Pagi yang cerah. Aku bertanya kepada Mathew tentang ide bagaimana mencari Sakura. Kurasa aku akan menanyakan hal yang sama sampai hari-hari berikutnya. Bukan tanpa alasan, Mathew telah lama tinggal di Toronto. Dia pasti tahu bagaimana caranya menemukan Sakura lebih cepat. Seperti aku bertanya pada si empuh rumah bagaimana menemukan panci yang hilang di rumahnya.
“Jadi bagaimana?” tanyaku.
Mathew mengucek mata, setengah menguap. “Kita akan mecarinya di penginapan di sudut kota. Kenapa kau tak tunjukkan saja fotonya pada mereka.”
Aku menepuk jidat.
Astaganaga… bodoh sekali aku. Kenapa aku tak pernah menunjukkan fotonya pada orang-orang termasuk di sekolah hari itu. aku jadi tak perlu jauh-jauh ke Ottawa hanya untuk memastikan Sakuranya. Aku benar-benar bodoh.
“Ada apa, kau tak setuju?”
Aku menoleh. “Ti-tidak. Aku setuju kok.”
“Kalau begitu mari kita mulai dengan hari ini.”
“Hari ini?” tanyaku dengan mata membulat.”
“Ya, mau kapan? Tahun depan? hari ini aku juga tak ada kuliah.”
Aku menggaruk kepala. Apa yang dikatakan Mathew tadi, aku tak ada kuliah? Seingatku Mathew hanya pergi ke kampus empat kali sebulan dan itupun hanya untuk ujian dan mengumpulkan tugas.
Jadilah hari ini adalah hari pertama aku mencari Sakura, dengan Mathew maksudku.
--
AUTHOR POV :
Mathew adalah orang yang gesit. Dia pandai berbicara, membuat kami lebih mudah untuk bertanya dan menelusuri rumah demi rumah. Orang-orang di jalan dan banyak lagi. Sayangnya tak ada di antara mereka yang mengenal Sakura.
“Kenapa kita tak mulai dari pusat kota saja? Kenapa harus dari tepi kota?” tanya Devan.
Mathew tersenyum. “Kita mulai dari pelosok yang tak kita jangkau dulu, di pusat kota mah gampang nyarinya. Pasti cepat ketemu. Ini agar kau tak putus ada Dev.”
Devan mengangguk, pria itu percaya panuh pada Mathew sementara Mathew sedang mengelabuinya agar ia tak menemui Sakura segera.
Terbukti di malam hari, Mathew menghubungi Sakura di apartemennya.
“Jadi… dia pria yang kau maksud Van?”
“Ya. dia teman masa SMA-ku yang selalu kuceritakan.”
“Damn… kau tak pernah bilang dia Devan. Semua orang tahu dia. Dia orang terkenal Van. Dan namamu… Sakura? Benarkah? sejak kapan?”
“Aku tak bisa cerita detailnya Mat. Masa lalu tetaplah masa lalu, sesuatu yang rumit yang membuatmu berpikir kenapa hal itu bisa terjadi.”
“Ah… benar. Tetapi kenapa, kenapa kau tak mau bertemu dengannya lagi? sampai ternyata kau mengubah identitasmu?”
Sakura atau sekarang yang telah jadi Vanessa memang sering bercerita pada Mathew. Vanessa pernah bercerita kalau ia pernah dekat dengan laki-laki. Dan ia juga bercerita kalau laki-laki itu membuatnya hidup lebih baik. Walaupun tak berakhir baik. Banyak hal yang Vanessa ceritakan sampai Mathew berani menutup mulutnya pada Devan. Sakura dan Mathew telah berteman hampir dua tahun lalu.
“Pastikan dia menjauh dariku Mat. Kalau dia tahu aku pelayan bar, aku tak tahu apa yang akan terjadi.”
“Kurasa itu bukan masalah besar. kau tahu Van, Devan benar-benar mencintaimu. Dia sampai bilang kalau dia selalu memikirkanmu. Apa itu tidak cukup? Dia bahkan rela mencarimu sampai ke Ottawa.”
“Ottawa?”
“Ya. Jadi kurasa mau kau jadi pelayan bar, itu bukan masalah besar. Lagi pun kau punya alasan untuk itu. Kau hanya ingin mengumpulkan biaya untuk kuliah dan yang paling penting kau Cuma melayani mereka dengan mengisi gelas bir. Kau tak pernah menjual tubuhmu.”
Hening.
Sakura mulai berpikir kalau yang dikatakan Mathew benar. Lagipun Sakura tahu betul siapa Devan. Dia pria yang tak peduli dengan latar belakangmu, dan kalau kau baik dia akan baik juga.
“Sayangnya bukan itu masalahnya Mat. Kau tahu betul seberapa terkenalnya Devan di negeri asal kita. Kalau aku hadir dan media menyoroti lalu mengulik kalau aku pernah jadi pelayan di bar, karir Devan akan langsung hancur. Devan selalu bilang kalau akulah alasan ia dicintai banyak orang, tetapi kalau hal seperti itu terjadi aku juga bisa membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya dan dibenci banyak orang. Padahal akan lebih baik kalau ia tidak dikenal siapa-siapa dan tetap berdiri di atas tanah daripada kuajak dia terbang tinggi dan aku juga yang menghempaskannya ke dasar jurang.”
Mathew terdiam di seberang sana. Dia pasti tak tahu harus berkata apalagi.
“Jadi bagaimana menurutmu Mat.”
Mathew tersenyum, sepertinya ia menemukan jawaban. “Bagaimana kalau Devan tidak peduli dengan mereka?”
Sakura menggeleng. “Tetapi aku merasa bersalah Mat.”
“Masalah, kenapa?”
“Kau dengan mudah berkata seperti itu Mat, karena kau bukan aku.”
Sakura kesal, dia memutuskan panggilannya dengan Mathew, baginya Mathew hanya berbual.
Sementara itu Devan berbicara dengan Andi tentang Mathew.
“Sudah kubilang Dev, jangan percaya pada siapapun. Kau tahu, semua orang yang manipulative pintar cari muka. Tetapi di akhir kau akan menyesal. Jangan percaya apapun padanya termasuk tentang Sakura,” kata Andi di seberang sana.
“Semoga saja… tetapi dia benar-benar baik.”
Andi menepuk jidat saking jengkelnya. “Kau benar-benar polos. Tunggu sampai aku tiba di sana dan kuungkap semua sifat asli dari pria bernama Mathew itu.”
“Dia baik. Kau yang terlalu serius Andi. Dia sering ke apartemenku. Kalau dia mau, dataku sudah tersebar ke penggemar.”
“b**o. Belum sekarang, dia pasti mencari yang lebih. Perhatikan gerak-geriknya.”
Toktoktok….
“Dia datang…” kata Devan.
“Jangan buka pintunya,” pinta Andi. Tetapi Devan mematikan hubungan, tak menggubris. Dia menghampiri pintu dan benar, Mathew. Siapa pula yang datang ke apartemen Devan selain dia.
Mathew membawa makanan lagi. dan Devan menghela napas lega karena itu bukan rendang atau iga sapi. Melainkan ramen.
“Kau mau, pasti. Siapkan amngkuk cepat. Aku tak sabar nonton Harry Potter terakhir.”
Devan mengangguk, antusias berjalan ke dapur dan menyiapkan mangkuk serta sendok. Lalu menaruhnya di meja, kuah ramen mengudara mengundang lapar mereka berdua.
“Omong-omong besok kita cari Sakura dimana lagi?” tanya Devan.
Mathew tertawa tertahan. “Kau benar-benar tak bisa melupakannya Dev?”
Devan mengernyit. “Maksudnya?”
“Kita baru mencarinya hari ini, dan kau ingin mencarinya lagi besok?”
“Tentu saja. Tujuanku datang kesini cuma karena Sakura. Kalau bukan karena dia, kurasa lebih baik aku pergi saja.”
Devan mulai curiga. Apakah yang dikatakan Andi tentang Mathew benar. Tetapi Devan menggeleng, pikirnya itu Cuma perasaannya saja. Mathew tetap orang yang sama.
“Kita akan cari besok,” kata Mathew.
Devan tersenyum. “Dimana?”
“Ada banyak apartemen di Timur Toronto.”
“Di tepi kota lagi?”
Mathew mengangguk. “Kita harus cari dia di tempat-tempat dimana bunga berada. Kau bilang Sakura suka bunga, kan? Di Timur kota ini ada penjual bunga terkenal.”
Devan mengangguk.
Malam itu mereka menyelesaikan movie, kemudian makan ramen dan setelah ngemil popcorn. Tak ada yang bisa Devan lakukan labih selain berharap dan menunggu waktu.