DAY 6 IN CANADA

1539 Kata
Ajaib. Es mencair. Suhu naik hari ini. Semoga peruntungan yang besar. aku pergi ke Geringen Elemetary School yang terletak di bagian Barat kota Ottawa. Dengan penuh harap aku menyusuri jalan, memesan taksi dan kembali mengamati jalanan kota. Ponselku tiba-tiba berdering. Rupanya dari Andi. “Kau baik-baik saja kan?” “Tumben bertanya, ada apa?” tanyaku. “Tidak. Cuma mau bilang minta maaf. Sepertinya aku akan menyusul agak telat, karena ada sedikit pengunduran pengumuman.” “Ya, tidak masalah. Aku lagi di Ottawa sekarang.” “Ottawa? Bukannya Sakura ada di Toronto?” “Entahlah.” Andi baru akan menjawab tetapi kami segera mengakhiri percakapan. Di pasti sedang sibuk sekarang. Aku mendengar seseorang memanggilnya. Dia pasti sangat sibuk. Waktu membuat kami jadi lebih dewasa, padahal kalau dipikir-pikir lagi dulu kami berdua hanya ingin jadi batu saja, yang memandang langit sepanjang hari. Ottawa jalanannya dipenuhi orang yang nampak sibuk, cuaca mulai membaik dan banyak orang mulai beraktivitas. Masih sama seperti Toronto. Aku pergi ke tempatu tujuan. Di sana ada banyak murid berseragam merah marun. Tawa-tawa anak kecil mengudara dan aku mulai bertanya di ruang guru tentang guru bernama Sakura. Dan perempuan itu ternyata ada di sana. Mataku berbinar memandangnya dari belakang. Atiku merasa yakin, otakku juga ingat betul uraian rambut itu. Tetapi saat ia berbalik, wajahku langsung surut. Bukan, rupanya bukan Sakura yang kucari. Aku menghela napas berat. Hari ini aku benar-benar putus asa. Petunjuk apalagi yang harus kucari? Sepertinya jalan buntu. Dan bagaimana dengan hari ini? Healing kembali. Jarak 450-an kilometer tak akan kubuat sia-sia. Aku berjalan kembali menyusuri jalan masih dengan taksi. Dengan penuh harapan aku membuka social media kembali. Dalam perjalanan menuju ke berbagai tempat wisata di Ottawa. Tempat wisata yang kukunjungi adalah Kanal Rideau. Perairan yang menghubungkan Ottawa engan Kingston. Tempat yang sangat indah dengan kastil nun jauh di sana. Aku tak punya waktu berlama-lama di kota ini. Aku memutuskan pulang kembali ke Toronto dan sampai di sana sekitar dua siang. Mathew langsung menemuiku dan dia mengajakku ke sebuah tempat nanti malam. "Omong-omong, Ottawa daerah yang cukupjauh dan kau pergi kesana dalam sehari. Kau pasti mencari seseorang, kan?" Akhirnya aku jujur pada pria dihadapanku kalau aku mencari perempuan bernama Sakura. Teman SMA-ku yang menghilang entah kemana.  "Namanya sangat umum. Tetapi kalau di Kanada masih banyak kemungkinan untuk mencarinya. Kau tak mau melacak keberadaannya dengan tim khusus?"  Solusi yang sama seperti yang diberikan mama. Kurasa solusi itu tidak buruk, ditambah lagi aku takounya cara selain itu. Benar-benar buntu. Apalagi di Toronto ada sekitar 2,3 juta orang yang hidup. Bagaimana cara mencarinya dengan mudah? Ini pasti jadi hal yang sulit.  "Akan kucoba," kataku pasrah.  Mathew tersenyum, seperti senang usulannya diterima. "Kalau begitu kau bisa melupakannya sejenak dan menikmati hari ini. Berlarut-larut dalam kesedihan bukan hal yang bagus Dev. Lagipun aku percaya dia pasti akan kembali cepat atau lambat." Pernyataan itu membuatku sedikit lebih baik. Aku menyeruput green tea di apartemen Mathew. Tempatnya terbilang nyaman. Di dapur ada banyak botol bir yang punya bentuk botol berbeda-beda, warna berbeda-beda dan tentu saja rasanya berbeda.  "Kau pengoleksi botol bir?"  "Iya. Dari dulu," katanya. "Kau tahu, kalau aku pulang ke rumah. Aku tak akan bisa minum di rumah, atau mereka akan melempariku dengan alas kaki. Jadi itulah aldan aku memilih pergi. Hidup bebas, tak ada yang mengatur." "Tetapi kalau mereka marah, mereka bisa saja memblokir atm-mu Mat." "Tidak masalah," katanya enteng. "Lagi pun, aku punya banyak tabungan. Kalau untuk makan, dan diri sendiri, banyak hal yang bisa dikerjakan di sini Dev. Lagi pun apa yang dicari di dunia. Semua orang juga pada akhirnya akan mati." Tanggapan yang cukup klise.  "... Tetapi sampi sekarang, sebencinya pun mereka. Mereka tetap memberiku uang bulanan walau tak sebanyak kakakku yang menjadi pemilik perusaahn berikutnya atau adikku yabg bahkan baru menginjak bangku SMP. Aku dibuang jauh, tapi diikat dengan tali. Kalau penggemarmu bisa mebgintaimu dengan tim intelijen mereka, orang tuaku pun sama. Tetapi sayang tim intelijen utu kurang cekatan, jadi aku bisa menyadari keberaan mereka dimana-mana." "Caranya?" "Insting." Mathew tertawa kecil, dia mengambil sebatang rokok dari sakunya. "Mereka berusaha tak terlihat mencolok padahal itulah yang membuat mereka mencolok. Kau tahu Dev, kadangkala orang membuat sesuatu yang rumit namun sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang sederhana, aku jelas curiga." Dari sinilah, aku bisa menduga kalau Mathew bukan orang sembarangan. Dia anak yang cerdas. Dia bahkan tahu aku hanya dengan mata.  "Apa kesukaan Sakura?" tanya Mathew tiba-tiba.  "Dia suka bunga dan fotografi."  "Kau bisa mencarinya dengan dua hal itu." Aku mengernyit tak paham. "Kau bisa mencari di sekitaran toko bunga atau memantau di tempat-tempat terindah di Toronto. Dia mungkin ada di sana." Aku menggeleng. Terdengar masuk akal, tetapi rasanya mustahil. Melihat kebingunganku, Mathew tertawa kecil. "Orang-orang tak bisa jauh dari hal yang ia sukai Dev. Kalau pun ia jauh, dia akan berusaha mencari dan mendekat. Sakura pun begitu, dia suka bunga jadi tak akan mungkin tinggal di kutub utara." Aku tertawa. "Siapa pun tak akan mungkin tinggal di kutub Utara Mat." Mathew ikut tertawa.  Hening.  Apa yang Mathew katakan masuk akal dan semakin masuk akal.  _ Malam harinya salju turun lagi. Membasahi jalanan, tetapi itu bukan penghalang bagi Mathew untuk mengajakku pergi. Kami pergi ke café, tak jauh dari apartemen. Bukan café, tetapi lebih tetapnya bar atau klub malam. Kalau tahu, aku bisa menolak dan cari-cari alasan. Bukan karena tak suka dengan minuman keras di dalamnya, tetapi aku benar-benar tak suka keramaian, lampu redap-redup yang menyakitkan mata. Membuatku semakin gugup. Saat pertama kali bertemu Mathew, kukira dia anak yang lugu. Tetapi lihatlah dia sekarang, dia benar-benar yang paling menikmati momen ini. Botol-botol bir berserakan di meja-meja, orang-orang berteriak dan musik semakin kencang bergema di sudut ruangan. Walau begitu, kudengar jelas Mathew memanggil-manggil namaku, menyuruhku untuk ikut berbaur. Tetapi bagaimana mungkin, rasa cemas malah menghampiriku. Orang-orang akan mengira kalau aku benar-benar mencurigakan. Ini kali pertama seumur hidup aku pergi ke tempat seperti ini. Kalau mama tahu dia akan mengomeliku, bukan karena tempat ini. Tetapi karena keamanan. Bagaimana mungkin disebut aman, orang-orang bisa mencurigaiku. Kuharap tak ada orang di negeriku yang melihatku seperti ini atau berita akan menyebar dan semuanya malah jadi petaka. Padahal tujuan awalku memilih negara ini untuk heling adalah mencari Sakura. Aku naik ke lantai dua. Kukatakan pada Mathew kalau aku ingin mencari tempat yang tenang, di sini benar-benar berisik. Harusnya aku jujur saja ingin pulang. Tetapi bagaimana mungkin aku meninggalkan Mathew sendirian yang mengajakku. Ini semua juga salahnya sih. Harusnya dia tak mengajakku. Aku diam cukup lama. Sebelum akhirnya mengambil keputusan itu. Melewati kerumunan orang-orang yang terus bergoyang. Para Wanita pemanggil mulai mengedipkan matanya kepadaku. Aku sungguh tak tertarik. Di lantai dua masih ada orang, tetapi setidaknya sepi. Hanya ada sepasang kekasi di pojokan sana, aku tak akan menyebut mereka melakukan apa, tetapi yang pasti bukan sesuatu yang baik. Kubuka ponselku dan tiba-tiba ada sosok bertudung hitam menyambarku, dan mulai terdengar samar di telinga ia berbisik. “Lama tak bertemu Dev.” Mataku membulat. Suara itu…. Sakura? Aku turun tangga mengejar sosok itu, namun dia sudah tenggelam dalam kerumunan. Kudapati ia di pintu keluar dan aku membuntutinya sampai sana. Sampai kusadari kalau dia benar-benar menghilang. Aku kehilangan arah. Bingung, kesal, marah, kecewa juga sedikit senang bercampur aduk. Aku tidak salah, kan? Apa aku Cuma berhalusinasi tadi? Itu kalimat yang benar-benar kudengar dari mulutnya. Dia menyebut namaku. Malam itu, aku akhirnya pulang bersama Mathew yang kubopong naik ke taksi. Aku sempat berpikir kalau dalam keadaan seperti ini, sebelum akua da apa yang Mathew lakukan ketika mabuk berat. Kupandang ia sekali lagi, terbaring. Dia benar-benar tak berdaya. Bagaimana mungkin bisa memesan taksi sendirian untuk pulang. Lampu kota di malam hari mulai bersinar remang. Orang-orang berlalu lalang di dinginnya salju. Walaupun aku baru saja mengunjungi tempat yang dipenuhi ornang mabuk, namun perlu diakui kalau Toronto adalah salah satu dari banyak kota teraman di dunia. Kurangnya kekerasan di Toronto membuat kota ini layak diberi julukan demikian. Malam semakun larut. Kupapah Mathew naik dari lantai satu apartemen. Di lift, aku berbicara pada seorang perempuan paruh baya yang berceloteh kehilangan kucing putihnya hari ini. “Padahal dia kucing yang manis. Aku bisa membeli kucing lagi, tetapi itu pasti akan berbeda. Karena kucing itu benar-benar manis seperti Sakura.” “Sakura?!” Aku menoleh spontan. “Ya, anjingku.” Aku menghela napas sebal. Bahkan anjing pun diberi nama Sakura. Bagaimana mungkin aku bisa menemukan Sakura yang benar-benar Sakura. Kalau saja namanya Gyuri atau Tingtang, Gobak atau Artyeueuey. Pasti akan sangat mudah menemukannya. Setelah ini, aku bisa memberi saran kepada orang-orang dan bahkan sampai membuat kampanye untuk membuat nama unik kepada anak-anak mereka yang baru saja dilahirkan. Semua ini karena Sakura. Namanya terlalu pasaran. Setibanya di kamar, kubaringkan Mathew. Dia mendengkur cukup keras. Sementara itu, aku sendiri melacak nama-nama kembali di media sosial.  Tiba-tiba mama menelepon. Seperti biasa, dia bertanya tentang keadaanku. Kemudian membahas tentang apa yang terjadi si sana lalu lanjut bertanya bagaimana keadaan Sakura.  Kujawab seperti biasa juga.  Aku baik. Aku belum menemukan Sakura.  Mama memberi tambahan. "Mama sudah menyewa tim intelijen khusus, untuk memantaumu dan juga mencari Sakura. Kau tak perlu sibuk mencarinya Dev. Nikmati saja hari-harimu di sana, kakau kau tak bisa menemukannya. Mereka mungkin bisa." Nikmati saja hari-hariku?  Sementara aku baru saja ke clubbing. Ah maaf Ma, gerutuku dalam hati.  Aku membaringkan badan. Perempuan itu terlintas di benakku sekali lagi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN