Tanah merah itu basah. Renat meratapi gundukan tanah di depannya dengan perasaan tidak karuan. Dia hancur sehancur-hancurnya. Mendung langit yang turut berduka atas perginya seorang berharga yang dimiliki Bumi. Perempuan itu tidak menyangka akan sesingkat ini semuanya. Gemerisik daun bergesekan dengan rintik air hujan yang mulai turun satu-satu menyadarkan orang-orang untuk segera pulang. Tapi Renat enggan beranjak. Renat masih ingin disini. Dia ingin menemani orang terkasih melewati fase tanya jawab bersama sepasang malaikat Munkar-Nakir. Jika saja Renat dapat memutar waktu, jika saja Renat mencegah lelaki itu. Jika, jika, jika, dan selalu diawali dengan jika. Tidak berguna. Karena semua sudah terjadi. "Nama saya Emit Reven Kcab." Renat menoleh ke sebelah, menemukan seorang pria berba

