebingungan. “Tidak?”
“Ya, aku tidak bisa melangkah denganmu lebih jauh lagi Dev. Kau tahu, kalau sampai penggemarmu tahu tentang ini, karirmu akan hancur. Kau harusnya tak mengajakku berkeliaran di luar lebih dari ini. Jadi itu yang mau kukatakan malam ini… hanya untuk malam ini saja akum au kau melakukannya Dev. Ini harus jadi yang terakhir kali.”
Omong kosong!
“Kau sedang bercandakan Sakura?”
Sakura menggeleng. Dia agaknya serius.
“Tidak. Aku tidak mau,” kataku ngotot. “Biasakah kita tak membahs mereka, Sakura? Aku ingin mengulang momen indah itu.”
“Cukup Dev. Aku dan kau, sekarang kita tela hidup di dunia yang berbeda. Aku dan kau… kita berdua tak sama lagi. aku sudah memikirkan ini selama seharian. Tak ada alasan aku bisa menghabiskan semua waktuku bersamamu. Aku harus kerja Dev, untuk membiayai pendidikanku.”
“Kalau cuma itu, aku akan membayarnya, tenang saja...”
“Tenang saja katamu? Seolah masa depanku tak penting, begitu?”
Astaganaga, kenapa Sakura makin membesar-besarkannya. Padahal pikiranku tak sampai kesana.
“Mendapatkan uang mudah bagimu Dev. Kau hanya perlu berdiri di depan kamera, tersenyum kecil. Dan semuanya aka nada padamu. Sementara aku? Aku bahkan harus ke tempat menjijikkan seperti itu untuk mendapatkan uang.”
“Uang haram?!”
PLAK….
Sakura menggebrak meja Hendak meninggalkan tempat.
Padahal aku benar, kan? Dia pergi ke kafe itu dan jadi pelayan. Padahal uangnya suda dari sumber yang tak jelas.
“Apa aku salah? Maka lebih baik aku membiayaimu saja Sakura. Ini bukan masalah uang.”
Sakura menggeleng, wajahnya terlihat memerah. “Mungkin ini mudah bagimu, tetapi kau tahu Dev… aku disana menjual jasaku. Aku sama sekali tak pernah melayani mereka dan diberi upah. Lalu apa bedanya denganmu? Kau membiayai kuliahku agar aku bisa bersamamu, menemanimu, melakukan semuanya bersamamu. Aku sama saja dengan melayanimu dan itu haram juga?”
Sakura meninggalkan tempat.
Kenapa malah jadi seperti ini?