DEVAN POV :
Hari kesepuluh di Kanada.
Pagi ini aku dan Mathew akan menuju ke Timur Toronto. Tetapi herannya Mathew tidak juga datang ke apartemenku. Apa dia ada kuliah?
Teleponnya juga tidak aktif. Apa yang terjadi padanya?
Karena bingung, aku memutuskan pergi ke apartemennya. Mengetuk pintu, tetapi herannya pintunya tak terkunci.
“Ada apa ini?” tanyaku pada diri sendiri. Karena pensaran aku masuk, di dalam berantakan oleh buku-buku, kertas minyak, kertas Lukis, lukisan di lantai, cat-cat, serta canting. Itu sudah cukup membuat semua orang tahu kalau Mathew adalah anak jurusan seni.
Tetapi kemana dia?
Aku berjalan masuk ke dapur, ada banyak botol bir berjejer rapi. Jenis-jenisnya pun berbeda pula. Kupandangi ke meja seberang, semuanya masih sama.
Tetapi kemana Mathew?
Aku berjalan, sambil memanggil-manggil namanya berharap ada jawaban. Dia pasti ada di sekitar sini, atau paling tidak tidak mungkin ia membiarkan pintunya terbuka kalau dia tak ada.
Aku masuk ke ruangan. Kamarnya Mathew, dan ternyata Mathew terkapar di lantai, dengan pakaian acak-acakan dan wajah memerah. Sepertinya pria ini mabuk lagi.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku bodoh. Dia jelas tidak baik-baiok saja. Tetapi aku harus seperti apa menyapanya? Seperti Hai beban, kau mabuk sepanjang hari? Kau pasti sakit. bangunlah b**o. Tidak mungkin, tidak mungkin seperti itu.
Aku memapah tubuhnya naik ke kasur dan menyelimutinya.
“Terima kasih Van…” Mathew mengingau.
Pasti pelayan bar bernama Vanessa itulah yang mengantarnya semalam. Dia pasti perempuan yang baik, selain aku mungkin saja perempuan itu adalah sahabat dekat Mathew di Toronto. Karena di kampus, kuara Mathew tak punya teman. Kalian tak mungkin lupa bagaimana saat dia bilang pergi dan pulang ke kampus. Tidak ada organisasi dan tidak masuk perkumpulan. Padah itu priveleg yang luar biasa bagi seorang mahasiswa.
Aku terduduk. Memandangi kamar Mathew. Walaupun di luar berantakan, di sini terlihat rapi. Ada banyak macam foto. Foto Mathew dan orang tuanya. Dari fotonya saja aku bisa menduga kalau Mathew bukan anak sembarangan. Foto keluarganya saja berlatarkan kastil yang indah menawan. Kemudian foto kedua ada foto dia waktu SMA. Dia terbilang polos dulu, rambutnya pendek serta memakai kacamata. Dia pasti idaman di sekolah.
Kemudian foto berikutnya….
Hening.
Mataku terbelalak.
SAKURA!?
Kenapa ada Sakura di sini?
AUTHOR POV :
Mathew terbangun sejam kemudian. Wajahnya terlihat kusut, dan ia sepertinya kebingungan. Oleng dan terjatuh saat hendak ke dapur. Tetapi matanya membulat tatkala melihat sosok yang menyajikan ramen di meja.
“Makanlah, ini akan menghangatkan badanmu.”
“Kau Dev?” tanya Mathew.
Devan tersenyum, tetapi tertahan. Dia berusaha bersikap tenang setelah tahu Mathew menyembunyikan segala kebenarnyannya bahwa Mathew ternyata tahu Sakura. Dia hany berbohong, dan menutupi segalanya. Devan tak ingin gegabah. Kalau dia marah sekarang, jejak Sakura bisa hilang begitu saja. Jadi dia memilih tetap tenang dan berusaha fokus. mereka berdua menyantap ramen sambil menonton acara klasik.
“Kau pulang larut?” tanya Devan bersuaha bersikap normal senormal mungkin, walaupun hatinya mulai membara karena ia merasa dikhianati.
“Ya. Vanessa yang mengantarkanku pulang.”
“Oh… omong-omong kenapa kau tak mengajakku.”
Mathew menoleh kebingungan dengan alis yang hampir menyatu. “Kau bilang tak suka mabuk Dev. Kalau kuajak kau, nanti malah memberatkan. Kau tak suka mabuk, aku tahu.”
Devan mengangguk. “Ya sih. Cuma kalau pualng begini, kau bisa saja mati membusuk dalam apartemenmu jika terus berlanjut. Bisa terjadi suatu hari nanti, kau harus lebih berhati-hati. Bagaimana jika si tukang taksi ternyata orang jahat, dan kau bisa saja dibunuh lalu organ-organmu dijual.”
Mathew tertawa lepas.
Apa yang lucu?
“Kau terlalu banyak nonton movie thriller Dev. Kau lupa kita di Toronto. Kota teraman di dunia.”
Devan setengah mengangguk. Benci sekali ia melihat gelagat Mathew kalau soal memuji-muji kota ini.
“Tetapi bar tidak buruk,” kata Devan.
Mathew menenggak ludah. Dia memikirkan cara bagaimana agar Devan tak ke bar itu lagi. Ia bisa saja menumakn Sakura dan semuanya akan jadi kacau.
“Tetapi tenang saja, kurasa aku tak akan kesana. Lebih baik menonton film movi musim dingin. Nanti malam aku ada niat nonton Home Alone. Nostalgia. Kau mau ikut?”
Mathew menggeleng. “Aku ingin ke bar.”
“Ah… baiklah.”
Malam itu Mathew mungkin pergi tanpa rasa curiga. Dia kembali ke tempat itu, dengan orang-orang yang berpesta di dalamnya menghabiskan uang.
Devan membuntutinya. Ia memakain masker hitam, berjalan dengan kebingungan. Masuk ke dalam dan mencari-cari Mathew. Baru seminggu lebih dia di Kanada, dia sudah tahu bagaimana bentukan Mathew, stylenya tak terlalu mencolok dengan tshirt serta kemeja kotak-kotak.
Aku menemukannya, bersama seorang pelayan bar yang tertawa-tawa.
Mataku terbelalak. "Sakura?!"
Mathew telah membohongiku, tentang semuanya. Baru saja kukatakan kepada Andi kalau Mathew adalah pria yang baik. Tetapi lihatlah, Sakura yang kucari-cari ternyata Mathew tahu.
Aku menghampiri mereka, jiwaku yang membawaku. Antara rasa rindu dan kecewa, kenapa Sakura ada disini, kenapa saat aku menemukannya dia ada di tempat yang tak seharusnya.
Kuraih tangan perempuan itu sedikit beringas, kubawa ia keluar. Sementara ia berusaha melepaskan genggaman.
"Aku bukan Sakura!!"
"Kau Vanessa. Kataku, membawa perempuan itu ke tempat tersepi di Bar. Ke basemen bawah tanah.
Aku mendekapnya hangat, sementara dia yang berusaha melawan akhirnya menangis dalam dekapanku.
"Syukurlah." Aku bernapas lega, padahal seharusnya aku marah. Tetapi itu tidak penting sekarang, selama bertahun-tahun menunggu dan akhirnya.
AUTHOR POV :
Dekapan Devan akhirnya lepas, membuat Sakura menyeka air matanya.
"Dev, maafkan aku. Aku... Aku bukan Sakura yang kau kenal lagi."
Devan mengangguk "Ya, sepertinya begitu. Tetapi itu tidak penting sekarang. Aku ingin membahasnya lain kali. Sekarang aku ingin bertanya padamu Sakura, kenapa kau mengubah identitasmu?" Devan melihat label kecil di baju sakura. "Vanessa."
"Kau yang memberikan nama itu." Sakura tersenyum. "Vanessa atalanta, aku tak akan pernah lupa."
Devan tertawa kecil. "Padahal itu julukanku. Kau tetap Sakuraku.."
Sakura tertawa kecil, sebelum akhirnya surut. "Devan, kau harus tahu kalau semuanya harus berakhir. Aku dan kau... Hidup kita telah berbeda sekarang. Kau... Devan yang dikenal banyak orang. Sementara aku, Vanessa si pelayan bar."
Devan menggeleng. "Kau tak bisa jadikan itu alasan Kura. Kau tahu aku telah mencarimu terlalu jauh, dan kalau kulepas sekarang, rasanya tidak adil. Soal pelayan bar, aku akan marah, jelas memarahimu. Kenapa kau melakukannya? Tetapi setelah itu, semuanya akan baik kembali. Aku selalu percaya padamu Sakura. Percaya kalau kau melakukannya bukan karena kau mau. Sesuatu telah terjadi, kan?"
Sakura mengangguk, berusaha menahan tangisnya yang akhirnya tumpah. Dan ia memeluk erat Devan kembali.
"Maafkan aku Dev, tetapi aku... Benar-benar tak berdaya..."
Devan berusaha meneangkan Sakura. “Semuanya akan baik-baik saja, mari melangkah bersama pelan-pelan dan memulai kembali.”