‘Kepalaku pusing sekali. Pasti tensiku naik karena pancake beracun itu,’ batin Zidan sembari mengusap tengkuknya. “Sialan! Jangan sampai ini mengganggu aktivitasku, apalagi urusan bisnisku. Mana aku udah janji gak bakal balas perbuatannya. Salahkan aku yang mudah luluh pada Kinar, padahal itu kesempatan besarku untuk membalas perbuatannya,’ ujarnya lagi dalam hatinya. Di pertengahan jalan menuju kota atau lebih tepatnya apartemen Diana, Zidan terus mengusap tengkuknya yang terasa berat dan membuatnya merasa sangat pusing. Hanya saja, ia tidak berani bersuara di depan Kinar langsung. Ia masih menghargai kerja keras Kinar dan janjinya membuatnya tidak bisa melakukan hal lebih. Di sampingnya tentu ada Kinar yang senantiasa fokus melihat ke depan, alih-alih memperhatikan Zidan yang sepert

