12. "Kamu…, sudah menikah?” pertanyaan Hana sejenak membuat Dinda terpaku, otaknya memberi pilihan harus jujur atau bohong. Sepertinya ia faham, ke arah mana pembicaraan Hana. "Belum.” Dinda akhirnya memilih jujur. Orang tua tak mungkin punya niat buruk. Hana tersenyum simpul, "Aku…, punya anak laki-laki, sudah waktunya menikah. Kamu mau kenalan sama dia?" Terangnya blak-blakan. Pertanyaan itu membuat teman-teman Dinda saling melirik, sekuat tenaga mengunci bibirnya, menahan diri agar tak bersorak untuk Dinda, tak di sangka kebaikan hatinya menuntunnya pada pernikahan. “Maaf,” jawab Dinda sambil menunduk sejenak. Ia lalu mengangkat wajahnya, "untuk saat ini, saya belum ada rencana menikah.” jawabnya sopan. Dinda sebenarnya tak keberatan kenalan dengan putra Hana, tapi saat mengin

