DAY 8 IN CANADA

1605 Kata
DEVAN POV : Pagi yang cerah. Mama meneleponku seperti biasa. Dia bilang suasana terkendali aman. Orang-orang bertanya kapan aku kembali, mama selalu bilang secepat mungkin. Hahaha itu membuatku tertawa, karena aku sendiri tak tahu kapan aku akan kembali. Sampai aku menemui Sakura. Pagi ini cuaca cukup dingin, aku membuka tirai. Cuaca di luar semakin dingin, kunyalakan perapian di sudut. Memasak ramen dan kemudian menikmatinya di depan televisi. Sembari berpikir bagaimana caranya menemukan Sakura. Tim yang mama sewa masih mencari. Ada ribuan orang di Kanada yang bernama Sakura dan itu akan menyulitkan mereka. Walaupun mereka telah diberi foto, namun dua hari ini belum ada jawaban. Saat mama bilang mereka tim andal, itu membuatku ragu seperti apakah itu benar? Atau mereka benar? Kalau mereka memang hebat, aku jadi semakin takut kalau Sakura benar-benar menghilang dan meninggalkanku. Maka satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah menunggu. Mereka saja tak bisa. Kalau aku berusaha mencari, aku akan terlihat seperti kancil tak berdaya di tengah hutan. Sementara para harimau telah mencari mangsa. Ramen adalah makanan favoritku saat musim dingin. Enak dan menghangatkan. Jujur, akir-akhir ini aku suka makanan berkuah. Tetapi bukan yang padat macam yang dikirim Mathew. Rendang dan iga sapi membuatku sedikit eneg. Aku sejujurnya tak suka daging-dagingan, tetapi bukan pula vegetarian. Hanya ingin menikmati makanan yang ringan lagi menghangatkan. Aku menonton film Harry Potter 6. Baru kali ini Mathew tidak menemaniku. Katanya dia ke kampusnya untuk mengurus berkas penting. Aku tak tahu apa, tetapi itu pasti sesuatu yang sangat penting. Karena aku tahu betul di Mathew, dia jarang ke kampus kecuali benar-benar penting. Semalam, ia bercerita kalau biasanya yang memberikan kotak rekaman kepada temannya dan pulang kembali ke apartemen untuk tidur. Jadi mungkin dia ada ujian. Pukul berapa sekarang? Film Harry Potter berakhir. Aku melihat jam. Sepertinya ini waktu yang baik untuk keluar. Orang-orang di luar sana menikmati salju seperti biasa di taman kota. Aku suka view apartemen ini. Kita bisa melihat taman di bawah sana setiap pagi. Pemandangan yang akan dilihat adalah orang-orang yang tertawa riang. Tetapi saat malam, biasanya aka nada satu-dua orang yang tersungkur di jalan dengan jalan seperti puyeng hingga akhirnya terjatuh. Hingga para polisi penjaga malam mengamankan mereka. Itulah mengapa kota ini disebut kota aman dan ramah bahkan kepada orang-orang mabuk sekali pun. Setelah memakai jas, kaos kaki dan juga sepatu boot, aku berjalan keluar. Menghirup napas lega. Aku sudah berbeda. Tak seperti saat pertama kali datang. Dipenuhi rasa khawatir kalau-kalau tiba-tiba ada penggemar atau siapapun yang memotretku. Aku takut akan itu. tetapi lihatlah aku sekarang, aku benar-benar bebas. Kurasa mereka benar-benar tak bisa menjangkau negeri ini. Semoga saja semuanya aman sampai aku berhasil menemui Sakura. Anak-anak bermain dengan riang, beserta sekop pasirnya. Sementara aku terduduk di bangku taman, menyaksikan itu sambil tersenyum tipis. Tetapi senyum itu surut ketika kulihat dua orang di seberang sana sedang duduk berduaan mengenakan seragam sekolah. Aku kembali bernostalgia. Mereka persis seperti aku dan Sakura, yang pernah bolos belajar hanya karena pergi ke taman. Sampai semuanya berakhir karena penyakit. Aku tahu semuanya hari itu. aku tahu lebih awal kalau aku dan Sakura akan berakhir. Awalnya aku menemani Sakura hanya karena kasihan, tetapi makin lama aku merasa makin tak mau kehilangannya. Hingga akhirnya waktu perpisahan kami tiba. Benar-benar tiba-tiba. Hanya 21 hari. Itu waktu yang sebentar namun terasa seperti kami menghabiskannya sepanjang tahun. Telah kubawa ia ke rooftop, pasar malam, sampai ke rumah pohon. Kalau kutahu ia sepenting itu, aku ingin mengenalnya lebih cepat. Dia telah jadi ketua kelas selama dua semester dan kami baru dekat selama dua puluh satu hari itu. Padahal sebelum itu, yang kukenal hanyalah Sakura, ketua kelas cerewet yang mngabaikanku. Sejujurnya, dia juga terabaikan. Tak ada yang suka hidupnya diatur-atur, padahal Sakura hanya ingin menjalankan tanggung jawabnya. Itulah alasan kenapa dia dipilih jadi ketua kelas adalah karena dia Wanita yang bertanggung jawab. Aku berdiri, berjalan menghindari dua anak remaja di seberang sana yang semakin tertawa lepas, semakin romantis dan membuatku semakin tak nyaman. Aku yakin mereka juga bolos sekolah. “Aduh!” Aku terjatuh, gara-gara sebuah buku. Kuraih buku itu. di sana tertulis “Mas Alla del Invierno”. Karena pernah belajar bahas Spanyol, aku jadi tahu artinya. Di Tengah Musim Dingin. Bukan hanya tahu arti, aku juga tahu buku ini. Buku yang ditulis oleh penulis ternama Isabel Allende. Isabel Allende Llona adalah seorang pengarang Chili yang buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Allende adalah salah satu novelis paling terkenal di dunia sekarang ini, dan buku-bukunya telah lebih dari 35 juta kopi yang terjual dan diterjemahkan ke dalam 27 bahasa. Bear-benar penulis yang luar biasa. Aku pindah ke kursi taman yang mebghadap ke Utara. Ini lebih baik, ketimbang menyaksikan pemandangan yang membuatku semakin sakit karena bernostalgia akan hal-hal indah. Saat kita memiliki kenangan buruk, kita akan bersyukur sekarang karena itu telah berlalu. Tetapi jika itu kenangan baik, kita tak ingin mengingatnya juga karena itu membuat kita sakit karena tak bisa merasakannya kembali. Ingin mengulang waktu yang kuasanya sudah di luar jangkauan kita. Hening. Sakura merasuki pikiranku, juga perempuan di Bar hari itu. Apakah aku harus kembali ke bar itu untuk memastikan kalau aku benar-benar hanya berimajinasi? Ponselku berdering. Rupanya dari Mathew. Aku mengangkatnya. “Ada apa Mat?” tanyaku. “Pelajaranku selesai. Mau kubawa ke tempat indah?” Aku mengernyit. “Tidak.” “Hahaha… bukan lagi galeri seni. Ini tempat menyenangkan.” “Baiklah,” kataku pasrah. Daripada harus tinggal di rumah dan berputar-putar tidak jelas di taman ini. Mathew datang menjemputku lima belas menit kemudian. Dia membuka pintu taksi seraya tersenyum. “Kau tak bosan-bosan bermain di taman itu?” celotehnya saat aku baru saja masuk dan taksi telah berjalan. “Tak ada tempat lain,” kataku. “Ah kalau begitu tak salah aku mengajakmu. Kita akan melihat ikan-ikan.” “Ikan-ikan?” tanyaku kebingugan. Kukira Mathew akan membawaku ke tepian laut, sepanjang jalan aku telah berceloteh bahwa air laut sedang dingin sekarang. Tetapi ternyata bukan laut, pria ini membawaku ke Ripleys Aquarium of Canada. Ripleys Aquarium of Canada adalah akuarium umum di Toronto, Ontario, Kanada. Akuarium ini adalah salah satu dari tiga akuarium yang dimiliki dan dioperasikan oleh Ripley Entertainment. Terletak di pusat kota Toronto, tepat di sebelah tenggara Menara CN. Menara CN adalah menara yang kukunjungi hari itu. Aku tak tahu kalau ada pusat akuarium di sebelah Tenggaranya. Mathew menikmati mengambil gambar. Aku menyaksikan ikan-ikan. Ini memang bukan galeri seni, tetapi mirip. Namun aku bersyukur karena ini setidaknya lebih baik daripada galeri seni. “Tugas?” tanyaku pada Mathew, yang terlihat fokus men-shoot ikan berwarna kuning dengan garis-garis biru tua. Mathew mengangguk. Dia terlihat fokus tak ingin diganggu. Aku mengangguk membiarkannya fokus sementara aku melihat ikan badut raksasa seukuran tiga telapak tangan orang dewasa. Aku tersenyum, tempat ini lebih baik dari galeri seni dan lebih daripada taman kota dengan sepasang kekasih remaja yang b******u mesra di tempat umum yang membuat siapapun muak. “Bagaimana dengan Sakura? Kau sudah temukan identitasnya?” tanya Mathew dengan kamera yang masih di genggamannya. Men-shoot ikan lain. “Belum,” jawabku. Sekarang jadi tak selera karena kembali memikirkan Sakura. Saking rindunya, itu jadi seperti beban. “Kau sudah sewa tim penyelidik?” “Ya.” “Kalau begitu tak perlu terlalu memikirkannya. Biarkan tim penyelidik itu bekerja. Mereka pasti tahu cara terbaik.” Aku menangguk. “Tetapi bagaimana kalau itu tak berhasil?” Mathew menoleh menatapku. “Maka perempuan itu benar-benar telah mati…atau dia mengganti identitasnya.” Jawaban realistis lagi nyelekit. “Ayolah Dev. Kau harus kembali kepada kehidupan nyatamu. Sampai kapan kau akan terus bergantung pada perempuan itu? sampai mati? Kurasa kau sudah gila. Ayolah Dev, jika kau berusaha dan hasilnya nihil maka lepaskannya saja.” Lepaskan saja. Rasa-rasanya itu terdengar seperti hal yang mustahil. Aku tetapi harus berusaha sebelum menyerah. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskannya begitu saja? Sudah beberapa tahun berlalu dan tak ada satu hari pun aku tak mengingatnya. Sakura menghantui pikiranku. “Kau tak tahu bagaimana rasanya Mat…” kataku, yang keluar dari mulut begitu saja. “Ya, dan aku tak mau tahu… makanya aku tak mau terlalu dekat dengan orang lain, aku takut rindu.” Mataku terbelalak, kulangkahkan tubuhku sedikit menjauh dari Mathew, sementara Mathew langsung tertawa lepas. “Hahahaha… maksudku bukan begitu. Aku Cuma bilang tak ingin terlalu mencintai sesuatu. Karena semua tahu perpisahan akan terjadi. Kau tahu Dev… pertemuan adalah hal yang tidak diinginkan ketika perpisahan terjadi. Bagaimana kalau hari itu kau tak bertemu dan mengenal Sakura. Kau tak akan jadi seperti sekarang.” Aku menggeleng. “Kau salah Mat. Justru karena itu, Sakura telah menyelamatkan hidupku. Kau tahu dulu aku pria seperti apa? Benci akan segalanya, bolos dan pergi ke rooftop sekolah setelah jam pelajaran dan mungkin sekarang aku telah menghilang karena mengakhiri hidupku yang malang. Bahkan orang tuaku akur itu semua berkat Sakura. Sakura telah menyelamatkan separuh hdiupku. Dia.. perempuan itu benar-benar membuat hidupku berubah. Jadi tak ada alasan aku tak merindukan dan tak mencarinya.” Mathew terdiam. Sepertinya dia tak punya lagi jawaban untuk membalas pernyataanku. Dia men-shoot ikan-ikan lain di akuarium lain. “Aku akan mencoba membantumu.” Aku tersenyum. Bukan karena dia ingin membantu, tetapi karena itu berarti dia menerima apa yanga kukatakan barusan. Dan itu berarti aku benar, kalau harus mencari dan hal wajar kalau aku merindukan Sakura berlebihan. Aku tidak gila intinya. “Bisa kau tunjukkan foto perempuan bernama Sakura itu?” tanya Mathew. Aku mengangguk. Mengeluarkan secarik foto dari dompet. Kujulurkan foto itu. Mathew mengambilnya. Hening. Dia memandang foto Sakura lamat. “Ada apa… k-kau tahu?!” tanyaku antusias. Mathew menggeleng. “Tidak. Dia… cantik.” Aku mengangguk, dengan senyum tipis bangga. “Aku tahu.” Terdengar seperti seorang kekasih yang bangga akan pasangannya. Padahal aku dan Sakura hanyalah teman.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN