DAY 7 IN CANADA

1110 Kata
AUTHOR POV : Perempuan berhodie merah muda terlihat melamun di kafe sudut jalan di dinginnya pagi. Dia terlihat kebingungan, sesekali memandang layar ponsel yang berisikan foto pria yang ia temui semalam. Pria yang membawanya pada kehidupan masa lalu. Masa dimana dia benar-benar merasa bahagia dan sekarang ia tinggal seorang diri. Perempuan itu bangkit dari duduknya. Kemudian menuju ke kasir. “Gratis untukku, kan mister Bougar,” katanya dalam bahasa Inggris aksen Kanada yang khas. Ia tertawa kecil sebelum mengeluarkan uang dari dompetnya. Pria yang dipanggil mister Bougart tertawa kecil sebelum meraih uang itu. “Gratis kalau kau mau kerja di sini lagi Vanessa.” “Ah tidak, aku tidak bisa. Aku sudah mau jadi orang kaya sekarang hahaha…” “Hahaha…. Terserah kau Van. Omong-omong mau kemana kau pagi-pagi buta begini?” “Pagi buta? Ini sudah pukul sepuluh.” “Ya, tetapi orang-orang lebih memilih tinggal di dalam rumah dengan perapian ketimbang berjalan tidak jelas seperti ini.” Vanessa tertawa hingga akhirnya perempuan itu melangkahkan kakinya keluar. Ditatapnya jalanan yang sepi, menyeberang dan menaiki bus kota operasi awal hari ini. Dia memandang langit, salju turun seperti biasa, pemandangan kota kembali sepi setelah kemarin es mencair. Orang-orang nampak sibuk mencari makan di market-market. Vanessa berharap satu hal. Semoga saja hari ini tak turun badai salju. Atau dia akan mati membeku. “Kenapa kau kemari Devan. Apa kau masih mencariku?” Vanessa adalah Sakura yang sebenarnya. Perempuan itu mengubah identitasnya dengan tujuan untuk menghapus semua kenangan masa lalunya termasuk Devan. Dia jelas tahu siapa Devan sekarang. Pria yang popularitasnya terkenal seantero negeri. Sakura merasa tak pantas berada di sisi Devan sekarang. Apalagi kalau pria itu tahu siapa sosok Sakura yang kini telah jadi Vanessa. Saat Sakura adalah perempuan lugu yang suka belajar, Vanessa adala perempuan yang menghabiskan harinya di club malam. Menuangkan wine di gelas tiap pria berhidung belang. Walaupun sejujurnya Vanessa tak pernah menjual tubuhnya pada mereka. Tetapi tetap saja, pekerjaan itu bukan pekerjaan yang cocok untuk jadi teman selebriti terkenal seantero negeri. Kalau media meliput bahwa Devan berteman dengan seorang penuang wine, apalah kata orang-orang. Karir Devan bisa hancur. Maka salah satu hal yang bisa dilakukan Sakura adalah menunggu waktu sampai Devan mengira Sakura benar-benar telah tiada. Ada banyak pekerjaan lain yang bisa Vanessa lakukan, dan lebih baik seperti jadi barista di kafe mister Bougart. Tetapi Vanessa tidak bisa, karena itu tidak cukup untuk membiayai hidupnya. Sakura punya cita-cita besar yang belum ia wujudkan dan biaya untuk mencapai cita-cita itu tidak sedikit. Jadi salah satu hal yang bisa ia lakukan adalah menjadi pelayan di bar. Tempat itu benar-benar tempat untuk menghabiskan… ah lebih tepatnya menghamburkan uang bagi mereka yang kelebihan uang. Vanessa bisa mengira-ngira kalau dia hanya butuh waktu dua tahun bekerja di sana untuk bisa menggapai cita-citanya. Mobil bus berhenti. Vanessa turun dan ia masuk ke sebuah pemakaman dengan kuburan-kuburan yang tertutupi salju. Ia berjalan ke kuburan paling sudut belakang. Kuburan mamanya yang meninggal karena penyakit jantung. Orang-orang di negeri asal Vanessa mungkin mengira kalau Vanessa lah yang meninggal, tetapi nyatanya tidak. Vanessa sembuh dari sakitnya dan sebulan setelah itu mamanya malah yang terkena penyakit. Maka bisa diambil kesimpulan kalau umur tiada yang tahu. Semua orang bisa mati kapanpun, semua orang yang sakit bisa sembuh, orang yang sehat bisa tiba-tiba sakit dan mati, orang yang sehat dan tidak sakit bisa tiba-tiba mati seperti orang-orang kecelakaan atau terkena badai salju di luaran sana. Tak ada yang tahu. Vanessa menatap nisan lamat. Ia menangis. Ini adalah rutinitas Sakura setelah jadi Vanessa. Datang ke makan ibunya setiap hari selasa. Di siang hari Vanessa biasa memilih tidur dan bangun saat hari petang untuk bekerja. Dan semalam ia bertemu dengan orang dari masa lalunya. Devan. Itu jelas membuat Vanessa bertanya-tanya. Bukan kenapa Devan bisa ada di Kanada. Tidak. Vanessa sudah bisa menduga soal itu, karena media yang memberitakan ini dari negeri asalnya mencuat. Kalau Devan menghilang dan memilih hiatus. Tetapi yang membuat Vanessa terkejut adalah kenapa Devan bisa ada di club malam? Vanessa saat ia jadi Sakura tahu kalau senakal-nakalnya Devan, ia jarang pergi ke club malam. Karena Devan tak terlalu suka keramaian dengan lampu jedak-jeduk. Walaupun Sakura juga tahu kalau Devan adalah seorang perokok. Tetapi minuman alkohon, club malam dan sebatang rokok itu sedikit berbeda dengan dampak yang berbeda pula. “Ma, aku menemui Devan semalam. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Vanessa pada nisan yang di atasnya penuh salju. Jelas tak ada jawaban, Vanessa hanya bisa berharap semoga saja Devan pergi. Pergi jauh dari kehidupannya dan melanjutkan karirnya yang bersinar. “Kenapa dia mencariku lagi Ma? Mama pikir bagaimana? Padahal karirnya gemilang. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku perlu menyapanya dan mengusirnya dari hidupku atau membiarkannya mencariku sampai dia kapok. Tetapi aku yakin dia akan menyewa tim pengintai untuk mencari tahu identitasku, walaupun itu tidak akan berhasil.” Sakura keluar dari sana, ia tak punya waktu berlama-lama. Dia harus tidur siang sebelum kembali bekerja di malam hari. Sementara itu, Devan baru terbangun. Kepalanya terasa pening, padahal dia sama sekali tak mabuk semalam. Berjalanlah ia ke ruang tengah, ditemukannya Mathew yang terbaring di lantai. Padahal seingat Devan, ia memapah Mathew dan menaruh pria itu di kursi. Tetapi lihatlah pria itu sekarang. Benar-benar mengejutkan. Devan membuat the hijau di dapur. Sembari menguap. Dia melamun sejenak, kembali memikirkan perempuan yang ia temui semalam. Perempuan yang membuatnya yakin dia adalah Sakura. Atau itu hanya halusinasi Devan saja. “Kau sudah bangun.” Devan terlonjak. Mathew telah terbangun dari tidur panjangnya, dengan mata lesu yang hitam. Dengan wajah yang kebingungan dan terjatuh di kursi. Efek mabuk pasti masih terasa. “Kau buat the hijau?” tanyanya. Devan mengangguk. Menyodorkan segelas the hijau yang baru saja diseduhnya kepada Mathew. “Ini akan membuatmu lebih baik.” “Terima kasih,” mMathew mengambil minuman itu. sialnya, dia langsung menyeruputnya membuatnya memuntahkan karena panas. Devan tertawa terbahak. “Pelan-pelan minumnya.” Mathew mengangguk. Mereka berdua duduk kembali di depan televisi. Menyaksikan film Harry Potter keenam yang tayang. “Kita pulang jam berapa semalam?” tanya Mathew. “Aku tak melihat jam. Tetapi kurasa itu sangat larut.” Mathew ber-hmm. “Omong-omong, bagaimana kau pulang dalam keadaan mabuk seperti itu?” tanya Devan. Mathew tertawa. “Aku punya teman. Namanya Vanessa. Dia pelayang bar yang senantiasa memesankanku taksi di depan bar tiap malam. Dia perempuan yang tulus dan melakukannya dengan ikhlas, kecuali dengan pelanggan lain.” “Vanessa?” “Ya. nama yang bagus bukan? Dia juga orang Indonesia loh.” Devan ber-hmm, menyeruput teh hijaunya dan lanjut menonton. Dia tak mau tahu siapa itu Vanessa, tetapi kalau dia tahu, dia akan tercengang. Itulah sosok yang ia cari selama beberapa tahun terakhir. Semuanya akan berakhir kalau saja ia tahu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN